Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Yth,  Bupati Tanjung Jabung Barat,

Yth,  Rektor IAIN STS Jambi sebagai Ketua Koordinator Kopertais Wilayah XIII Provinsi Jambi,

Yth,  Ketua DPRD Tanjung Jabung Barat,

Yth,  Ketua Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama Tanjung Jabung Barat

Yth,  Kepala Kantor Kementarian Agama Tanjung Jabung  Barat, Kepala Dinas, dan Kepala Badan

Yth,  Ketua STAI Tanjung Jabung Barat

Yth,  Anggota senat STAI Tanjung Jabung Barat

Yth,  Unsur Muspida

Yth,  Bapak/Ibuk Orangtua/Wali/Suami/Isteri/Kekasih para wisudawan.

Pertama-tama izinkan saya menyampaikan orasi ilmiah dengan judul;

Prahara Pendidikan[1]

DR. H. Martinis Yamin, M.Pd

Pendidikan Indonesia selalu diterpa prahara, problema-problema yang silih berganti, hilang satu tumbuh seribu, dan semua pihak telah ikut membendungkan prahara yang mengobrak abrik pendidikan Indonesia, tetapi belum menemui hasil yang maksimal.

Kehidupan global dan majunya teknologi membuatkan kita terbirit-birit menata pendidikan Indonesia, dana pendidikan dikucurkan oleh pemerintah dengan alokasi yang besar, 20% dari APBN dan 20% APBD tetapi dana ini tidak sampai pada lapisan bawah secara utuh untuk menyelesai probelam pendidikan, karena dimakan rayap dan tikus yang nakal. Permasalahan ini terjadi pada mutu pendidikan yang rendah, baik itu dari segi tenaga pendidik, penerapan kurikulum, sarana dan prasarana, lulusan, pembiayaan, pengelolaan, proses pembelajaran, dan penilaian.

  1. A. Prahara Mutu Pendidikan Jambi

Quo Vadis mutu pendidikan di provinsi Jambi, pada tahun 2009 catatan Human Development Index (HDI), mutu pendidikan provinsi Jambi menempati ranking 29 dari 33 provinsi Indonesia. Kemudian 32 orang siswa yang berasal dari SMA, SMK, dan MA provinsi Jambi terjaring memasuki perguruan tinggi ternama di Indonesia, seperti; UI, ITB, UGM, UNPAD, UNAIR, dan UNBRAW. Berapa naifnya mutu pendidikan kita? Kapan kita mampu keluar dari lingkaran ketertinggalan? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

Selanjutnya, survey Komisi IV DPRD Provinsi Jambi tahun 2010 terhadap 2400 sekolah pada 7 kabupaten dan 1 kota, menyatakan;

  1. I. Fisik
    1. 85% tidak layak
      1. 90% Sekolah Dasar Negeri tidak memenuhi standar permendagri
      2. 95% SMUN tidak memenuhi standar
        1. 100% perpustakaan sekolah tidak memenuhi standar
        2. Hampir semua SDN tidak mempergunakan media yang tersedia di sekolah
  2. II. Manajemen

Semua sekolah memiliki visi tetapi tidak dipahami dan tidak diimpelemntasikan

  1. III. Pembiayaan

Dana komite yang seharusnya untuk peningkatan mutu pembelajaran, digunakan untuk membangun fasilitas fisik, seperti membangun pagar, keramik sekolah, perbaikan WC, dll.

  1. B. Prahara dalam Orientasi Pendidikan

Sejak dahulu kala pendidikan kita berorientasi untuk mengubah perilaku peserta didik, menciptakan peserta didik memiliki pengetahuan, dan menjadi orang-orang pintar. Semangat ini telah mengakar dan mengelegar di segenap lapisan komunitas bangsa yang tergoyahkan. Sampai hari ini, sudah 65 tahun Indonesia mardeka orientasi itu tidak terwujud secara kaffah, tidak dapat pungkiri banyak orang-orang pintar yang dilahirkan dari lembaga pendidikan tapi hanya untuk menipu orang-orang bodoh, banyak orang-orang santun yang dilahirkan dari lembaga pendidikan tetapi menzalimi orang lain, banyak orang-orang yang berpengetahuan dihasil dari lembaga pendidikan tetapi hanya untuk dirinya sendiri (masih segar dalam ingatan kita kasus Gayus merupakan produk orientasi pendidikan perilaku). Orientasi perilaku (behavioristik) sudah lama ditinggal oleh negara-negara maju karena sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan umat manusia. Sementara pendidikan Indonesia masih berjalan di tempat.

Orientasi baru pendidikan adalah konstruktivistik dengan paradigma baru bahwa tidak semua anak manusia itu pintar, kepintaran merupakan faktor keturunan dan guru akan tidak mampu mengubahkannya, anak yang bodoh tidak akan sanggup seorang guru untuk mengubahnya menjadi anak normal dan genius. Anak yang pintar memang dilahir pintar dan anak bodoh dilahirkan bodoh. Peran guru hanya sekedar memaksimal kepasitas, seperti IQ anak normal 90 – 110 (minimal 90, maksimal 110).. Anak memiliki kecerdasan yang banyak, seperti kecerdasan bahasa, logico-matematika, visual-spasial, musik, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, naturalistik, dan eksistensial yang dibawa sejak lahir, pada hakekatnya cerdas bukanlah pintar akan tetapi sering disamakan artinya. Konstruktivistik memandang kecerdasan itu ibarat sebilah mata pisau, ia akan tajam bila diasah dan tetap tumpul bila tidak diasah. Guru berpan sebagai mentor, mediator, dan fasilitator dalam proses pembelajaran.

Otak sama halnya dengan otot, dapat dilatih dan dibiasakan untuk melakukan sesuatu

Kepintaran yang dimiliki oleh masing-masing individu boleh saja sedang atau pada tingkat normal, tetapi memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, di negara maju seleksi bakat suatu hal yang mutlak karena bakat merupakan potensi yang dapat ditingkatkan dan dikembangkan, orang tua tidak merasa malu bila anaknya tidak tamat sarjana atau sekolah tinggi, tetapi anak mereka berprestasi dalam musik, olah raga, seni, dan budaya. Prestasi seperti ini akan dapat menciptakan mereka sejahtera dan terhormat di tengah masyarakat. Di Australia peserta didik yang rendah matematik tetap dinyatakan lulus ujian akhir (UAN) manakala mereka memiliki bakat, seperti bakat renang, dan peserta didik tersebut diberi materi latihan renang yang sama dengan materi pelajaran lain. Sementara pendidikan di Indonesia memaksa pengetahuan ke dalam pikiran peserta didik agar peserta didik pintar.

Membelajar menurut kaum konstruktivistik bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru kepada peserta didik, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan peserta didik membangun sendiri pengetahuannya.

Ujian Nasional merupakan kegagalan pendidikan Indonesia karena menentukan kelulusan peserta didik dengan standar reference dan criterium reference, sementara norm refenece diabaikan. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragam, beragam dalam kebudayaan, beragam agama, beragam etnis, beragam lingkungan, beraga tingkat sosial, dll yang menjadi pertimbangan. Ujian nasional menurut pandat saya boleh saja dilaksanakan untuk pemetaan pendidikan atau melihat standarisasi pendidikan bukan menentukan lulus atau tidak lulusnya peserta didik. Menentukan lulus atau tidak lulus adalah guru yang melaksanakan proses.

Otak bukan seperti ember yang siap diisikan dengan air

Peningkatan kualitas guru perlu mendapat perhatian pemerintah, sertifikasi guru tidak menjadi jaminan bahwa guru itu memiliki kualitas baik. Minat baca dan pengembangan diri guru masih terasa rendah, terutama di daerah yang relatif jauh dari ibu kota kabupaten dan provinsi. Lembaga pendidikan telah berkembang begitu pesat, masyarakat dapat mengaksesnya dengan cepat, tersedia Universitas terbuka, Sekolah Tinggi, seperti STAI An Nadwah telah berada di hadapan mata, kenapa masyarakat kita masih termenung, berpangku tangan, dan diam. Berangkali asik dengan permainan-permainan yang membuat mereka lupa diri. Berpikir dan bertindak yang kurang cepat akan akan membuatkan umat manusia tergilas dan tertinggal dalam peradaban.

Sosialisasi dan himbauan selalu diharapkan untuk memasyarakatkan sekolah, memasyarakatkan pendidikan. Ketertinggalan, kemiskinan, dan kebodohan akan dapat diatasi dengan pendidikan dan sekolah.

Kemampuan peserta didik ibarat bunga di dalam vas yang harus dipelihara, dirawat, disirami, dan dipupuk agar ia tumbuh subur, dan berbunga.

Pada intinya sekolah dan orientasi pendidikan bagi seseorang adalah menciptakan mereka untuk berpikir dengan mempergunakan pengetahuan, seseorang yang sudah mampu mempergunakan pikirannya merupakan kemajuan pada dirinya. Di dalam al-Qur’an banyak sekali kalimat tentang berpikir, “apakah kamu tidak mengetahui,” “apakah kamu tidak berpikir. “ Pikiran yang dimiliki masing –masing individu akan mampu menciptakan manusia menjadi manusia, manusia yang beriman, berakhlak, dan manusia mengetahui tentang dirinya. Allah berfirman “Siapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya.” Berpikir yang baik adalah lebih penting daripada mempunyai jawaban yang benar atas suatu persoalan yang sedang dipelajari. Seseorang yang mempunyai cara berpikir yang baik, dalam arti bahwa cara berpikirnya dapat digunakan untuk menghadapi suatu fenomena baru, akan dapat menemukan pemecahan dalam menghadapi persoalan yang lain. Sementara itu, seorang peserta didik yang sekedar menemukan jawaban benar belum pasti dapat memecahkan persoalan yang baru karena mungkin ia tidak mengerti bagaimana menemukan jawaban itu. Bila cara berpikir itu berdasarkan pengandaian yang salah atau tidak dapat diterima pada saat itu, ia masih dapat memperkembangkannya.  Membelajarkan adalah membantu seseorang berpikir secara benar dengan membiarkan ia berpikir sendiri.

C.  Kesimpulan

Sekolah merupakan sarana untuk mengembangkan, menyuburkan, dan merawat pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik. Bukan sarana untuk memberikan pengetahuan. Di samping itu kepedulian pemerintah dan masyarakat sangat diharapkan, tanpa kerjasama semua pihak mustahil pendidikan akan berkualitas dan maju.

Demikianlah orasi ilmiah saya semoga bermanfaat dan dapat direnungkan bersama.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

DAFTAR BACAAN

Brown, J. S.S., Collins, A. & Duguld, S. (1989) Situated Cognition and The Culture of Learning. Educational Researcher, 18 (1).

.

Grabinger, S.R. and Dunlap, J. C (1995) Rich Environment for Active Learning: a definision ALT-J, Journal of the Association for Learning Teknology. 3 (2).

Kearsley, G. (n.d) Situated Learning (J. Lave). Retrieved September 10, 2002, from Explorations in Learning & Instruction: The Theory Into Practice Database Web Site: http//tlp.psychology.org/lave.html.

Lave, J., Wenger, E. (1991). Situated Learning: Legitimed pariperal participation. Cambrige, UK: Cambridge University Press.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DR. H. MARTINIS YAMIN, M.Pd lahir di Pulau Rengas Bangko 3 Nopember 1960, putra pertama dari Bapak H. Ibnu Yamin dan Ibu Hj. Nasiatul Asiah, menyelesaikan pendidikan SD Negeri Pulau Rengas tahun 1971, MTsN tahun 1975, PGA tahun 1979 di Bukittinggi, IAIN Padang Jurusan Pendidikan Agama Islam tahun 1986, S-2 UNP Prodi Teknologi Pendidikan tahun 1999, dan sejak September tahun 2007 mengikuti program S-3 Universitas Negeri Jakarta Prodi Teknologi Pendidikan dan berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka pada tanggal 30 Oktober 2009 .

Menikah dengan Hj. Suriana, dikurniai 3 orang anak. Anak pertama dan kedua kembar sepasang. Satria Fitrio 27 April 1990 sekarang kuliah pada Fakultas Teknik Pertambangan di Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang; Ethika Fitri 27 April 1990 sekarang kuliah pada Fakultas Ekonomi Prodi Akutansi Universitas Jambi (UNJA); Esti Imania 19 Mei 1993 sekarang sekolah di SMAN 5 Jambi Jurusan IPA.

Pengalaman jabatan

  1. Guru PGAN Jambi (1986-1987),
  2. Guru Madrasah Aliyah Laboraterium Jambi (1986-1987),
  3. Guru CPNS SMAN Muara Sabak (1987),
  4. Dosen Tetap pada Fakultas Tarbiyah IAIN Jambi (1989 – sekarang),
  5. Dosen Senior pada Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta (STAI) SMQ Bangko (1994 – sekarang),
  6. Ketua UP-PPL Fakultas Tarbiyah IAIN Jambi (1999 – 2003),
  7. Pembantu Dekan III Fakultas Tarbiyah IAIN Jambi (2003 – 2007),
  8. Narasumber Workshop Keguruan dalam Lingkungan Departemen Agama RI (2004),
  9. Narasumber Warkshop Guru dan Kepala Sekolah SD, SMP Kota Madya Jambi (2005 – 2006),

10. Dosen Senior pada Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta (STAI) Yasni Muara Bungo (2005 – sekarang),

11. Wakil Ketua Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta Wilayah XIII Jambi (2008 – sekarang),

12. Anggota Tim Pakar Pendidikan Komisi IV DPRD Provinsi Jambi (Januari 2010 – sekarang),

13. Dosen Program Pascasarjana IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi (Maret 2010 – sekarang )

14. Dosen Megister Teknologi Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Jambi (UNJA) (Februari 2010 – sekarang).

Karya Ilmiah berupa buku yang telah dipublikasikan adalah;

  1. Matode Pembelajaran yang Berhasil. Penerbit Sesama Mitra Suksesa Jakarta (2001).
  2. Sepuluh Kiat Sukses Mengajar di Kelas. Penerbit Nimas Multima Jakarta (2002).
  3. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2003).
  4. Pengajaran Micro; Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Penerbit Fakultas Tarbiyah Press (2004).
  5. Pengembangan Kompetensi Pemelajar. Penerbit Universitas Indonesia Press Jakarta (2004).
  6. Paradigma Baru Reformasi Pendidikan Tinggi Islam. Penerbit Universitas Indonesia Press Jakarta (2004).
  7. Profesionalisasi Guru dan Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2006).
  8. Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2006).
  9. Kiat Membelajarkan Siswa. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2007).

10. Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2007).

11. Taktik Mengembangankan Kemampuan Siswa. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2008).

12. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (editor). Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2008).

13. Paradigma Pendidikan Konstruktivistik. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2008).

14. Manajemen Strategis dalam Kompetisi Pasar Gelobal (editor). Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2009).

15. Manajemen Pembelajaran Kelas. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2009).

16. Standarisasi Kinerja Guru. Penerbit Gaung Persada Press Jakarta (2010).

Artikel Ilmiah dalam Jurnal Terakreditasi Nasional

  1. Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan, EDUKASI,  Volume VII, Nomor 3, Juli – September 2009. (Akreditasi A). Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat DEPAG RI, Jakarta, 2009.
  1. Jurnal Ilmu Agama dan Ilmu Sosial, SOSIO-RELIGIA, Vol. 9 Edisi Khusus, Februari 2010. (Akreditasi B). Lingkar Studi Ilmu Agama dan Ilmu Sosial (LinkSAS), Yogyakarta, 2010.


[1] Disampaikan dalam Wisuda Sarjana Baru STAI An Nadwah di Kuala Tungkal tgl. 30 Mei 2010.