a. Pembelajaran Kontekstual

Filosofi pembelajaran kontekstual adalah konstruktivistik, yaitu belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Peserta didik mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta. Fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan (direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2003; 26). Menurut pandangan konstruktivistik, perolehan pengalaman seseorang itu  dari proses asimilasi dan akomodasi sehingga pengalaman yang lebih khusus ialah pengetahuan yang tertanam dalam benak sesuai dengan skemata yang dimiliki seseorang. Skemata itu tersusun dengan upaya dari individu peserta didik yang telah bergantung kepada skemata yang telah dimiliki seseorang (Handoyo, 1998; 4-5).

Pembelajaran kontekstual bertujuan untuk membantu peserta didik memahami materi pelajaran yang sedang mereka pelajari dengan menghubungkan pokok materi pelajaran dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti berikut ini. Pertama, membuat hubungan yang bermakna (making meaningful conections), yaitu membuat hubungan antara subjek dengan pengalaman atau antara pembelajaran dengan kehidupan nyata peserta didik sehingga hasilnya akan bermakna dan makna ini akan memberi alasan untuk belajar. Kedua, Melakukan pekerjaan yang berarti (doing significant work), yaitu dapat melakukan pekerjaan atau tugas yang sesuai. Ketiga, melakukan pembelajaran yang diatur sendiri (self regulated learning), yaitu: (1) siswa belajar melalui tatanan atau cara yang berbeda-beda bukan hanya satu, mereka mempunyai ketertarikan dan talenta (bakat) yang berbeda; (2) membebaskan peserta didik menggunakan gaya belajar mereka sendiri, memproses dalam cara mereka menekspolrasi ketertarikan masing-masing dan mengembangkan bakat dengan intelegensi yang beragam sesuai dengan selera mereka; (3) proses pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam aksi yang bebas mencakup kadang satu orang, biasanya satu kelompok. Aksi bebas ini dirancang untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kontek kehidupan sehari-hari peserta didik dalam mencapai tujuan yang bermakna. Tujuan ini dapat berupa hasil yang terlihat maupun yang tidak. Keempat, bekerjasama (collaborating), yaitu proses pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam satu kelompok. Kelima, berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking), yaitu pemikiran krits adalah: (1) proses yang jelas dan terorganisir yang digunakan dalam kegiatan mental, seperti penyelesaian masalah, pengembilan keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah; (2) kemampuan untuk mengevaluasi secara sistematis, sedangkan pemikiran kreatif adalah kegiatan mental yang memupuk ide-ide asli dan pemahaman-pemahaman baru. Keenam, membantu individu untk tumbuh dan berkembang (nurturing the individual), yaitu menjaga dan mempertahankan kemaujaun individu. Hal ini menyangkut pembelajaran yang dapat memotivasi, mendukung, menyamangati, dan memunculkan gairah belajar peserta didik. Pembelajar harus memberi stimuli yang baik terhadap motivasi belajar peserta didik dalam lingkungan sekolah. Pembelajar diharapkan mampu memberi pengaruh baik terhadap lingkungan belajar peserta didik. Antara pembelajar dan orang tua mempunyai peran yang sama dalam mempengaruhi kemampuan peserta didik. Pencapaian perkembangan peserta didik tergantung pada lingfkungan sekolah, juga pada kepedulian perhatian yang diterima peserta didik terhadap pembelajaran (termasuk orang tua). Hubungan ini penting dan memberi makna pada pengalaman peserta didik nantinya di dalam kelompok dan dunia kerja. Ketujuh, mencapai standar yang tinggi (reaching high standars), yaitu menyiapkan peserta didik mandiri, produktif dan cepat merespon atau mengikuti perkembangan teknologi dan zaman. Dengan demikian dibutuhkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan sebagai wujud jaminan untuk menjadi orang yang bertanggung jawab, pengambil keputusan. Kedelapan, menggunakan penilaian yang sesungguhnya (using authentic assessement), yaitu ditujukan pada motivasi peserta didik menjadi unggul di era teknologi, penilaian sesungguhnya ini berpusat pada tujuan, melibatkan keterampilan tangan, penerapan, dan kerjasama serta pemikiran tingkat tinggi yang berulang-ulang. Penilaian itu bertujuan agar para peserta didik dapat menunjukkan penguasaan dan keahlian yang sesungguhnya dan kedalaman berpikir dari pengertian, pemahaman, akal budi, kebijaksanaan dan kesepakatan (Johnson, 2002; 24-25).

Praktik pembelajaran kontekstual meliputi; (1) peserta didik aktif belajar; (2) peserta didik bel;ajar dari satu peserta didik ke peserta didik lain melalui kersama, tim kerja, dan refleksi diri; (3) pembelajaran hubungan dengan dunia nyata dan atau isu-isu simulasi dan masalah-masalah yang bermakna; (4) peserta didik bertanggung jawab untuk memantau dan mengembangkan pembelajaran mereka sendiri; (5) menghargai pendekatan konteks kehidupan peserta didik dan pengalaman-pengalaman peserta didik sebelumnya merupakan dasar dari pembelajaran; (6) peserta didik merupakan partisipasi yang aktif di dalam peningkatan masyarakat; (7) pembelajaran peserta didik dinilai dengan berbagai cara; (8) perspektif dan pendapat peserta didik memiliki nilai dan dihargai; (9) pembelajar bertindak sebagai fasilitator dalam pembelajaran peserta didik; (10) pembelajar menggunakan berbagai teknik pembelajaran yang tepat; (11) lingkungan pembelajaran dinamis dan menyenangkan; (12) menekankan pada berpikir tingkat tinggi dan pemecahan masalah; (13) peserta didik dan pembelajar disiapkan untuk bereksperimen dengan pendekatan-pendekatan kreativitas seseorang; (14) proses pembelajaran sama pentingnya dengan konteks yang dipelajari; (15) pembelajaran terjadi dalam seting dan konteks ganda; (16) pengetahuan merupakan antar disiplin dan diperluas tidak hanya sebatas di dalam kelas; (17) dosen/guru menerima perannya sebagai pembelajar juga; (18) peserta didik mengidentifikasi dan memecahkan masalah dalam konteks baru (Schell dalam Direktorat Pendidikan Umum, 2002; 21-22).

Berdasarkan uraian di atas bahwa filosofi pembelajaran kontekstual, yaitu; (1) peserta didik sebagai subjek belajar; (2) peserta didik memperoleh kesempatan lebih untuk meningkatkan hubungan kerjasama antar teman; (3) peserta didik memperoleh kesempatan lebih untk mengembangkan aktivitas, kreativitas, sikap kritis, kemandirian, dan mampu mengkomunikasikan dengan orang lain; (4) peserta didik lebih memiliki peluang-peluang untuk menggunakan keterampilan-keterampilan dan pengetahuan baru yang diperlukan dalam kehidupan yang sebenarnya; (5) tugas pembelajar adalah sebagai fasilitator.

Secara sederhana proses pembelajaran dengan strategi pembelajaran kontekstual dapat divisualisasikan dengan gambar berikut ini:

Gambar 1.  Proses Pembelajaran dengan Strategi Pembelajaran Kontekstual

b. Pembelajaran Konvensional

Menurut Brandes et al bahwa dalam kelas konvensional adalah pendidik merupakan orang yang (1) mempunyai banyak informasi, (2) bekerja untuk memindahkan pengetahuan, (3) bertanggung jawab untuk mengajar pemelajar, (4) membuat pemelajar bekerja, (5) dewasa, dan profesional, mempunyai keahlian untuk membuat keputusan yang benar tentang belajar pemelajar (Donna Brandes, Paul Ginnis, 1986; 201). Selanjutnya Edward berpendapat bahwa dalam kelas konvensional dalam pembelajaran, pembelajar menggunakan buku teks untuk setiap mata pelajaran yang mereka ajarkan. Pendidik mendengarkan dan membaca bagian-bagian yang sama dari buku tersebut dan melakukan tugas yang sama setiap hari atau sebagai yang dimuat oleh pembelajar dari sebuah buku teks (Edward Wish, tt; 210). Edward mengemukan bahwa kebanyakan kelas-kelas yang konvensional menggunakan metode-metode mengajar yang paling tradisional (Edward Wish, tt; 2). Agar tercipta metode belajar verbal yang bermakna, maka pemelajar harus berperan aktif, secara terlihat ataupun tidak selama proses pembelajaran. Proses pembelajarannyapun disesuaikan untuk dapat memfasilitasi operasi mental aktif yang disebut pembelajaran searah-aktif (Bruce Joyce and Marsha Wail, 1996; 18).

Demikian juga strategi pembelajaran yang digunakan oleh pembelajar (dosen, guru) untuk menyajikan bahan pelajaran secara utuh atau menyeluruh, lengkap dan sistematis, dengan menyampaikan secara verbal. Pembelajaran ini tidak lebih dari metode ceramah yang dimodifikasikan sedemikian rupa, sehingga para mahasiswa tidak hanya tinggal diam secara pasif seperti dalam pembelajaran ceramah yang tradisional (Muhibbin Syah, 1997; 245). Demikian juga menurut pandangan tokoh pembelajaran contextual teaching and learning, bahwa tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya (Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2003; 22-23).

Menurut Cox, dalam kelas tradisional, peserta didik (1) menerima pelajaran secara pasif, (2) meniru apa yang dimodelkan pembelajar, (3) mengikuti pengarahan dari pembelajar atau buku-buku teks, (4) dinilai pada penguasaan keterampilan dalam urutan hierarki, (5) dikelompokkan menurut kemampuan, (6) mengerjakan tugas yang sama seperti peserta didik yang lain, (7) dinilai dengan membandingkan kerja dengan peserta didik lain, dan (8) berkompetisi dengan peserta didik lain (Carolle. Cox, 1999; 19). Burns mengemukakan bahwa dalam kelas tradisional, sebagian besar penekanan kurikulum matematika adalah untuk Mengajarkan aritmatika (berhitung) meliputi bagaimana: operasi (menambah, mengurangi, mengali, Membagi) terhadap (1) pecahan, (2) pecahan decimal, (3) persen. Peserta didik umumnya menghabiskan sebagian besar waktu dalam proses berhitung dan latihan dengan kertas dan pensil. Pemecahan masalah biasanya muncul pada perkembangan perhitungan, dengan Aplikasi masalah kata yang mengikuti pengajaran dan pelatihan setiap keterampilan berhitung (Marilyn Burn, 1992; 3).

Menurut Kellough, dalam pembelajaran konvensional, pembelajar bersifat otoriter, berpusat pada kurikulum, terarah, formal, informative, dan diktator, yang mengakibatkan situasi kelas berpusat pada pembelajar; dan tempat duduk peserta didik menghadap ke depan: peserta didik belajar abstrak, diskusi berpusat pada pembelajar, ceramah, peserta didik secara bersaing, sedikit pemecahan masalah, demonstrasi-demonstrasi dari peserta didik, pembelajaran dari yang sederhana kepada yang kompleks, dan pemindahan informasi dari pembelajar ke peserta didik (Richard D. Kellough, 1994; 82). Hal yang serupa dikemukakan oleh Bennet (1976) bahwa dalam kelas konvensional pendekatan progressif dalam belajar sebagai berikut: (1) materi diajarkan terpisah-pisah, (2) guru sebagai penyalur ilmu pengetahuan, (3) tidak ada kata pemelajar dalam perencanaan kurikulum, (4) penekanan pada ingatan, (5) penguatan secara ekternal, (6) terpusat pada standar akademis, (7)  ujian secara regular, (8) penekanan pada kompetensi, (9) mengajar klasikal, dan (10) sedikit penekanan pada pernyataan kreatif (Donna Brandes, Paul Ginnis, 1986; 11).

Strategi yang digunakan peserta didik mencoba memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan menangkap apa yang diajarkan pembelajar, berkata dalam hati mereka masing-masing, mengerjakan latihan dengan langkah-langkah seperti yang diajarkan pembelajar. Kennedy dan Tipps berpendapat bahwa pembelajar yang otoriter akan mengakibatkan kurangnya variasi, penekanan pada ingatan dan kecepatan, mendesak untuk bekerja sendiri-sendiri, yang semuanya itu mengakibatkan peserta didik menderita kecemasan dalam pembelajaran matematika. Mereka juga menjelaskan bahwa pemelajar yang menderita kecemasan dalam pembelajaran matematika menemukan hanya ada satu jawaban yang benar dalam memecahkan masalah karena gurunya mengajarkan prosedur dalam menyesaikan masalah serta daftar aturan-aturan untuk mengerjakan hitungan. Selama itu, semua perlakuan yang seperti itu akan mengakibatkan tidak fleksibel dan tidak menjadi kreatif (Leonard M. Kennedy, 1994; 16).

Berikut ini digambarkan kelas-kelas konvensional dosen mengajar dengan menggunakan buku-teks, dan menjadi model. Mahasiswa secara pasif mendengarkan, mencatat, dan membaca bagian yang sama dari buku-buku, dan mencoba meniru apa yang dimodelkan dosen. Materi perkuliahan disampaikan dengan metode ceramah, sekali-kali dilakukan tanya jawab antara mahasiswa dan dosen, dan pemberian  contoh materi oleh dosen. Pada gambar di bawah ini digambarkan perlakuan dalam perkuliahan.

Gambar 2.  Proses Pembelajaran dengan Strategi Pembelajaran Konvensional