Pulau Rengas sebuah desa yang berpenduduk ± 3000 jiwa merupakan ibu kota kecamatan Bangko Barat, terletak sebelah barat ibu kota kabupaten Merangin berjarak 9 km menuju arah kabupaten Kerinci dan kecamatan Jangkat. Penduduknya pada umumnya bermata pencaharian petani karet, sawit, dan lain-lain. Memiliki ciri khas bahasa yang tidak sama dengan desa-desa yang terdapat di kabupaten Merangin.

Social culture kental dengan kebersamaan dan sifat kegotong royongannya tinggi serta terbuka terhadap budaya manapun walaupun penerimaan budaya lain melalui seleksi, masyarakat menghargai nilai-nilai adat istiadat yang dikembangkan leluhurnya. Kemudian nilai-nilai agama diterapkan seiring dengan nilai-nilai adat yang sudah mengakar, secara geografis letak desa Pulau rengas dengan ibu kota Merangin digolong dekat, hal ini memiliki efek terhadap sosial budaya (social culture) masyarakat dan masyarakat sudah banyak mengakomodasi budaya lain menjadi budaya mereka, artinya budaya yang tidak mungkin dipertahankan akan hilang dengan sendirinya.

Budaya juga membentuk karakter masyarakat setempat, seperti menghadapi tatanan global, masyarakat Pulau Rengas tidak lagi bertahan dengan pola bertani monokultur, mereka juga merambah pada komoditi yang bernilai ekonomi tinggi walaupun mereka masih terikat dengan struktur tanah tempat mereka berusaha. Masyarakat Pulau Rengas tergolong masyarakat rajin, aktif, produktif, dan kompetitif. Masyarakatnya membuka usaha pertanian tidak hanya di sekitar desa Pulau Rengas tetapi sudah merambah ke desa-desa lain yang ada di sekitar desa Pulau Rengas, alasan mereka merambah ke desa lain karena mendapat restu oleh masyarakat tempat mereka berusaha, kemudian masih banyak lahan-lahan yang tidak produktif dan tidak bertuan, maka lahan itu dipergunakan.

Sikap pantang menyerah dalam berusaha dalam masyarakat Pulau Rengas merupakan catatan kecil bagi penulis. Motto masyarakat “Tuhan menciptakan manusia dan makhluk lain berkembang, dan tidak menciptakan tanah berkembang”, dengan motto ini manusia makin hari, minggu, bulan, dan tahun semakin berkembang dan semakin banyak populasinya, sementara tanah semakin hari semakin sedikit karena ditempat dan diusahakan oleh anak manusia, oleh sebab itu, bagi yang memiliki fasilitas dan kesempatan silakan merebutnya dan mereka berebut untuk memilikinya dengan prinsip hidup “Mano Ka Tibo”, mana ka tibo terdiri dari dari tiga kata, mano berati mana, di mana. Ka berarti ke. Tibo berarti tiba, sampai. Mana Ka Tibo merupakan kalimat yang memiliki arti “Di mana Sampai”. Maksudnya yang penting berusaha dan Allah akan mengabulkannya, pekerjaan itu dilaksanakan sesuai dengan kemampuan atau kompetensi yang dimiliki oleh seseorang dan tidak memaksakan diri.

Mano Ka Tibo merupakan prinsip berusaha masyarakat Pulau Rengas dalam berusaha, hari ini harus berusaha walaupun itu sedikit tapi berbekas dan bermakna dalam hidup mereka dan mensyukuri ketercapaian usaha mereka. Prinsip Mano Ka Tibo sudah terun temurun dari nenek moyang mereka dan menjadi budaya (culture) yang tidak hilang dengan arus globalisasi bahkan berkembang karena kompetisi. Mano Ka Tibo sebenarnya harus menjadi objek penelitian budaya yang menarik untuk diteliti dan ia berpengaruh positif bagi kelangsungan hidup manusia. Tentunya kita harus membuat fokus penelitian dan rumusan masalah yang betul-betul menarik untuk diteliti.

Afala Tafakarun, afala Ta’lamun.