Bertandang adalah pergi ke rumah seseorang untuk melakukan silaturrahmi, berdiskusi, bertanya, dan mendapatkan suatu informasi. Istilah bertandang sangat dikenal dalam masyarakat Melayu yang berdiam di kabupaten Merangin, Muara Bungo, Muara Tebo, Sarolangun, Kerinci, Muaro Jambi, dan Batang Hari.

Kemajuan dan modernisasi sangat banyak mempengaruhi tradisi dan budaya manusia, kita merindukan suatu tradisi lama masih dipakai oleh masyarakat, ia tidak bertahan lama dipakai oleh masyarakat karena tradisi itu dianggap kuno dan tertinggal zaman, sebenarnya dalam tradisi dan budaya terdapat beberapa nilai positif yang dapat kita petik dan kita pelajari. Apakah suatu tradisi dan budaya lama itu tertinggal/kuno? Coba kita perhatikan masyarakat Jepang sampai hari ini masih tetap berkimono, kimono suatu tradisi lama yang dilestarikan. Sebenarnya banyak sekali tradisi dan budaya yang kita sudah tidak kenal dan mengetahuinya, seperti tradisi menumpang angat budaya anak muda yang sudah menghilang, menumpang angat bukan perempuan dan laki tidur bersama akan tetapi mereka memiliki tata krama untuk melakukan PDKT yang ditemani oleh orang tua pihak perempuan. Demikian juga tradisi bertandang adalah tradisi anak muda zaman dahulu, cara-cara mereka untuk melakukan penjejakan dan berkenalan melalui aturan-aturan adat setempat. Zaman dahulu hiburan terasa kurang dan tidak seperti sekarang, salah satu sarana hiburan anak muda adalah bertandang, sewaktu mereka bertandang mereka berbalas pantun antara laki dan perempuan, kemudian para bujangan masuk dan keluar kampung dengan bersuling di tangan, mereka piawai bersuling, dan terakhir tape merambah dunia mereka, masing membawa tape sembari mendengar dendang lagu yang dilantun oleh penyanyi ternama dan mereka ikut bernyanyi bersama.

Bertandang  adalah pendekatan seorang laki (perjaka) terhadap seorang perempuan (perawan) untuk melakukan pendekatan dan penjejakan. Waktu bertandang dilakukan pada malam hari setelah shalat Isa dan makan malam (biasa sekitar pukul 22.00 s.d 24.00), sebelum seorang laki-laki bertandang akan diberikan informasi melalui perantara oleh orang terdekat bahwa ada seseorang yang akan bertandang malam nanti ke rumah ini. Pihak perempuan akan memberitahukan kepada perantara bahwa ia bersedia menerima atau tidak, setelah terjadi kesepakatan pertandangan akan dilaksanakan oleh seorang laki-laki, kadang-kadang jika laki-laki yang bersangkutan merasa canggung dan kaku, ia akan membawa seseorang teman sebagai pedamping atau juru bicara, demikian pula pihak perempuan seorang anak gadis tidak dibiarkan sendirian akan tetapi didampingi oleh ibu atau neneknya. Adat melarang acara bertandang berdua-duaan di rumah, jika pertandangan kedepatan berduaan oleh masyarakat, maka mereka akan dikenakan denda adat (kambing satu, beras sepuluh gantang) pertandangan memiliki aturan tidak tertulis, duduknya seorang laki-laki yang bertandang harus dekat pintu masuk ke rumah dan tidak boleh masuk jauh ke dalam rumah.

Tempo dulu rumah adalah rumah panggung dengan penerang lampu taplok (lampu sumbu). Bertandang disamping silaturrahmi, pendekatan, dan hiburan, antara laki-laki dan pihak perempuan saling berpantun dan menjawab pantun menunjukkan isi hati mereka, biasanya mereka mempergunakan kata-kata kiasan dan bermakna. Tatkala sudah merasa satu perasaan, pertandangan akan bisa dilanjutkan pada malam-malam berikutnya tanpa perantara, cukup pihak laki-laki buatkan tanda siulan dan batuk di samping rumah, maka pihak perempuan mempersilakan naik ke rumah. Mereka yang telah menjalin cinta dan kasih sayang menandainya dengan tukar menukar tanda mata, seperti sapu tangan, kain panjang, kain sarung, cincin, dan tanda mata lainnya.

Pertandangan merupakan cikal bakal untuk merajut rumah tangga, manakala seorang laki-laki dan seorang perempuan telah sepakat bahwa mereka melanjutkan ke jenjang rumah tangga, dia (perempuan) melaporkan kehadapan orang tuanya bahwa dia akan dipinang oleh pihak laki-laki oleh mamak (paman) nenek yang empat dan puyang yang delapan datang ke rumah pihak perempuan, pihak perempuan juga menyiapkan penyambutnya dengan nenek yang empat dan puyang delapan. Mereka (pihak laki-laki) melamar dan jika lamaran itu diterima biasanya diteruskan pada penentuan hari menikah dan walimatul urushnya serta penentua mahar perempuan.

Perkawinan seorang anak perempuan bagi orang tua suatu kewajiban yang harus dipikul dalam istilah adat dak kayu jenjang dikeping, dak meh bungka diasah bahwa pekwainan itu mesti dilaksanakan. Maka nenek mamak melakukan kesepakatan untuk menikahkan anak keponakannya untuk saling bahu membahu kecik samo dicacah, gedang samo dilapah artinya tanggung jawab dipikulkan bersama-sama untuk membantu orang tua anak keponakannya “ringan sama dijinjing dan berat sama dipikulkan”.

Tradisi bertandang lambat laun memudar dan menghilang seiring dengan perkembangan pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya di tengah masyarakat, pendidikan yang tinggi di tengah masyarakat yang membuat tradisi bertandang tidak lagi dilakukan, mereka sudah berkirim surat, bertemu di sekolah, di jalan, di pasar, dan di berbagai tempat. Kemudian juga teknologi seperti media, penerang listrik, dan informasi juga membuatkan tradisi bertandang memudar dan menghilang, akan tetapi antara satu tempat dengan tempat lain tradisi bertandang juga berbeda karena sangat ditentukan modernisasi dan adat istiadat yang diakomodasinya, memudar dan hilangnya tradisi bertandang sejak tahun 1980-an.  Bertandang suatu tradisi masyarakat melayu tradisional yang tergilas oleh modernisasi zaman. Tempo dulu anak perempuan dan laki-laki sekolah sebatas SD setelah itu dibesarkan dan didik oleh lingkungannya, perkawinan rata-rata diusia muda berlainan dengan sekarang bahwa perkawinan itu dilaksanakan tatkala kedua belah pihak matang untuk berkeluarga, minimal usia perempuan menikah berumur 16 tahun dan laki-laki 18 tahun. Jika perkawinan dilaksanakan di bawah umur ini pihak orang tua dapat dipenjarakan karena melanggar Undang-undang perkawinan.