Pemimpin adalah orang yang dipercaya dan diamanah oleh masyarakat untuk memimpin mereka, banyak orang yang mampu menjadi pemimpin dalam kehidupan masayarakat akan tetapi tidak banyak orang memiliki syarat untuk menjadi pemimpin, syarat seorang pemimpin adalah; orang yang dipercaya, berpengalaman, berpengetahuan, berpengaruh, berdidikasi, visioner, merakyat, memiliki perencanaan pengembangan masyarakat ke depan, jujur, adil, taat beragama, pancasilais, tidak pernah tindak pidana, makar pada negara, memiliki visi dan misi.
Syarat ini harus tercermin pada seorang pemimpin, walaupun persyaratan dalam Undang-Undang, dan Peraturan Pemerintah tidak semua ada, akan tetapi sebagian yang termaktub mencermin syarat yang lain dan inipun sudah merupakan aturan tidak tertulis (aturan sudah merakyat). Syarat pemimpin masa sekarang adalah; didukung oleh partai, golongan, berpendidikan (S-1), berpengalaman, pacasilais, dan tidak pernah tindak pidana selama waktu tertentu.
Tatkala seseorang dinyatakan menang dalam pemilihan menjadi seorang pemimpin, maka dia terikat dengan sebuah aturan yang kaku, mengikuti prosedur protokoler (semua kegiatan diatur) sehingga dia tidak berhadapan langsung dengan rakyat, hanya dengan wakil-wakil rakyat. Sementara wakil rakyat tidak merakyat, mereka memenangkan kursinya dengan premordial dan kong kalingkong serta dengan menggunakan pendekatan (berbaik hati, menanam budi dengan cara/kiat masing-masing, sepeti memberi oleh-oleh dalam bentuk uang, cendra mata, dan lain-lain).Seorang pemimpin menjalankan roda pemerintahan dengan usul wakil rakayat yang tidak merakyat, akhirnya janji yang dibuat dengan rakyat terlupakan. Sebenarnya seorang pemimpin juga mendengar dan meminta ide dan usulan dari rakyat-rakyatnya, mulai dari kota hingga ke desa-desa terpencil.
Tatkala hendak mengikuti pemilihan berikut, dia turun ke rakyat lagi untuk meminta suara dan restu rakyat, akan tetapi dia lupa bahwa periode lalu dia telah melupakan rakyat, pembangunan untuk rakyat hanya sebatas wacana, hampir tidak ada bekasnya pada rakyat, namun rakyat desa banyak yang berpendidikan di bawah standar dan kurang pengalaman, mereka gampang dibujuk rayu. Cobalah teman-teman perhatikan, dua tahun menjelenag pemilihan kepala daerah yang kedua, sang pemimpin turun ke rakyat lagi dengan janji muluknya, shalat jum’at bersama masyarakat dan berpidato di tengah masyarakat tentang perjuangan bualnya. Mereka mempengaruhi orang yang dapat mempengaruhi masyarakat, seperti kepala adat, kepala suku, kepala desa, dan orang-orang tertentu lainnya.
Wahai kawan yang telah memenagkan pemilihan kepala daerah, berbuatlah untuk rakyat jangan membodoh rakyat kita yang sudah terkebelakang, dan jangan memperkayakan diri. Kemudian suka memberi dan menerima masukan dari orang-orang banyak, isteri-isterimu jangan ikut menjadi orang nomor satu, orang nomor satu adalah anda. Ingat bahwa batas kenikmatan makanan hingga tenggorokan, batas kesenangan hanya selama sehat dan damai, batas kekuasaan selama berkuasa. Semua pasti berakhir. Perbuatan baik maka ia menjadi amalan baik, perbuatan jelek menjadi amalan jelek. Lihatlah contoh pada pendahulu, itulah pelajaran yang baik.