Beranda

Pengetahuan Semantik

Tinggalkan komentar

Dalam dunia pengajaran anak, guru perlu memberikan pengetahuan semantik. Perkembangan pengetahuan semantik berkaitan erat dengan perkembangan pengetahuan konseptual (Vygotsky, 1962). Pengetahuan semantik merujuk kepada penamaan kata yang merincikan suatu konsep dan juga jaringan semantik atau skemata, yang menunjukkan hubungan timbal balik antarkonsep (Beverly Otto, 2015; 8). Selanjutnya,  mengatakan banwa jaringan semantik untuk memudahkan peserta didik untuk memudahkan pembelajaran baru dan ingatan serta berkonstribusi terhadap pengaturan dan penguaraian terhadap pembelajaran koseptual sebelumnya.

Misal yang dibuat oleh Beverly Otto, bola dalam bentuk bundar yang mempunyai sifat-sifat menggelinding dan memantul dan dapat dipergunakan dalam permainan atau aktifitas fisik lainnya. Dalam mengenal konsep ini, anak-anak belajar bahwa benda dan tindakan dengan ciri atau fungsi yang hampir sama bisa dikelompokkan dalam kategori yang sama atau kategori yang berkaitan. Misalnya, ketika anak mempelajari benda plastik kecil, bundar, dan berwarna merah disebut bola, ia melihat kemiripan ketika ia melihat bola berwarna putih yang digunakan dalam permainan sepak bola dan juga menyebut itu sebagai bola, atau dia bisa berusaha menggelinding di atas lantai. Jaringan semantik atau skema berkembang ketika seseorang melihat hubungan anatarkonsep. Seiring waktu, begitu seorang anak mempunyai pengalaman tentang berbagai jenis bola yang digunakan untuk tujuan yang berbeda-beda, suatu skema tentang bola berkembang.

(Tulisan ini adalah saduran dari Buku Perkembangan Bahasa Pada Anak Usia Dini)

Iklan

Pantun Jenaka Anak Merangin II

Tinggalkan komentar

Siamang bagayut

Ungko menggapai

Siamang bagayut di pangkal dahan

Ungko menggapai di ujung ranting

Usahkan badan menanggung

Mato yang melihatpun sakit

Pantun Jenaka Anak Merangin I

Tinggalkan komentar

Batang pindis duo cupang

Sicupang dimakan api

Nan gadis dua segantang

Nan Jando limo segantang padi

Tali Undang Tambang Teliti

Tinggalkan komentar

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/69/Lambang_Kabupaten_Merangin.pngKata yang tertera dalam lambang Kabupaten Merangin TALI UNDANG TAMBANG TELITI diambil dari Filosofi adat Merangin. Bersumber dari Rotani Yutaka (Bupati Merangin periode I & II 1998-2008) yang sebelumnya diterima dari H. Adnan (alm) Pulau Rengas (tokoh adat Merangin).

Arti TALI

“Nan batampuk ke bukit Gombak, nan batangkai ke gunung Lidang, nan batali ke gunung Lintau”

“Tampuk nan dibilang sigaji Rajo, tangkai nan dibilang tinggal sigaji Batin, tali nan dibilang tinggal sigaji Datuk”

“Pasirah mengapali Margo yang terdiri dari beberapa dusun-dusun, dan setiap dusun dibenarkan untuk membuat peraturan asal tidak bertentangan dengan tampuk, artinyo menurut sepanjang adat membuat pemukatan asal tidak bertentangan dengan Rajo. Demikian pula dalam bernegara, pemerintah daerah dibenarkan membuat peraturan daerah asal tidak bertentangan dan tumpang tindih dengan peraturan yang dibuat oleh pemerintah pusat atau undang-undang yang berlaku di negara Republik Indonesia.”

Arti UNDANG

Undang artinya undang/aturan yang dikundang  (bahasa Merangin adalah dibawa pergi kemana saja), setiap warga harus patuh dan taat pada aturan dan undang yang berlaku di suatu tempat. Istilah adat Merangin “undang melebuh gajah.”

Contoh Undang, sebelum orang mendah di tepian, sebelum orang kehilangan di dusun. Sebelum Enggang lalu, sebelum anting patah.

arti TELITI

Teliti atinya ditelisik, dititi, ditelusuri, dan dicari jawaban atau dibuktikan dengan data epiris (mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit). Istilah adat Merangin “teliti melebuh semut.”

Contoh Teliti, seseorang tertuduh mencuri maka diperlukan pembuktian dengan cara ditelisik, dititi, ditelusuri sehingga benar-benar adanya. Istilah adat Merangin bukti dititi; dikejar lelah, taikat takebat, tertangkap dengan bukti.

Konstribusi Hidden Kurikulum dalam Membangun Krakter Anak Bangsa (Pendekatan Konstruktivism)

Tinggalkan komentar

Pendahuluan

100_5988

Enter a caption

Hidden artinya “tidak tampak/tersembunyi”, hidden kurikulum merupakan kurikulum yang tidak dipelajari dan tidak direncanakan secara terprogram akan tetapi ia memiliki peran dalam membelajarkan peserta didik serta menentukan keberhasilan peserta didik dalam proses pembelajaran (Martin, 1983; 122). Hidden kurikulum suatu kurikulum yang tidak tertulis dan merupakan lawan dari kurikulum formal yang merupakan pengetahuan peserta didik dan mesti dilalui atau diselesaikannya dalam suatu proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Hidden kurikulum banyak berbicara tentang niliai-nilai, norma-norma, kaidah, tata krama, sikap, budaya, kepercayaan, dan aturan-aturan berlaku di tengah masyarakat dan dapat mempengaruhi proses pembelajaran. Kurikulum formal sebagaimana PP Nomor 19 Tahun 2015 yang terdiri dari Standar Isi meliputi ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kompetensi tamatan, penerapannya harus didukung oleh hidden kurikulum, keduanya saling terkait dan tidak terpisahkan untuk mencapai tujuan.

Keberadaan hidden kurikulum melengkapi dan menyempurnakan kurikulum formal serta berfungsi untuk memberikan pengalaman yang mendalam, memberikan kecakapan dan keterampilan dalam kehidupan, menciptakan masyarakat demokratis, menanamkan nilai sosial, dan meningkatkan motivasi peserta didik . Sebagai contoh dalam membentuk nilai-nilai empati dalam mata pelajaran PKn, dengan tujuan pembelajaran peserta didik dapat melakukan tolong menolong, menghormati, menyayangi, memberi bantuan, dan sebagainya. Maka hidden kurikulum akan mampu membangun nilai-nilai tersebut, dengan cara guru membawa peserta didik melihat suatu kejadian musibah, di mana pada waktu bersamaan guru memberi pesan-pesan moral kepada peserta didik baik di luar atau di tempat kajadian, pesan terasebut akan mengalir sesaat anak menyaksikan sendiri bahwa kejadian itu menyedihkan dan memilukan. Secara otomatis nilai-nilai empati tercipta/terkonstruksi pada diri peserta didik.

Penyerapan materi oleh peserta didik sangat dipengaruhi peran hidden kurikulum karena guru dapat dengan mudah menterjemahkan pesan-pesan sosial dan moral melalui sikap tanpa disadari. Hidden kurikulum tidak menekankan pada konten akan tetapi pada meaning-full (Smith, 1991: 258).

Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), karakter mempunyai arti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan demikian, karakter merupakan sifat dan nilai-nilai yang terpatri dalam hati dan diwujudkan dalam sikap diri seseorang, ia akan memancarkan  hasilnya pada olah pikir (literasi dan numerasi), olah hati (etik dan spritual), olah rasa (estetik), olah raga (kinestetik) seseorang. Karakter dalam pandangan kaum behavioris lebih menekankan pada somatopsikis, artinya bahwa sifat-sifat di atas merupakan bawaan sejak lahir. Kemudian, karakter akan dapat dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan, faktor bawaan (nature) merupakan faktor di luar jangkuan masyarakat dan individu mempengaruhinya dan faktor lingkungan (nurture)  merupakan faktor dalam jangkauan masyarakat dan individu mempengaruhinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah lingkungan yang mampu merubahkan sikap diri seseorang menjadi sikap berkarakter.

Gerakan Nasional Revolusi Mental, PPK menguatkan lima nilai utama karakter pada siswa pendidikan dasar, diantaranya; Religus, Nasionlais, Mandiri, Gotong royong dan integritas. Karakter yang kuat membentuk individu menjadi pelaku perubahan pada diri sendiri dan masyarakat sikitarnya. Kerja sama antara sekolah, keluarga dan masyarakat menjadi kunci penguatan pendidikan krakter. Gerakan PPK berfokus pada struktur yang sudah ada dalam sistem pendidikan nasional, yaitu program, kurikulum dan kegiatan yang berbasis pada kelas, budaya sekolah, dan masyarakat. http://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/

Pembahasan

Belajar adalah membangun interpretasi diri terhadap dunia nyata melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi (Martinis Yamin, 2013; 25). Proses reflection in action merupakan gambaran tentang proses belajar. Bragar dan Johnson (1993) menyebutkan bahwa seseorang  belajar melalui aktifitas atau pekerjaan sendiri dan kemudian mengkaji ulang dari pekerjaan yang telah dilakukannya. Perilaku yang direfleksikan artinya akan menjadi suatu petunjuk bagi terjadi suatu perilaku-perilaku berikutnya. Proses pembelajaran strategi kognitif merupakan proses reflection in action.

 Berdasarkan teori ini menunjukkan bahwa proses belajar diawali dari pengalaman nyata yang dialami oleh seseorang, pengalaman tersebut direfleksikan secara individu. Dalam proses refleksi seseorang akan berusaha memahami apa yang terjadi serta apa yang dialaminya. Refleksi ini menjadi dasar proses konseptualisasi di dalam memahami dan mengaplikasikan pengalaman yang didapat pada situasi dan kontek yang lain. Proses implementasi merupakan situasi dan kontek yang memungkinkan penerapan konsep yang sudah dikuasai seseorang. Proses pengalaman dan refleksi dikelompokkan sebagai proses penemuan, sedangkan proses konseptualisasi dan implementasi dapat dikelompokkan dalam proses penerapan (taking action). Proses ini terjadi berulang-ulang sehingga setiap tindakan yang dilakukan seseorang merupakan hasil refleksi dari pengalaman atau kejadian dari masa lalu yang telah dialami.

Pembelajar  konstruktivis tidak akan pernah membenarkan ajarannya dengan mengklaim bahwa “ini satu-satu yang benar”. Di dalam matematika mereka dapat menunjukkan bahwa cara tertentu diturunkan dari operasi tertentu. Di dalam sains meraka tidak dapat berkata lebih daripada “ini adalah jalan terbaik untuk situasi ini, ini adalah jalan yang terefektif untuk soal ini sekarang”. Konstruktivistik adalah memfungsi belahan otak kanan, mengajak peserta didik berpikir lateral menyangkut pemikiran sekitar atau menyintuh pokok persoalan (Thomask Crowl, Sally Kaminski and David M. Podell, 1997. Hl.193). Demikian pula  cara berpikir otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik (Bobbi DePorter & Mike Hernacki, 2002. Hl. 38). Belahan otak kanan lebih mengutamakan respon yang terkait dengan persepsi holistik, imaginative, kreatif, dan bisosiatif. Fungsi belahan otak kanan ditandai dengan berbagai ide atau berbagai alternatif kemungkinan jawaban (divergen), yang telah dikaji menghasilkan jawaban yang paling benar (Conny R. Semiawan, 1992. Hl. 58).

Perlu diciptakan suasana yang membuat peserta didik antusias terhadap persoalan yang ada sehingga mereka mau mencoba memecahkan persoalannya. Pembelajar perlu membantu mengaktifkan peserta didik untuk berpikir. Hal ini dilakukan dengan membiarkan meraka berjuang dengan persoalan yang ada dan membantu mereka hanya sejauh mereka bertanya dan minta tolong. Pembelajar dapat memberikan orientasi dan arah tetapi tidak boleh memaksakan arah itu. Tentu hal ini akan memakan waktu lama tetapi peserta didik yang menemukan sendiri suatu pemecahan dan pemikiran akan siap untuk menghadapi persoalan-persoalan yang baru.

Pembelajar/guru perlu membiarkan peserta didik menemukan cara yang paling menyenangkan dalam pemecahan persoalan. Tidaklah menarik bila setiap kali pembelajar menyuruh peserta didik memakai jalan tertentu. Peserta didik kadang suka mengambil jalan yang tidak disangka atau jalan yang tidak konvensional untuk memecahkan suatu soal. Bila seorang pembelajar tidak menghargai cara penemuan mereka ini berarti menyalahi sejarah perkembangan sains yang juga dimulai dari kesalahan-kesalahan.

Julyan dan Duckworth (1996) menyimpulkan hal-hal yang penting dikerjakan oleh seorang pembelajar konstruktivis sebagai berikut:

  1. Pembelajar perlu mendengar secara sungguh-sungguh penafsiran peserta didik terhadap data yang ditemukan sambil menaruh perhatian khusus kepada keraguan, kesulitan, dan kebingungan setiap peserta didik.
  2. Pembelajar perlu memperhatikan perbedaan pendapat dalam kelas, memberikan penghargaan kepada setiap peserta didik. Dengan memfokuskan diri pada hal-hal yang kontradiktif dan membingungkan peserta didik, pembelajar akan menemukan bahwa konsep yang dipelajari itu mungkin sulit dan membutuhkan waktu lebih banyak untuk mengkonstruksinya.
  3. Pembelajar perlu tahu bahwa “tidak mengerti” adalah langkah yang penting untuk mulai menekuni. Ketidaktahuan peserta didik bukanlah suatu tanda yang jelek dalam proses belajar, melainkan merupakan langkah awal untuk mulai.

Abad 21 teori pembelajaran mengalami pergeseran paradigma yang selama ini lembaga persekolahan dan perguruan tinggi mengarah tujuan pembelajaran pada teori perilaku, kemudian se-iring dengan perkembangan pengetahuan, seni, dan teknologi. Para pakar pembelajaran menyadari bahwa proses pembelajaran yang dilakukan adalah menciptakan peserta didik belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk berbuat (learning to do), belajar untuk menjadi dirinya sendiri (learning to be), dan belajar untuk hidup bersama-sama (learning to life together) serta memiliki karakter; religus, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, keratif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Proses pembelajaran melalui pendekatan perilaku sudah tidak tepat lagi untuk diterapkan karena menciptakan peserta didik berdasar kehendak pembelajar, sementara peserta didik memiliki kemampuan dan intelek yang berkembang ketika individu menghadapi pengalaman baru dan membingungkan dan ketika mereka berusaha mengatasi diskrepansi yang ditimbulkan oleh pengalaman-pengalaman. Dalam usaha menemukan pemahaman ini, individu menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya dan mengkonstruksikan makna baru. Piaget, Vygotsky (dalam Richard I. Arends, 2004; 397).

Vygotsky mengembangkan konsep zone of proximal development. Peserta didik memiliki dua tingkat perkembangan yang berbeda: tingkat perkembangan pertama adalah perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual adalah menentukan fungsi intelektual individu saat ini dan kemampuannya untuk mempelajari sendiri hal-hal tertentu. Tingkat perkembangan potensial adalah tingkat yang dapat difungsikan atau dicapai oleh individu dengan bantuan orang lain, di mana orang tua, guru, dan teman-temannya dapat memberikan nilai-nilai, norma, budaya dalam membangun pengetahuan dan krakter.

Kemampuan potensial, pada waktu ini peserta memerlukan  bimbingan, pengajaran, pendidikan, dan latihan dari lingkungannya

 

 

 

Kemampuan aktual, pada waktu ini peserta didik sudah mampu mempergunakan akalnya dengan menginterpresai diri dari dunia nyata, pengalaman baru, dan interaksi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perkembangan potensial para peserta didik dapat belajar matematika, biologi, fisika, dan materi lain melalui orang lain dan dapat diwujudkan menjadi perkembangan aktual, artinya; materi ini dapat dipelajari dan didalami secara sendiri. Perkembangan kedua di atas ini memiliki kaitan yang erat.

Berikut ini dipaparkan beberapa prinsip dasar behavioris, kognitivis, dan konstruktivis.  Masing-masing memiliki kekuatan, konstruktivis memandang bahwa mengonstruktursi pengetahuan pada individu akan dapat diciptaka melalui pengalaman-pengalaman baru dan interaksi sosial dengan pembelajar, orang lain, dan teman sebaya. Dengan bantuan yang tepat dari pembelajar dan sebaya yang lebih mampu peserta didik maju ke zone of proximal developmet tempat pembelajatan terjadi.

Dasar filosofis konstruktivis telah dilahirkan John Dewey dalam Democracy Education (1916) menyebutkan sekolah sebagai cermin masyarakat yang lebih besar dan kelas menjadi laboraterium untuk penyelidikan dan pengatasan masalah kehidupan nyata. Kemudian Jean Piaget dan Lev Vygotsky mengembangkan konsep konstruktivism yang dijadikan sandaran pendidikan abad 21.

PRINSIP-PRINSIP DASAR BEHAVIORISM, KOGNITIVISM, DAN KONSTRUKTIVISM

Behaviorism Kognitivism Konstruktivism
Belajar terjadinya hubungan S – R Belajar adalah berubahnya suatu pengetahuan Peserta didik membangun interpretasi dirinya terhadap dunia nyata melalui pengalaman-pengalaman baru dan interaksi social
Belajar adalah mengubah perilaku organisma tubuh Pengetahuan adalah mengambarkan aktifitas mental yang terstruktur pada diri peserta didik Pengetahuan yang telah melekat dapat dipergunakan (memahami kenyataan)
Menekankan pada perilaku yang tampak dan dapat diukur Peserta didik berperan aktif dalam proses pembelajaran Fleksibel mempergunakan pengetahuan
Mempergunakan istilah “black box”, peserta didik adalah sebuah “black box”, tidak diketahui proses yang terjadi di dalam dirinya Menekankan pada bangunan blok pengetahuan Mempercayai berbagai cara (beragam perspektif) untuk menstruktur dunia dan mengisinya
Menekankan pada hubungan antara variabel-variabel lingkungan dan perilaku Menekankan pada struktur, organisasi dan urutan informasi secara optimal Mempercayai individu dapat memaknai kehidupan di dunia secara bebas
Pembelajaran memanfaatkan konsekuensi dan penguatan perilaku belajar Fokus terhadap bagaimana peserta didik mengingat, mengulang kembali dari gudang informasi
Mempercayai perilaku sebagai petunjuk tujuan Menguji struktur mental dan proses hubungan terhadap belajar
Isyarat yang menunjukkan perilaku dan kondisi suatu peristiwa Belajar mengambarkan proses aktif yang terjadi di dalam diri peserta didik dan dapat dipengaruhi oleh peserta didik
Belajar tidak hanya terikat pada kehadiran pembelajar tetapi juga peserta didik dapat melaksanakan proses untuk mendapatkan informasi

Namun demikian, tidaklah semua mata pelajaran dilakukan dengan pendekatan konstruktif akan tetapi pendekatan behavioral masih diperlukan manakala pembelajar/pendidik memberikan muatan doktrinisasi dan pengetahuan prosedural. Konstruktism memandang sekolah merupakan sarana dan prasarana belajar dan belajar dapat dilakukan di mana saja dengan sumber yang berbeda-beda serta tidak mesti di dalam kelas, otak manusia bukanlah suatu wadah yang mesti diisikan dengan sesuatu akan tetapi ia harus diberdayakan secara maksimal sesuai kemampuannya masing-masing.

Simpulan 

  1. Hidden kurikulum merupakan kurikulum yang tidak dipelajari dan tidak direncanakan secara terprogram untuk membelajarkan serta menentukan keberhasilan peserta didik dalam proses pembelajaran.
  2. Karakter merupakan sifat dan nilai-nilai yang terpatri dalam hati dan terwujud dalam sikap seseorang, ia akan memancarkan hasilnya pada olah pikir (literasi dan numerasi), olah hati (etik dan spritual), olah rasa (estetik), olah raga (kinestetik) seseorang.
  3. Ketidaktahuan peserta didik bukanlah suatu tanda yang jelek dalam proses belajar, melainkan merupakan langkah awal untuk mulai.
  4. Belajar adalah proses membelajarkan peserta didik untuk tahu (to know), untuk menjadi dirinya sendiri (to be), untuk berbuat (to do), dan untuk menghargai sesama (to life together) serta memiliki karakter; religus, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, keratif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

 

Daftar Bacaan

Arends, Richard I. 2004. Learning to Teach (Sixth Edition). New York: McGraw Hill

De Porter, Bobbi, dan Mike Hermacki. 2001. Quantum Learning. Penerjemah Alwiyah Abdurrahman, Bandung; Kaifa.

http://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/

Martin, Jane. 1983. What Should We Do with a Hidden Curriculum When We Find One? The Hidden Curriculum and Moral Education. Ed. Giroux, Henry, dan David Purpel. Berkeley,California: McCutchan Publishing Corporation.

Semiawan, Conny R. 2008.  Penerapan Pembelajaran pada Anak, Penerbit Indek, Jakarta.

Smith, Linda. 1991. Ide-ide Filsafat dan Agama, Dulu dan Sekarang. Yogyakarta: Kanisus.

Yamin, Martinis. 2013. Pradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Referensi.

 

VEGETASI KOMUNITAS Nepenthes spp. DI KAWASAN HUTAN KAMPUS INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI (10(2), 2017, 83-90)

Tinggalkan komentar

http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/kauniyah/

Взаимосвязи между организационной культурой, лидерством, мотивацией к достижениям и результативностью университетских преподавателей

Tinggalkan komentar

https://foresight-journal.hse.ru/data/2017/06/22/1170269116/2-2017.pdf

Older Entries