Harimau merupakan species kucing besar yang hidup di dalam hutan dan kini dinyatakan langka keberadaannya di Sumatera, akibat diburu oleh manusia untuk diambil kulit, tulang, dan taringnya.Harimau merupakan binatang menakutkan dan ia sebagai raja hutan, semua binatang takut dengannya terkecuali gajah dan badak. Memiliki kulit harimau bagi sebagian orang merupakan pristise karena harimau itu dipandang binatang yang berwibawa dalam hutan, menakutkan, dan lambang otokrasi seseorang. Konon kabarnya tulang harimau baik untuk dipergunakan menjadi ramuan obat dan bernilai ekonomi tinggi di negeri Tiongkok, kemudian taring harimau merupakan perhiasan yang juga bernilai ekonomi tinggi. Sekitar tahun 1960an di desa Pulau Rengas dikenal banyak harimau, ia memangsa binatang peeliharaan penduduk, seperti kambing dan sapi. Jarang sekali memangsa manusia, akan tetapi manusia sangat takut dengan harimau, kajadian harimau memangsa manusia di Pulau Rengas tidaklah banyak, sekitar 3-5 orang dari tahun 1945-2012 dan kejadiannya sebelum tahun 1950. Berarti harimau tidak menjadi manusia mangsanya, Isu harimau cukup meresahkan masyarakat, gara-gara seorang penduduk di desa Nalo Tantan diterkam harimau, maka yang lain merasa ketakutan. Memang diakui sekarang di desa Pulau Rengas masyarakat sudah sering menemui jejak harimau karena harimau sudah mulai berkembang biak yang merupakan akibat pelarangan memburu si raja hutan tersebut. Petani di desa Pulau Rengas dan sekitar resah dengan isu harimau, katanya harimau yang mereka lihat itu harimau yang bertanda khusus di leher dan mengejar orang-orang yang ke kebon membawa kresek/keranjang. Menurut keterangan dari polisi hutan tidak ada pelepasan harimau di daerah ini. Masyarakat terlalu mudah dipengaruhi oleh isu yang tidak jelas asal muasalnya. Pulau Rengas terletak 25-30 km dari TNKS dan tahun 2000-2012 belum ada harimau memangsa binatang ternak penduduk, akan tetapi di daerah Pangkalan Jambu dan Sungai Manau sekitarnya, harimau sudah ada yang memangsa binatang ternak penduduk karena dua daerah ini terletak di pinggir TNKS, demikian juga desa Nalo Tantan di atas letaknya hampir sama pada dua daerah ini. Khabar burung atau cerita dari mulut kemulut sangat berbahaya dan berakibat pada tatanan sosial, jika masyarakat tidak lagi ke kebon, sementara mereka juga harus menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari, seperti kebutuhan makan, kesehatan, dan pandiudikan anak-anaknya. Akhirnya mereka melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Maka dalam hal ini perlu pemerintah setempat memberi perlindungan kepada masyarakat agar mereka dapat mencari nafkah.