Berikut ini enam strategi pembelajaran kontekstual sebagai panduan guru untuk merancang satuan pembelajaran, yaitu:

  1. Pembelajaran kontektual membicarakan sebuah permasalahan yang memiliki hubungan dalam kehidupan peserta didik.
  2. Rencana pembelajaran melahirkan beragam konteks.
  3. Memanfaatkan berbagai keterampilan peserta didik, minat, pengalaman, dan budaya.
  4. Membangun strategi yang mendukung peserta didik untuk mampu belajar mandiri.
  5. Rencana strategi merangsang saling ketergantungan di antara peserta didik dan kelompok belajar mereka.
  6. Hasil belajar peserta didik dengan menggabungkan strategi penilaian otentik.

Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu pembelajar mengaitkan antara materi yang akan dibelajarkan dengan dunia  nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu sebagai berikut;

1). Konstruktivistik (constructivistism)

Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit), dan tidak sekoyong-konyong. Dalam konstruktivistik, strategi lebih diutamakan dibanding seberapa banyak peserta didik memperoleh dan mengingat pengetahuan.

2). Menemukan (inquiry)

Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil menemukan sendiri, siklus inquiry adalah observasi (observation), bertanya (questising), mengajukan dugaan (hipotesis), pengumpulan data (data gathering).

3). Bertanya (questioning)

Bertanya dipandang sebagai kegiatan pembelajar mendorong, membimbing, dan memiliki kemampuan berpikir peserta didik, sedangkan peserta didik kegiatan bertanya untuk mengenali informasi, mengkomfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan  perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Bertanya dapat diterapkan antara peserta didik dengan peserta didik, antara pembelajar dengan peserta didik, antara peserta didik dengan pembelajar, atau antara peserta didik dengan orang yang didatangkan di kelas.

4). Masyarakat belajar (learning community)

Konsep ini menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dengan orang lain, untuk itu pembelajar disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar.

5). Pemodelan (modeling)

Model dalam pembelajaran suatu hal yang sangat dibutuhkan untuk ditiru. Pembelajar (dosen/guru) memberi model tentang bagaimana cara belajar, namun demikian pembelajar bukan satu-satu model. Model dapat dirancang dengan melibatkan peserta didik atau dapat mendatangkan dari luar.

6). Refleksi (reflection)

Cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan yang kemudian kuncinya adalah bagaimana pengetahuan itu mengendap di benak peserta didik.

7). Penilaian yang sebenarnya (authentic assessement)

Prosedur penilaian otentik adalah menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) peserta didik secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; penilain yang tidak hanya mengacu pada hasil akan tetapi penilaian pada proses, bagimana peserta didik memperoleh dan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu peserta didik agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan dari hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanya merupakan salah satu cara penilaian. Itulah hakekat penilaian yang sebenarnya (Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2003; 10-20).

Pembelajaran kontekstual merupakan konsepsi dari pengajaran dan pembelajaran yang membantu pembelajar menghubungkan isi mata pelajaran dengan situasi sebenarnya dan memotivasi peserta didik untuk membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan dan penerapannya di dalam kehidupan mereka, sebagai anggota keluarga, warga negara, dan pekerja serta mengikatnya dalam belajar mata pelajaran dengan situasi sebenarnya dan memotivasi peserta didik untuk membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka secara individu, sosial, dan dunia kerja. Strategi pembelajaran kontekstual disebut antara lain (1) didasarkan pada masalah (problem based). Kontekstual dapat dimulai dengan simulasi atau masalah nyata. Para peserta didik menggunakan keterampilan berpikir kritis dan suatu pendekatan sistemik untuk pertanyaan yang berhubungan masalah atau isu yang patut diberi perhatian masalah-masalah yang ada hubungannya dengan anggota keluarga, peserta didik, pengalaman sekolah, tempat kerja, dan masyarakat; (2) Menggunakan beraneka ragam hubungan (using multiple contexts). Pengalaman kontekstual diperkaya ketika para peserta didik belajar keterampilan di dalam berbagai konteks yaitu sekolah, masyarakat, tempat kerja, dan keluarga; (3) Menggambarkan pada keanekaragaman peserta didik (drawing upon student diversity). Perbedaan-perbedaan ini menjadi daya dorong belajar dan dapat memperbanyak kompleksitas kepada pengalaman kontekstual; (4) Membantu perkembangan pembelajaran mandiri (supporting self regulated learning). Pengalaman kontekstual memberi cukup dukungan untuk membantu peserta didik berubah dari ketergantungan ke pembelajaran mandiri; (5) Menggunakan kelompok-kelompok belajar yang salaing bergantungan (using interdependent learning groups). Para peserta didik akan dipengaruhi oleh dan akan berperan untuk pengetahuan dan kepercayaan dari yang lain. Belajar grup dan belajar bermasyarakat merupakan suatu usaha untuk berbagi pengetahuan, berorientasi pada tujuan, dan semua menginginkan mengajar dan belajar dari satu dengan yang lain. Pendidik bertindak sebagai pelatih, fasilitator dan penasehat; (6) Memanfaatkan penilaian yang sesungguhnya (employing authentic assessment). Penilaian yang sesungguhnya menunjukkan bahwa pembelajaran telah terjadi, dicampur ke dalam proses pembelajaran, dan menyiapkan para peserta didik dengan peluang dan arah untuk peningkatan. Penilaian sesungguhnya digunakan untuk memonitor kemajuan peserta didik dan menginformasikan pelaksanaan pembelajaran (Sears dalam Direktorat Pendidikan Umum, 2002; 15-16).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hakekat pembelajaran kontekstual (1) pembelajaran didasarkan pada masalah; (2) pembelajaran terjadi dalam konteks yang beragam, seperti rumah, sekolah, masayarakat, dan tempat kerja; (3) membantu perkembangan pembelajaran mandiri; (4) mengambarkan keanekaragaman peserta didik; (5) menggunakan kelompok-kelompok belajar yang saling bergantungan; (6) menggunakan penilaian yang sesunggunya; (7) memerlukan pemikiran yang lebih tinggi (kritis dan kreatif).

Tabel I.     Perbedaan   Pembelajaran Kontekstual dengan Pembelajaran Konvensional

No Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran Konvensional
1 Mengutamakan pada pemahaman peserta didik. Mengutamakan daya ingat dan hafalan.
2 Pembelajaran dikembangkan berdasarkan kebutuhan peserta didik. Pembelajaran dikembangkan oleh guru.
3 Peserta didik secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran Peserta didik penerima informasi secara pasif.
4 Mendorong pembelajaran aktif dan pembelajaran berpusat pada peserta didik (students centered). Mengupayakan peserta didik menerima materi yang disampaikan oleh pembelajar (teacher centered).
5 Penyajian pembelajaran berkaitan dengan kehidupan nyata dan masalah yang disimulasikan. Penyajian disajikan berdasarkan teoretis, abstarak,  kaku dan berpegang pada buku teks
6 Selalu mengaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik. Memberikan berupa informasi kepada peserta didik sampai saatnya diperlukan.
7 Materi pelajaran selalu diintegrasikan dengan materi lain. Materi pelajaran disajikan secara terfokus berdasarkan subjek materi.
8 Peserta didik menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, mengenal, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok). Cara belajar peserta didik di kelas lebih banyak mendengar ceramah pembelajar, mengerjakan latihan yang diberikan pembelajar (bekerja secara individual) dan belajar di rumah adalah mengerjakan tugas terstruktur dari pembelajar.
9 Pengetahuan dibangun berdasarkan kemampuan peserta didik dan atas kemauan sendiri. Pengetahuan dibangun berdasarkan kebiasaan (behavioristik) dan terikat dengan “kata dosen/guru”.
10 Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman. Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan.
11 Pembelajaran menciptakan peserta didik menjadi dirinya sendiri, berbuat, untuk tahu, dan hidup dengan masyarakat lain Pembelajaran adalah menciptakan peserta didik  berprestasi di sekolah dan mendapat nilai yang tinggi di lapor.
12 Mengajak peserta didik belajar mandiri, berpikir kritis, dan kreatif dalam mengembangkan kemampuan diri. Peserta didik diberi pengetahuan agar dapat menjadi bekal hidupnya.
13 Pengetahuan peserta didik akan dapat dibangun melalui interaksi sosial dan lingkungan. Pengetahuan peserta didik berkembang melalui proses interaksi peserta dengan pembelajar.
14 Peserta didik tidak melakukan sesuatu yang buruk karena sadar hal tersebut dapat merugikan dirinya Peserta didik tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman.
15 Bahasa yang dipergunakan dalam proses pembelajaran adalah bahasa komunikatif, peserta didik diajak mengguakan bahasa konteks nyata Bahasa yang dipergunakan dalam proses pembelajaran adalah struktural; rumus diterangkan sampai paham, kemudian dilatih (drill).
16 Mendorong munculnya motivasi instrinsik Mendorong munculnya motivasi ekstrinsik.
17 Pembelajaran tidak terikat pada tempat, waktu, dan sarana. Pembelajaran hanya terjadi di kelas
18 Pembelajar (dosen/guru) menguatkan dan meneguhkan kesimpulan yang telah dibuat oleh peserta didik. Pembelajar (dosen/guru) membuatkan kesimpulan materi pelajaran yang telah disajikan sebelumnya.
19 Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap). Hasil belajar diukr melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.