Beranda

Otak bukan wadah yang siap diisi

Tinggalkan komentar

Yang terhormat Bapak Bupati Kabupaten Merangin,

Yang terhormat bapak Kapolresta dan Kodim Kabupaten Merangin,

Yang terhormat bpk Rektor UIN STS Jambi,

Yang terhormat Bapak Ketua Yayasan YPI dan Ketua MUI Kabupaten Merangin,

Yang terhormat Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Merangin,

Yang terhormat bapak-bapak anggota senat STAI Syech Maulana Qari Bangko,

Yang terhormat para bapak dan ibu dosen STAI Syech Maulana Qari Bangko,

Yang terhormat para orang tua/wali wisudawan STAI Syech Maulana Qari Bangko,

Para wisudawan yang berbahagia.

Hadirin yang terhormat

Lembaga pendidikan tinggi sekarang bukan lagi suatu yang asing, manakala kita tengok 35 tahun silam perguruan tinggi hanya ada di kota-kota besar dan jebolan perguruan tinggi dianggap suatu yang luar biasa, decak kagum secara tidak sengaja keluar dari mulut seseorang. Gelar SH, Drs, Ir, SE, BA memiliki derajat yang sangat tinggi di mata masyarakat. Sekarang perguruan tinggi bukan lagi milik orang kaya dan orang tertentu, keberadaan PT telah berada di kota-kota kecil, gelar yang dianggap luar biasa, sekarang sudah biasa-biasa saja.

Dulu kala seorang yang telah lulus dari perguruan tinggi dapat bekerja menjadi PNS atau di lembaga-lembaga lainnya. Sekarang harapan itu hampir sirna lantaran banyaknya lulusan dari berbagai perguruan tinggi, orientasi itu harus dihapuskan dari mindset seseorang, jika masih ada orientasi tersebut maka dia harus siap kecewa karena peluang untuk menjadi PNS sangat kecil sekali, sulit, dan persaingannya sangat ketat.

Skill dan profesionalitas menjadi andalan saat ini, maka perguruan tinggi diharapkan banyak memberi pengalaman-pengalaman pada mahasiswanya, agar kelak setelah mahasiswa menamat pendidikan di perguruan tinggi mereka mampu mandiri dan menciptakan pekerjaan untuk dirinya dan orang lain. Saya sering mengingatkan kepada pengajar di perguruan tinggi agar tidak memaksa mahasiswa menerima ide-ide dosen dan tidak mendorong mahasiswanya untuk menghafal, tetapi mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan innovatif serta memberikan pengalaman-pengalaman baru.

Dahulu definisi belajar adalah mentransferkan pengetahuan terhadap peserta didik, saat ini definisi itu harus kita tinggalkan karena pengetahuan itu bukan kumpulan hukum dan daftar fakta atau suatu benda yang tampak atau pengetahuan tidak akan didapat dengan simselabin. Definisi belajar baru adalah pengetahuan terjadi dari penafsiran diri terhadap pengalaman baru, melalui interaksi sosial dan lingkungan. Maka oleh sebab itu, kita para dosen/pengajar diminta mengembangkan wawasan para mahasiswa dan memberi perkuliahan yang bermakna dan tidak terstruktur.

Filsafat pendidikan kontruktivisme menyebut bahwa pengetahuan kita adalah hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri. Artinya, kita tidak akan bisa mencipakan pengetahuan atau memintar orang lain. Dosen berperan sebagai fasilitator dan motivator yang menyenangkan dan mendorong mahasiswanya mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis. Einstain dan Infeld (dalam Suparno, 1996; 17) mengatakan “ilmu pengetahuan, terutama sain adalah ciptaan pikiran manusia dengan semua gagasan dan konsepnya yang ditemukan secara bebas”.

Hadirin yang terhormat

Selama ini pembelajaran kita, selalu menuntut peserta didik untuk diam, mendengar ceramah yang basi, mendengar cerita yang irrasional, dan menyuruh peserta didik menghafal. Sejak zaman Yunani kuno sampai hari ini masih banyak para guru dan dosen beranggapan bahwa tugasnya adalah melatih ingatan peserta didik atau mahasiswa. Saya yakin pidato ini dianggap ekstrim karena padangan di atas telah mengkristal. Berpuluh tahun diteliti oleh William James, juga Benton J. Underwood membuktikan dengan eksperimen, bahwa “the more memorizing one does, the poorer one’s ability to memorize” – making sering mengingat, makin jelek kemampuan mengingat (Hunt, 1982 dalam Rahmat, 1996; 65). Dengan ini timbul pertanyaan; Bagaimana dengan orang menghafal Alquran? Alquran materi doktrinisasi. Pembelajaran doktrinisasi pendekatannya adalah filsafat behaviorisme yang dikenal dengan teacher oriented (guru/dosen yang banyak bicara), peserta didik menghafal materi. Kemudian, pertanyaannya; Kapan saja diterapkan filsafat behaviorisme? tatkala peserta belum memiliki pengetahuan dasar, mengajar rumus, mengajar peraturan yang berlaku, dan pendidikan kemeliteran. Selain itu maka pendekatan pembelajaran dengan filsafat konstruktivisme yang dikenal dengan student oriented (pembelajaran yang berpusat pada peserta didik).

Hadirin yang terhormat

Otak manusia bukan wadah yang siap diisi dengan pengetahuan, akan tetapi otak yang harus diberdayakan untuk berpikir karena dalam otak terdapat 100 – 200 milyar sel yang siap mengolah informasi atau berpikir. Dalam Alquran terdapat 18 surat dengan term “berpikir”.  Objek berpikir dalam Alquran bukanlah memikir zat Allah Swt, namun memikirkan hikmah dari ciptaan Allah Swt di alam semesta, kekuasaan Allah Swt dalam mengatur alam semesta, kekuasaan dan nikmat Allah Swt yang terdapat di alam semesta. Alquran mengajak manusia untuk memikirkan alam semesta, diri manusia, dan hikmah dari syariat atau segala perintah Alla Swt. Dengan cara demikian, manusia semakin dekat dan kenal dengan Allah Swt sehingga akan menghasilkan akhlak yang baik sebagai perwujudannya terhadap kedekatan dan ketaatan pada Allah Swt.

Berpikir memerlukan kebiasaan dan pengalaman, ketidak biasaan berpikir akan menghasil penafsiran yang keliru. Demikian pula dengan pengalaman, cara berpikir seseorang tidak jauh dari pengalaman yang telah dia peroleh. Piaget seorang psycholog dan biolog telah membagi berpikir pada; asimilatif, kognitif, dan equilibaratif. Berpikir asimilatif adalah cara individu mengintegrasi persepsi dan stimulus pada skemata lama. Berpikir akomodatif adalah penciptaan skemata baru dan pengubahan skemata lama. Berpikir equilibratif adalah menyeimbangkan berpikir asimilatif dengan berpikir akomodatif.

Thomas L. Good and Jere E. Brophy (1990; 610) mengatakan bahwa setiap individu memproses informasi dengan cara dan gaya yang berbeda. Gaya berpikir menunjukkan pada kebiasaan seseorang individu dalam memproses informasi dan menggunakan strategi untuk menjawab tugas yang diterima.

Mengutip pidato pengukuhan guru besar saya di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi (2017) “otak manusia dilengkapi dengan bermilyar sel saraf, lain tidak akan membuatkan diri manusia itu sempurna dan lebih baik dari makhluk lain dalam berpikir, berbuat, dan berperilaku. Berpikir tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan kepintaran seseorang, akan tetapi ditentukan oleh kebiasaan dan memaksimalkan otak untuk berpikir dan bernalar. Orang pintar yang tidak terbiasa berpikir tak ubahnya seperti pisau yang tidak pernah keluar dari sarungnya, sebaliknya seseorang yang terbiasa berpikir tak ubahnya seperti sebilah pisau yang tajam. Tajam bak Pisau Damascus karya Bob Kremer, ketajamannya membuktikan ia berkelas di dunia, mampu memotong kaleng coca cola tanpa jatuh, namun betapapun tajamnya pisau bila tidak dimanfaatkan ia tidak punya arti apa-apa”.

Simpulan

  1. Jadikan pembelajaran dalam kelas untuk menambah wawasan mahasiswa dan selalu mengajak mahasiswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan innovatif.
  2. Pengajar atau dosen tidak memaksakan pendapatnya harus diterima oleh peserta didik atau mahasiswa.
  3. Cipatakan pengalaman baru pada peserta didik atau mahasiswa dan berikan motivasi kepada mereka agar menjadi pribadi yang mandiri.
  4. Otak yang pintar tidak menjadi jaminan seseorang untuk menjadi berhasil dan keberhasilan memerlukan latihan yang terus menerus, keuletan, dan kerja keras.

Referensi

Yamin, Martinis, 2013, Pradigma Baru Pembelajaran. Jakarta; Referensi.

Rahmat, Jalaluddin, 1996. Psikologi Komunikasi. Bandung; Penerbit PT Remaja Rosdakarya.

Schunk, Dale H., 2012. Learning Theories an Educational Perspective (terjemahan). Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Santrock, John W., 2012. Psikologi Pendidikan (terjemahan). Jakarta; Kencana Prenada Goup.

Suparno, Paul, 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta; Penerbit Kanasius.

Woolfolk, Anita, 2009. Educational Psychology, edisi X,  (terjemahan). Jogyakarta; Pustaka Pelajar.

RIWAYAT HIDUP

Prof. Dr. H. Martinis Yamin, M.Pd lahir di Pulau Rengas Bangko 3 Nopember 1960, putra pertama dari Bapak H. Ibnu Yamin (Alm) dan Ibu Hj. Nasiatul Asiah, menyelesaikan pendidikan SD Negeri Pulau Rengas tahun 1971, MTsN tahun 1975, PGA tahun 1979 di Bukittinggi, Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang tahun 1986, S-2 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Padang tahun 1999, dan sejak September tahun 2007 mengikuti program S-3 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta dan berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka pada tanggal 30 Oktober 2009 .

Menikah dengan Hj. Suriana, dikurniai 3 orang anak. Anak pertama dan kedua kembar sepasang. Satria Fitrio 27 April 1990 alumni Fakultas Teknik Prodi Pertambangan Minyak dan Gas Bumi di Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang; Ethika Fitri 27 April 1990 alumni Fakultas Ekonomi Prodi Akutansi Universitas Jambi (UNJA); Esti Imania 19 Mei 1993 alumni Fakultas Teknik Informatika UII Jogyakarta. Memiliki seorang cucu bernama Asyadel Muhammad Keenan Pradipta berumur 3,3 th dari Ethika Fitri dan Ryan Pradipta.

Pengalaman jabatan

  1. Guru PGAN Jambi (1986-1987),
  2. Guru Madrasah Aliyah Laboraterium Jambi (1986-1987),
  3. Guru CPNS SMAN Muara Sabak (1987),
  4. Dosen Tetap pada Fakultas Tarbiyah IAIN Jambi (1989 – sekarang),
  5. Dosen pada Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) SMQ Bangko (1994 – sekarang),
  6. Ketua UP-PPL Fakultas Tarbiyah IAIN Jambi (1999 – 2003),
  7. Dosen pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muara Bulian (1999-2004),
  8. Pembantu Dekan III Fakultas Tarbiyah IAIN Jambi (2003 – 2007),
  9. Narasumber Workshop Keguruan dalam Lingkungan Departemen Agama RI (2004),
  10. Narasumber Warkshop Guru dan Kepala Sekolah SD, SMP Kota Madya Jambi (2005 – 2006),
  11. Dosen pada Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yasni Muara Bungo (2005 – 2012),
  12. Wakil Ketua Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta Wilayah XIII Jambi (2008 – 2012),
  13. Anggota Tim Pakar Pendidikan Komisi IV DPRD Provinsi Jambi (tahun 2010),
  14. Dosen Program Pascasarjana IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi (Maret 2010 – sekarang )
  15. Dosen Megister Teknologi Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Jambi (UNJA) (Februari 2010 – sekarang).
  16. Ketua Umum IPTPI (Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia) Cabang Jambi, Periode 2011-2014.

 Karya Ilmiah berupa buku yang telah dipublikasikan adalah;

  1. Matode Pembelajaran yang Berhasil. Penerbit Sesama Mitra Suksesa Jakarta (2001).
  2. Sepuluh Kiat Sukses Mengajar di Kelas. Penerbit Nimas Multima Jakarta (2002).
  3. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2003).
  4. Pengajaran Micro; Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Penerbit Fakultas Tarbiyah Press (2004).
  5. Pengembangan Kompetensi Pemelajar. Penerbit Universitas Indonesia Press Jakarta (2004).
  6. Paradigma Baru Reformasi Pendidikan Tinggi Islam. Penerbit Universitas Indonesia Press Jakarta (2004).
  7. Profesionalisasi Guru dan Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2006).
  8. Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2006).
  9. Kiat Membelajarkan Siswa. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2007).
  10. Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2007).
  11. Taktik Mengembangankan Kemampuan Siswa. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2008).
  12. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (editor). Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2008).
  13. Paradigma Pendidikan Konstruktivistik. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2008).
  14. Manajemen Strategis dalam Kompetisi Pasar Gelobal (editor). Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2009).
  15. Manajemen Pembelajaran Kelas. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2009).
  16. Standarisasi Kinerja Guru. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2010).
  17. Administrasi Pendidikan. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2010).
  18. Paradigma Baru Pembelajaran. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2010).
  19. Panduan Pendidikan Anak Usia Dini. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2010).
  20. Orientasi Baru Ilmu Pendidikan. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2012).
  21. Desain Baru Pembelajaran Konstruktivistik. Penerbit Referensi, Jakarta (2012).
  22. Strategi dan Metode dalam Model Pembelajaran. Penerbit Referensi, Jakarta (2012).

 Artikel ilmiah dalam jurnal akreditasi international dan nasional

  1. Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan, EDUKASI, Volume VII, Nomor 3,    Juli – September 2009. (Akreditasi A). Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan  Badan Litbang dan Diklat DEPAG RI, Jakarta, 2009.
  2. Jurnal Ilmu Agama dan Ilmu Sosial, SOSIO-RELIGIA, Vol. 9 Edisi Khusus, Februari 2010. (Akreditasi B). Lingkar Studi Ilmu Agama dan Ilmu Sosial (LinkSAS), Yogyakarta, 2010.
  3. Aplikasi Bahan Ajar Bahasa Arab Bermedia Komputer dalam Memotivasi Belajar Siswa Kelas XI Semester II Di Madrasah Aliyah Negeri 4 Muaro Jambi (Journal Akreditasi Nasional). Vol 10, No 2 (2016) http://journal.walisongo.ac.id/index.php/Nadwa/article/view/1282
  4. The influence of leadership style and professionalism of head of madrasah to madrasah culture in man model jambi (Journal Scopus 2016). http://www.serialsjournals.com/serialjournalmanager/pdf/1469788738.pdf
  5. Interactive online-based learning materials development (Journal Scopus 2016). http://ttem.ba/volume-11-number-4/
  6. Correlation Between Personality Competence Of Religion Teachers And Educational Interaction Process With The Character Educational Development Students At 36 Junior State High School Sarolangun (Volume 3 issue 9 2016). http://valleyinternational.net/index.php/our-jou/theijsshi
  7. The Relationship between School Cultures and the Principal’s Leadership Style and the Effectiveness of the Principal’s Leadership |Volume||4||Issue||10||2016|. ijsrm.in
  8. Evaluation Program:The Communicative English Language Learning (CELL) With CIPP. Vol-2, Iss-10 (Oct, 2016). http://scholarsbulletin.com/
  9. Development of Mathematic Teaching Book with Creativity Approach (GIF.0.765. 2017). https://mg.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=1nsltcb90k1on#4106378935
  10. The Management of School Culture (April 2017). http://www.tojdac.org/tojdac/VOLUME7-APRLSPCL.html
  11. Developing Group Investigation Based Student Worksheets (Volume 7 No. 3 June 2017). http://www.jellonline.com/index.php/jell/article/view/730000215/79
  12. Material Effect on Entrepreneurship Learning towards Interest in Entrepreneurship activities of Students (Volume 7 No.2 June 2017). http://jormonline.com/index.php/jorm/article/view/182/pdf_43
  13. Relationships between Lecturer Performance, Organizational Culture, Leadership, and  Achievement Motivation (Foresight Vol. 11 No 2  2017 index Scopus). https://foresight-journal.hse.ru/data/2017/07/03/1170269116/2-2017-eng.pdf
  14. Взаимосвязи между организационной культурой,  лидерством, мотивацией  к достижениям и результативностью  университетских преподавателей. https://foresight-journal.hse.ru/data/2017/06/22/1170269116/2-2017.pdf
  15. Vegetasi Komunitas Nepenthes SPP. Di kawasan Hutan Kampus Institut Agama Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi (10(2), 2017, 83-90). http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/kauniyah/
Iklan

Blended Learning

Tinggalkan komentar

Blended learning merupakan pembelajaran colaborative yang dapat dilaksanakan dengan guru atau tanpa guru, beberapa aspek yang harus diperhatikan di dalam pembelajaran blended, yaitu;

a. Face to face learning dengan guru atau dengan teman sekelas,

b. Materi ajar dalam aplikasi dan sudah diinstall pada komputer,

c. Dilakukan dengan berinteraksi secara formal atau informal dengan teman sekelas,

d. Dilakukan dalam diskusi kelompok,,

e. Sumber belajar secara online, e-library. Belajar tidak hanya mempergunakan perpustakaan di sekolah akan tetapi juga dapat mempergunakan perpustakaan degital,

f. Belajar dilaksanakan secara virtual yang tidak terbatas pada tempat, waktu, dan alat untuk berinteraksi,

g. Penilaian dilakukan secara online,

h. Tutor tambahan di luar kelas namun dilakukan secara online,

i. Membuat blog untuk mengembang diri para siswa serta melaksanakan kreativitas,

j. Dapat melaksanakan seminar secara online

k. Siswa dapat belajar dari youtube,

l. Siswa dapat belajar dari video atau rekaman yang memiliki hubungan dengan materi yang dipelajari,

m. Lab virtual, siswa menonton dan mensimulasikan eksperimen yang akan berbahaya bila dilakukan sendiri oleh siswa.

Sumber;

Lalima, Kiran Lata Dangwal, (2017). Blended Learning: An Innovative Approach, Universal Journal of Educational Research 5(1): 129-136. DOI: 10.13189/ujer.2017.050116

 

KONSTRUKTIVISME SUATU PILIHAN DALAM PEMBELAJARAN

Tinggalkan komentar

IMG_3976(1)

Yang terhormat Rektor UIN STS Jambi,

Para anggota Senat, Ketua dan anggota Komisi Guru Besar UIN STS Jambi,

Para pejabat struktural UIN STS Jambi,

Para Dosen dan Mahasiswa UIN STS Jambi,

Para undangan dan lainnya.

Hadirin yang terhormat

Sejak kemerdekaan RI 1945 sudah 11 kali terjadi perubahan kurikulum nasional, kurikulum 2004, 2006, dan 2013 merupakan kurikulum yang menganut filsafat konstruktivistik yang berorientasi “student oriented” dan meninggalkan tradisi “teacher oriented”, namun kurikulum ini kurang tersosialisasikan dengan baik yang diakibatkan kurang pengetahuan para pengguna di lapangan dan terkesan kurikulum yang dipaksakan.

Mengutip pidato ilmiah pengukuhan Guru Besar IKIP Malang I Nyoman Degeng (1998; 10) “kegagalan atau kebehasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai.”

Konstruktivisme suatu pilihan

Von Glaserfeld (dalam Soparno, 1997; 18) menyebutkan bahwa pengetahuan bukan suatu tiruan dari kenyataan (realitas). Pengetahuan bukan gambaran dari dunia kenyataan yang ada tetapi merupakan akibat dari suatu konstruksi (bentukan) kognitif melaui kegiatan seseorang. Seseorang membentuk skema, kategori, dan struktur pengetahuan yang diperlukan untuk pengetahuan. Kemudian, jaringan semantik – skemata  – merupakan struktur kognitif dalam ingatan kita yang mengatur pengetahuan konseptual kita. Jaringan semantik memudahkan pembelajaran baru dan ingatan serta berkonstruksi terhadap pengaturan dan penguaraian terhadap pembelajaran konseptual sebelumnya (Baverly Otto, 2015; 8).

Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Von Glaserfeld dalam Battencourt, 1989, dan Matthews, 1994. Dikutip Suparno, 1997; 18). Dosen bukanlah seorang yang dapat memintarkan seseorang dan tidak akan mampu memberikan pengetahuan pada orang lain, dosen tidak lebih dari fasilitator dan motivator yang mencipta proses pembelajaran yang menyenangkan. Menurut Santrock, 2007; 8) konstruktivisme adalah inti dari filsafat pendidikan William James dan John Dewey. Konstruktivisme menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun (to construct) pengetahuan dan pemehaman. Menurut pandangan konstruktivis, guru/dosen  bukan sekedar memberi informasi kepikiran peserta didik, akan tetapi guru/dosen harus mendorong peserta didik untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis. Konstruktivisme menekankan pada kolaborasi – peserta didik saling bekerja sama untuk mengetahui dan memahami pelajaran (Brooks & Brooks, 2001 dan Gauvain, 2001 dalam Santrock, 2007; 8).

Hadirin yang terhormat

Selama ini pembelajaran kita yang selalu menuntut anak untuk diam, pendengar pasif dan menyuruh peserta menhafal informasi yang relevan ataupun tidak relevan. Sejak zaman Yunani sampai sekarang, masih ada orang beranggapan bahwa tugas guru/dosen adalah melatih ingatan peserta didik. William James, juga Benton J. Underwood membuktikan dengan eksperimen, bahwa “the more memorizing one does, the poorer one’s ability to memorize” – makin sering mengingat, makin jelek kemampuan mengingat (Hunt, 1982 dalam Rahmat, 1996; 65). Sampai hari ini masih banyak kita mendengar para dosen menganjur mahasiswanya untuk menghafal, sementara materi tersebut berbentuk penalaran dan bukan doktrinisasi, dan penilian diberikan atas capaian perilaku yang tampak. Pengetahuan bukanlah kumpulan hukum dan daftar fakta. Ilmu pengetahuan, terutama sains, adalah ciptaan pikiran manusia dengan semua gagasan dan konsepnya yang ditemukan secara bebas (Einsein dan Infeld dalam Suparno, 1996; 17). Einstein dan Infeld lebih lanjut menjelaskan bahwa konsep atau teori tidak menuruti pengamatan induktif yang sederhana. Hal ini terbukti dengan adanya banyak peserta didik yang mengalami kesulitan untuk mengabstrasikan kenyataan yang mereka peroleh dari percobaan-percobaan mereka. Abstraksi dan teorisasi itu melalui proses penemuan yang imaginatif (Battencourt, 1989 dalam Suparno, 1997; 17-18). Teori Vygotsky (dalam Schunk, 2012; 352) menekankan bahwa pembelajaran merupakan proses yang dimediasi secara sosial. Belajar adalah membentukkan (konstruksi) penapsiran diri melalui pengalaman baru, interaksi sosial dan lingkungan (Martinis Yamin, 2013; 24). Demikian juga, Vygotsky (1962, 1978 dalam Schunk, 2012; 353) menyakini bahwa alat-alat yang digunakan untuk keperluan-keperluan sosial akan mengeluarkan pengaruh-pengaruh yang besar terhadap orang lain.

Menurut semua pendekatan konstruktivis menyatakan bahwa pengetahuan pada diri peserta didik adalah hasil dari konstruksi secara bersama. Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi peserta didik untuk mengevaluasi dan memperbaiki pemahaman mereka saat mereka bertemu dengan pemikiran orang lain dan saat mereka berpartisipasi dalam pencarian pemahaman bersama serta pengalaman dalam konteks sosial memberi mekanisme penting untuk perkembangan pemikiran peserta didik (Bearison & Dorval, 2002, Gauvain, 2001, dan Jonhson & Johnson, 2003 dalam Santrock, 2012; 390).

Pengetahuan akan terbentuk dalam proses kehidupan setiap manusia dari interpretasi dirinya terhadap pengalaman-pengalaman baru, interaksi sosial, dan interaksi dengan lingkungannya. Pengetahuan setiap orang bukan ditentukan oleh tinggi pendidikan yang diperoleh dan tingginya jabatan yang disandangnya akan tetapi sangat ditentukan pengalaman-pengalaman yang diperolehnya untuk menjadikan dirinya berkepribadian, bermoral, dan memiliki integritas.

Potensi Manusia

Hadirin yang terhormat

Otak manusia terdiri 100 – 200 milyar sel neuron yang siap memproses trilyun informasi, akan tetapi umumnya 5% bisa memanfaatkan untuk mengakseskan informasi, hal ini disebabkan saraf di otak tidak terlatih. Kemampuan otak untuk berpikir atau bernalar sangat ditentukan oleh kebiasaan, ia sama halnya dengan otot yang kita miliki, kelenturan otot disebabkan gerakan yang teratur dan terbiasa. Seseorang yang memaksa ototnya bekerja di luar kebiasaan, bisa berakibat cidera. Demikian halnya dengan otak, seseorang yang tidak terbiasa membaca bacaan verbal maka matanya  berair, ngantuk, dan pusing.

Otak manusia dilengkapi dengan bermilyar sel saraf, lain tidak akan membuatkan diri manusia itu sempurna dan lebih baik dari makhluk lain dalam berpikir, berbuat, dan berperilaku. Berpikir tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan kepintaran seseorang, akan tetapi ditentukan oleh kebiasaan dan memaksimalkan otak untuk berpikir dan bernalar. Orang pintar yang tidak terbiasa berpikir tak ubahnya seperti pisau yang tidak pernah keluar dari sarungnya, sebaliknya seseorang yang terbiasa berpikir tak ubahnya seperti sebilah pisau yang tajam. Tajam bak Pisau Damascus oleh Bob Kremer, ketajamannya membuktikan ia berkelas di dunia, mampu memotong kaleng coca cola tanpa jatuh, namun betapapun tajamnya pisau bila tidak dimanfaatkan ia tidak punya arti apa-apa.

Menurut teori skema, pengetahuan itu disimpan dalam suatu paket informasi atau skema yang terdiri dari konstruksi mental gagasan kita. Skema suatu objek, kejadian, atau ide terdiri dari dari suatu set atribut yang menjelaskan objek tersebut, maka dari itu membantu kita untuk mengenal objek atau kejadian (Rumelhart, 1980 dalam Suparno, 1997; 54). Atribut ini memuat juga hubungan dengan skema yang lain. Hubungan antara skema inilah yang memberikan makna dari arti kepada gagasan kita. Kemudian, (Jonassen, 1993 dalam Suparno 1997; 55) mengatakan bahwa orang harus mengisi atribut skemanya dengan informasi yang benar agar dapat membentuk kerangka pemikiran yang benar. Kerangka pemikiran inilah yang akan membentuk pengetahuan struktural seseorang, di mana pengetahuan struktural tersebut terdiri dari skema-skema yang dipunyai dan hubungan antara skema-skema itu. Lebih lanjut, (Clancy dalam Suparno, 1997; 56) mengatakan bahwa teori network semantik didasarkan kepada pandangan tradisional tentang ingatan. Diandaikan bahwa ingatan manusia itu terdiri dari fakta-fakta dan prosedur yang tersimpan dalam otak. Para ahli network semantik melihat jaringan ini sebagai representasi isomorpik akan apa yang disimpan dalam ingatan. Struktur ingatan ada sebagai representasi dalam pikiran. Menurut teori ini, semantik yang menyimpan informasi dalam manusia dapat dipetakan secara kognitif.

Hadirin yang terhormat

Peserta didik dilatih dengan berpikir lateral, artinya memandang persoalan dari beberapa sisi. Peserta didik tidak dipaksa harus menerima satu-satu ide guru atau dosen, mereka bebas berpikir untuk mencapai tujuan positif dan mengarahkan mereka tidak suka dengan satu jawaban dan satu-satu cara dalam mencapai kebaikan dan kebenaran. Gaya berpikir peserta didik masing-masing individu berbeda-beda, baik cara pemahaman, sudut pandang, kecepatan berpikir, mencernakan informasi, dan lain-lain sebagainya.

Otak memiliki aktivitas berpikir, masing-masing belahan akan memberi corak dan gaya berpikir, walaupun kedua belahan otak merupakan alat untuk memproses informasi sesuai dengan aktivitas mental. Otak kanan berpikir dengan pola merasakan-berbuat-analisa (feeling-action-analisis), sedangkan otak kiri dengan urutan analisa-berbuat-merasakan (analisis-action-feeling)(Dorothy Lehmkuhl and Dolores Cotter Lamping, 1995; 28-31). Para ahli mengatakan bahwa seseorang berpikir cenderung berpikir dengan menggunakan otak sebelah kiri atau sebelah kanan yang masing-masing berbeda cara kerjannya, dan masing-masing memiliki keunggulan tersendiri, otak kiri memiliki keunggulan analisis, sistematis, urut, logika, menulis, membaca, bahasa, dan matematika. Otak kanan memiliki kemampuan lateral, kreatif, konseptual, inovatif, idealis, gambar, warna, musik, dan irama. Otak kanan lebih variatif cara mengkonstruksikan pengetahuan, sementara otak kiri  terstruktur dalam mengkonstruksikan pengetahuan.

Berbeda dalam berpendapat merupakan ciri berpikir lateral, ia berpikir dari berbagai sisi, lebih kreatif dan inovatif serta cara kerjanya lebih beragam. Kemampuan berkembangnya otak kanan lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan interaksi sosial seseorang, sementara kemampuan otak kiri lebih banyak ditentukan oleh faktor genetis individu.

Hadirin yang terhormat

Robert M. Gagne and Leslie J. Briggs menjelaskan bahwa seseorang diklasifikasikan sebagai individu dengan gaya berpikir divergen atau konvergen berdasarkan performansi yang dirujukkan dalam mengerjakan suatu tugas atau tes tertentu, kuat lemahnya kecenderungan itu dapat dilihat dari proses bagaimana individu menangani situasi lainnya (1992; 188). Gaya berpikir dapat diidentifikasi dari dimensi-dimensi yang tercakup di dalamnya, yaitu; (1) perhatian terhadap ciri global dari stimuli versus detail; (2) diskriminasi (perbedaan) stimuli ke dalam kategori kecil (sempit); (3) kecenderungan mengklasifikasi unsur-unsur karakteristik yang teramati versus kesamaan fungsi atau waktu dan tempat versus atribut abstrak yang dimilikinya; (4) berperilaku cepat, impulsif versus lambat, seksama dalam menghadapi masalah; (5) berpikir inisiatif, induktif versus logik, deduktif, dan; (6) cenderung menentukan struktur dengan ciri-ciri khusus dari stimuli yang dipengaruhi oleh konteks atau sumber lain (Thomas L. Good and Jere E. Brophy, 1990; 610).

Setiap individu memproses informasi dengan cara atau gaya yang berbeda. Gaya berpikir menunjukkan pada kebiasaan seseorang atau individu dalam memproses informasi dan menggunakan strategi untuk menjawab tugas yang diterima (Thomas L. Good and Jere E. Brophy, 1990; 610). Gaya berpikir menunjukkan perbedaan individu dalam bagaimana mereka mendekati suatu tugas, tetapi variasi-variasi ini tidak menunjukkan tingkat inteligensi atau bentuk kemampuan tertentu. Gaya berpikir adalah suatu cara yang dipilih, yang menunjukkan perbedaan setiap individu dalam memproses dan mengorganisasi informasi sebagai respon terhadap stimuli lingkungannya (Anita E, Woolfolk, 2004; 128-129). DePorter dan Hernacki mengelompokkan cara berpikir manusia ke dalam beberapa bagian, yaitu: berpikir vertikal, berpikir lateral, berpikir kritis, berpikir analitis, berpikir strategis, berpikir tentang hasil, dan berpikir kreatif (2002; 296).

Beberapa contoh orang yang berpikir lateral Vs linear, di antaranya adalah Syaikh Muhammad Nāshiru’ddīn al-Albāni, seorang ulama ahli hadits terkemuka zaman ini, menghabiskan 12 jam sehari untuk membaca, menelaah dan meneliti dan menulis di perpustakaan azh-Zhāhiriyyah. Beliau adalah orang pertama masuk dan terakhir keluar di perpustakaan tersebut. Semisal dengan itu, Prof, Dr. Wahbah az-Zuhaili, ulama terkemuka lainnya, pada saat berkunjung ke Indonesia di awal-awal tahun 2000-an, mengisahkan bahwa beliau memulai aktivitasnya secara rutin mulai pukul 04.00 pagi sampai malam hari. Aktivitas beliau adalah membaca dan menulis. Demikian secara kontinu dan tidak berhenti kecuali untuk shalat dan makan. ‘Gila’ bukan? Hasilnya, puluhan jilid karya ilmiah yang dihasilkan oleh masing-masing dari kedua ulama tersebut, yang dijadikan rujukan oleh kaum muslimin di berbagai penjuru bumi—baik dari kalangan penuntut ilmu maupun ulama.

Jauh di atas semua itu, adalah suri tauladan kita, Nabi—shallaLlāhu `alaihi wa sallam—yang konsisten mengajarkan dan mendakwahkan kebenaran ketika manusia tengah terombang-ambing dalam lautan kebodohan, kerusakan dan kezhaliman.

Sejalan konsep di atas, adalah ucapan hikmah yang berbunyi, “Siapa yang hari ini lebih baik dibanding hari kemarin maka ia beruntung. Siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka ia merugi. Siapa yang hari ini lebih buruk dibandingkan hari kemarin maka ia celaka.” Demikian pula, Istilah kaizen. Dalam bahasa Jepang, kaizen bermakna penyempurnaan terus-menerus (continuous improvement) atau Inovasi tanpa henti.

Simpulan

Dengan demikian, simpulan pidato ini adalah;

  1. Pengetahuan bukan gambaran dari dunia kenyataan yang ada tetapi merupakan akibat dari suatu konstruksi (bentukan) kognitif melaui kegiatan seseorang.
  2. Belajar adalah membentukkan (konstruksi) penapsiran diri melalui pengalaman baru, interaksi sosial dan lingkungan.
  3. Belajar berarti membentuk makna dan makna diciptakan oleh peserta didik dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan alami. Konstruksi arti itu dipengaruhi oleh pengertian yang telah dia punyai.
  4. Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah mereka ketahui secara; konsep-konsep, tujuan, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajarinya.
  5. Peserta didik tidak dipaksa harus menerima satu-satu ide guru atau dosen, mereka bebas berpikir untuk mencapai tujuan positif dan mengarahkan mereka tidak suka dengan satu jawaban dan satu-satu cara dalam mencapai kebaikan dan kebenaran.

Daftar Bacaan

Degeng, I Nyoman, 1998, Mencari Pradigma Baru Pemecahan Masalah Belajar dari Ketaraturan menuju Kesemrawutan. Malang; IKIP Malang.

Yamin, Martinis, 2013, Pradigma Baru Pembelajaran. Jakarta; Referensi.

Gagne, R.M., & L.J., Briggs, 1979. Principles of Instrucsional  Design (edisi kedua). New York, Holt, Rinehart and Winston.

De Porter, Bobbi, dan Mike Hermacki, 2001. Quantum Learning. Penerjemah Alwiyah Abdurrahman, Bandung; Kaifa.

Rahmat, Jalaluddin, 1996. Psikologi Komunikasi. Bandung; Penerbit PT Remaja Rosdakarya.

 

Santrock, John W., 2012. Psikologi Pendidikan (terjemahan). Jakarta; Kencana Prenada Goup.

 

Schunk, Dale H., 2012. Learning Theories an Educational Perspective (terjemahan). Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

 

Strenberg, Robert J. 2008. Psikologi Kognitif (terjemahan). Yogyakarta; Pustaka Pelajar.

 

Suparno, Paul, 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta; Penerbit Kanasius.

 

Woolfolk, Anita, 2009. Educational Psychology, edisi X,  (terjemahan). Jogyakarta; Pustaka Pelajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RIWAYAT HIDUP

Prof. Dr. H. Martinis Yamin, M.Pd lahir di Pulau Rengas Bangko 3 Nopember 1960, putra pertama dari Bapak H. Ibnu Yamin (Alm) dan Ibu Hj. Nasiatul Asiah, menyelesaikan pendidikan SD Negeri Pulau Rengas tahun 1971, MTsN tahun 1975, PGA tahun 1979 di Bukittinggi, Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang tahun 1986, S-2 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Padang tahun 1999, dan sejak September tahun 2007 mengikuti program S-3 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta dan berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka pada tanggal 30 Oktober 2009 .

Menikah dengan Hj. Suriana, dikurniai 3 orang anak. Anak pertama dan kedua kembar sepasang. Satria Fitrio 27 April 1990 alumni Fakultas Teknik Prodi Pertambangan Minyak dan Gas Bumi di Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang; Ethika Fitri 27 April 1990 alumni Fakultas Ekonomi Prodi Akutansi Universitas Jambi (UNJA); Esti Imania 19 Mei 1993 alumni Fakultas Teknik Informatika UII Jogyakarta. Memiliki seorang cucu bernama Asyadel Muhammad Keenan Pradipta berumur 3,3 th dari Ethika Fitri dan Ryan Pradipta.

Pengalaman jabatan

  1. Guru PGAN Jambi (1986-1987),
  2. Guru Madrasah Aliyah Laboraterium Jambi (1986-1987),
  3. Guru CPNS SMAN Muara Sabak (1987),
  4. Dosen Tetap pada Fakultas Tarbiyah IAIN Jambi (1989 – sekarang),
  5. Dosen pada Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) SMQ Bangko (1994 – sekarang),
  6. Ketua UP-PPL Fakultas Tarbiyah IAIN Jambi (1999 – 2003),
  7. Dosen pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muara Bulian (1999-2004),
  8. Pembantu Dekan III Fakultas Tarbiyah IAIN Jambi (2003 – 2007),
  9. Narasumber Workshop Keguruan dalam Lingkungan Departemen Agama RI (2004),
  10. Narasumber Warkshop Guru dan Kepala Sekolah SD, SMP Kota Madya Jambi (2005 – 2006),
  11. Dosen pada Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yasni Muara Bungo (2005 – 2012),
  12. Wakil Ketua Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta Wilayah XIII Jambi (2008 – 2012),
  13. Anggota Tim Pakar Pendidikan Komisi IV DPRD Provinsi Jambi (tahun 2010),
  14. Dosen Program Pascasarjana IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi (Maret 2010 – sekarang )
  15. Dosen Megister Teknologi Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Jambi (UNJA) (Februari 2010 – sekarang).
  16. Ketua Umum IPTPI (Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia) Cabang Jambi, Periode 2011-2014.

 

 

 

 

Karya Ilmiah berupa buku yang telah dipublikasikan adalah;

  1. Matode Pembelajaran yang Berhasil. Penerbit Sesama Mitra Suksesa Jakarta (2001).
  2. Sepuluh Kiat Sukses Mengajar di Kelas. Penerbit Nimas Multima Jakarta (2002).
  3. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2003).
  4. Pengajaran Micro; Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Penerbit Fakultas Tarbiyah Press (2004).
  5. Pengembangan Kompetensi Pemelajar. Penerbit Universitas Indonesia Press Jakarta (2004).
  6. Paradigma Baru Reformasi Pendidikan Tinggi Islam. Penerbit Universitas Indonesia Press Jakarta (2004).
  7. Profesionalisasi Guru dan Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2006).
  8. Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2006).
  9. Kiat Membelajarkan Siswa. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2007).
  10. Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2007).
  11. Taktik Mengembangankan Kemampuan Siswa. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2008).
  12. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (editor). Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2008).
  13. Paradigma Pendidikan Konstruktivistik. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2008).
  14. Manajemen Strategis dalam Kompetisi Pasar Gelobal (editor). Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2009).
  15. Manajemen Pembelajaran Kelas. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2009).
  16. Standarisasi Kinerja Guru. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2010).
  17. Administrasi Pendidikan. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2010).
  18. Paradigma Baru Pembelajaran. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2010).
  19. Panduan Pendidikan Anak Usia Dini. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2010).
  20. Orientasi Baru Ilmu Pendidikan. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2012).
  21. Desain Baru Pembelajaran Konstruktivistik. Penerbit Referensi, Jakarta (2012).
  22. Strategi dan Metode dalam Model Pembelajaran. Penerbit Referensi, Jakarta (2012).

 

Artikel ilmiah dalam jurnal akreditasi international dan nasional

  1. Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan, EDUKASI,  Volume VII, Nomor 3,    Juli – September 2009. (Akreditasi A). Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan  Badan Litbang dan Diklat DEPAG RI, Jakarta, 2009.
  2. Jurnal Ilmu Agama dan Ilmu Sosial, SOSIO-RELIGIA, Vol. 9 Edisi Khusus, Februari 2010. (Akreditasi B). Lingkar Studi Ilmu Agama dan Ilmu Sosial (LinkSAS), Yogyakarta, 2010.
  3. Aplikasi Bahan Ajar Bahasa Arab Bermedia Komputer dalam Memotivasi Belajar Siswa Kelas XI Semester II Di Madrasah Aliyah Negeri 4 Muaro Jambi (Journal Akreditasi Nasional). Vol 10, No 2 (2016) http://journal.walisongo.ac.id/index.php/Nadwa/article/view/1282
  4. The influence of leadership style and professionalism of head of madrasah to madrasah culture in man model jambi (Journal Scopus 2016). http://www.serialsjournals.com/serialjournalmanager/pdf/1469788738.pdf
  5. Interactive online-based learning materials development (Journal Scopus 2016). http://ttem.ba/volume-11-number-4/
  6. Correlation Between Personality Competence Of Religion Teachers And Educational Interaction Process With The Character Educational Development Students At 36 Junior State High School Sarolangun (Volume 3 issue 9 2016). http://valleyinternational.net/index.php/our-jou/theijsshi
  7. The Relationship between School Cultures and the Principal’s Leadership Style and the Effectiveness of the Principal’s Leadership |Volume||4||Issue||10||2016|. ijsrm.in
  8. Evaluation Program:The Communicative English Language Learning (CELL) With CIPP. Vol-2, Iss-10 (Oct, 2016). http://scholarsbulletin.com/
  9. Development of Mathematic Teaching Book with Creativity Approach (GIF.0.765. 2017). https://mg.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=1nsltcb90k1on#4106378935
  10. The Management of School Culture (April 2017). http://www.tojdac.org/tojdac/VOLUME7-APRLSPCL.html
  11. Developing Group Investigation Based Student Worksheets (Volume 7 No. 3 June 2017). http://www.jellonline.com/index.php/jell/article/view/730000215/79
  12. Material Effect on Entrepreneurship Learning towards Interest in Entrepreneurship activities of Students (Volume 7 No.2 June 2017). http://jormonline.com/index.php/jorm/article/view/182/pdf_43
  13. Relationships between Lecturer Performance, Organizational Culture, Leadership, and  Achievement Motivation (Foresight Vol. 11 No 2  2017 index Scopus). https://foresight-journal.hse.ru/data/2017/07/03/1170269116/2-2017-eng.pdf
  14. Взаимосвязи между организационной культурой,  лидерством, мотивацией  к достижениям и результативностью  университетских преподавателей. https://foresight-journal.hse.ru/data/2017/06/22/1170269116/2-2017.pdf
  15. Vegetasi Komunitas Nepenthes SPP. Di kawasan Hutan Kampus Institut Agama Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi (10(2), 2017, 83-90). http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/kauniyah/

Email dan Blog

martinisyamin@yahoo.co.id

martinisyamin03@gmail.com

https://wordpress.com/post/martinis1960.wordpress.com

 

 

 

Pengetahuan Semantik

Tinggalkan komentar

Dalam dunia pengajaran anak, guru perlu memberikan pengetahuan semantik. Perkembangan pengetahuan semantik berkaitan erat dengan perkembangan pengetahuan konseptual (Vygotsky, 1962). Pengetahuan semantik merujuk kepada penamaan kata yang merincikan suatu konsep dan juga jaringan semantik atau skemata, yang menunjukkan hubungan timbal balik antarkonsep (Beverly Otto, 2015; 8). Selanjutnya,  mengatakan banwa jaringan semantik untuk memudahkan peserta didik untuk memudahkan pembelajaran baru dan ingatan serta berkonstribusi terhadap pengaturan dan penguaraian terhadap pembelajaran koseptual sebelumnya.

Misal yang dibuat oleh Beverly Otto, bola dalam bentuk bundar yang mempunyai sifat-sifat menggelinding dan memantul dan dapat dipergunakan dalam permainan atau aktifitas fisik lainnya. Dalam mengenal konsep ini, anak-anak belajar bahwa benda dan tindakan dengan ciri atau fungsi yang hampir sama bisa dikelompokkan dalam kategori yang sama atau kategori yang berkaitan. Misalnya, ketika anak mempelajari benda plastik kecil, bundar, dan berwarna merah disebut bola, ia melihat kemiripan ketika ia melihat bola berwarna putih yang digunakan dalam permainan sepak bola dan juga menyebut itu sebagai bola, atau dia bisa berusaha menggelinding di atas lantai. Jaringan semantik atau skema berkembang ketika seseorang melihat hubungan anatarkonsep. Seiring waktu, begitu seorang anak mempunyai pengalaman tentang berbagai jenis bola yang digunakan untuk tujuan yang berbeda-beda, suatu skema tentang bola berkembang.

(Tulisan ini adalah saduran dari Buku Perkembangan Bahasa Pada Anak Usia Dini)

Pantun Jenaka Anak Merangin II

Tinggalkan komentar

Siamang bagayut

Ungko menggapai

Siamang bagayut di pangkal dahan

Ungko menggapai di ujung ranting

Usahkan badan menanggung

Mato yang melihatpun sakit

Pantun Jenaka Anak Merangin I

Tinggalkan komentar

Batang pindis duo cupang

Sicupang dimakan api

Nan gadis dua segantang

Nan Jando limo segantang padi

Tali Undang Tambang Teliti

Tinggalkan komentar

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/69/Lambang_Kabupaten_Merangin.pngKata yang tertera dalam lambang Kabupaten Merangin TALI UNDANG TAMBANG TELITI diambil dari Filosofi adat Merangin. Bersumber dari Rotani Yutaka (Bupati Merangin periode I & II 1998-2008) yang sebelumnya diterima dari H. Adnan (alm) Pulau Rengas (tokoh adat Merangin).

Arti TALI

“Nan batampuk ke bukit Gombak, nan batangkai ke gunung Lidang, nan batali ke gunung Lintau”

“Tampuk nan dibilang sigaji Rajo, tangkai nan dibilang tinggal sigaji Batin, tali nan dibilang tinggal sigaji Datuk”

“Pasirah mengapali Margo yang terdiri dari beberapa dusun-dusun, dan setiap dusun dibenarkan untuk membuat peraturan asal tidak bertentangan dengan tampuk, artinyo menurut sepanjang adat membuat pemukatan asal tidak bertentangan dengan Rajo. Demikian pula dalam bernegara, pemerintah daerah dibenarkan membuat peraturan daerah asal tidak bertentangan dan tumpang tindih dengan peraturan yang dibuat oleh pemerintah pusat atau undang-undang yang berlaku di negara Republik Indonesia.”

Arti UNDANG

Undang artinya undang/aturan yang dikundang  (bahasa Merangin adalah dibawa pergi kemana saja), setiap warga harus patuh dan taat pada aturan dan undang yang berlaku di suatu tempat. Istilah adat Merangin “undang melebuh gajah.”

Contoh Undang, sebelum orang mendah di tepian, sebelum orang kehilangan di dusun. Sebelum Enggang lalu, sebelum anting patah.

arti TELITI

Teliti atinya ditelisik, dititi, ditelusuri, dan dicari jawaban atau dibuktikan dengan data empiris (mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit). Istilah adat Merangin “teliti melebuh semut.”

Contoh Teliti, seseorang tertuduh mencuri maka diperlukan pembuktian dengan cara ditelisik, dititi, ditelusuri sehingga benar-benar adanya. Istilah adat Merangin bukti dititi; dikejar lelah, taikat takebat, tertangkap dengan bukti.

Older Entries