Tradisi masyarakat secara bergotng royong dalam bercocok tanam padi di ladang di daerah kabupaten Merangin tempo doeloe kini tinggal kenangan bagi mereka yang berusia di atas 55 tahun, mereka tersenyum dan hiba tatkala mengenangkan kisah-kisahnya waktu itu, banting tulang, kerja keras, dan memaksakan diri untuk menghidupkan keluarga karena sulitnya hidup dan penghidupan, negeri tidak semaju kini, jalan aspal jauh dari impian mereka, televisi dan alat informasi belum ada. Kenderaan waktu itu sepeda atau pedati penarik hasil bumi, namun bayangan masa depan tidak tersirna, apapun pekerjaan mereka bahu membahu atau mengerjakan dengan gotong royong, menanam padi di sawah, di ladang dilakukan secara bersama. Ke talang petang artinya pergi ke ladang/kebon pada sore hari untuk membantu teman, tetangga, sanak keluarga, dan handai tolan untuk menanam padi besok hari, maka mereka berangkat pada sore hari karena tempat/lokasi ladang jauh dari perkampungan. Suatu keunikan yang ikut serta ke Talang Petang bukan saja orang-orang tua saja akan tetapi lebih didominasi oleh pemuda (laki dan perempuan), tempat ini di samping sebagai hiburan juga lokasi mencari jodoh, banyak di antara mereka sepulang dari ke Telang Petang mendapatkan pasangan dan berlanjut ke pelaminan, mereka ke ladang tidak sendiri-sendiri, khusus perempuan didampingi oleh ibu atau neneknya. Sesampai di ladang tuan rumah memasak lemang dan makanan lainnya untuk tamu-tamunya yang ikut ke Talang Petang, malam hari mereka berkelompok, laki-laki kelompok laki-laki dan perempuan kelompok perenpuan, masing-masing kelompok saling mengubarkan pantun atau berkarinok dan kelompok lain atau secara pribadi menjawab pantun atau karinok yang disampaikan oleh masing kelompok atau perorangan tadi, sehingga suasana malam penuh dengan kegembiraan, tanpa terasa pagipun datang. Senang dan sedih bercampur di hati masing-masing. Di antara mereka mendapat jodoh dan tidak, namun mereka paginya tetap beraktivitas mengencancam atau menugalkan padi, laki-laki bertindak sebagai penugal dan perempuan sebagai penabur benih hingga selesai. Kemudian mereka pulang bersama-sama ke kampung dengan suka cita hingga bertemu pada ke Talang Petang berikutnya.