Sebutan Pemuncak Pulau Rengas adalah sebutan terhadap wilayah dusun Tepiah Idak Berubah yang diperoleh Syeh Biti dan Patih Krisi Malin Samad dalam perkembangannyo puluhan tahun kemudian. Pemuncak Pulau Rengas termasuk daerah Pucuk Jambi kareno dari ketinggian letak (topografis), daerah ini berado di daerah dataran tinggi.

Dalam tambo adat wilayah alam berajo Jambi, sebelum bernamo Jambi seperti sekarang, keseluruhannyo disebut tanah yang bergabung, air yang berbatang (kesatuan wilayah) dibedakan tanah Pucuk dan tanah Lurah, kata-kata Pucuk adalah sebutan untuk wilayah yang berado pada dataran tinggi sampai pergunungan, sekitar Bukit Barisan. Kato-kato Lurah adalah sebutan terhadap wilayah yang letaknyo berado di kawasan dataran rendah (bagian hilir sungai).

Air sungai mengalir dari daerah dataran tinggi ke hilir daerah dataran rendah yang akhirnyo bermuaro ke laut. Oleh para cendekia utamonyo pemimpin dan tokoh adat di kala dulu dengan kearifan lokalnyo melukiskan hal ini dalam kalimat pendek penuh makna bahwa alam berajo Jambi disebut PUCUK JAMBI SEMBILAN LURAH, kato pucuk seperti dikatokan sebelumnyo adalah terhadap daerah yang berado di kawasan dataran tinggi sampai pergunungan. Untuk daerah yang berado di kawasan dataran tinggi di dalam istilah adat disebut empat di atas tigo di baruh, beserto daerah pengapitnyo.

Empat di atas ialah daerah; (1) Depati Muaro Lingkat di Temiai, (2) Depati Rencong Telang di Pulau Sangkar, (3) Depati Biang Sri di Pengasi, (4) Depati Batu Ampar atau Hatur Bumi di Hiang. Sedangkan tiga di baruh adalah; (1) Depati Setio Nyato Tenah Renah, (2) Depati Setio Rajo di Lubuk Gaung, (3) Depati Setio Beti (Bhakti) Nalo Tantan, ditambah daerah pengapitnyo; (1) Pemuncak Pulau Rengas, (2) Pembarap Pemenang, (3) Pembarap di Guguk, (4) Tiang Pumpung Muaro Siau, (5) Pesanggarahan Nilo, (6) Pratin Tuo Dusun Tuo, (7) Pemuncak Tanjung Kasri, (8) Pemuncak Koto Tapus, (9) Batin Pengambang Muaro Talang. Masing-masing daerah tadi dipimpin oleh seorang penguasa dengan berbagai gelar menurut daerah masing-masing, pado hakekatnyo pemimpin ini adalah rajo dalam wialayahnyo. Rajo alam berajo Jambi tidak langsung mencampuri urusan pemerintahan dalam daerah-daerah tadi, demikian pula hubungan antaro daerah masing-masing adalah hubungan yang disebut TEGAK SAMO TINGGI, DUDUK SAMO RENDAH dalam arti kato tidak ado daerah yang satu merupakan daerah jajahan atau bahawan dari daerah lain.

Raja-raja kecil di atas tidak memiliki pasukan belatantara, demikian pulo kerajaan Jambi juga tidak memiliki balatantara, yang ado hanya hulu balang atau dubalang sakti, lain halnya kerajaan-kerajaan besar di Pulau Jawo, mereka memiliki balatantara. Dalam penyelenggaraan kerajaan yang dibawahinya, penguaso atau rajo dibantu oleh para tokoh masyarakat berdasarkan keahliannya, secaro berjenjang naik, bertanggo turun. Dalam soloko adat disebut rumah batanganai, kampung batuo, negeri babatin, luhak berpenghulu, rantau berjenang, alam berajo. Peran para pembantu ini digambarkan dalam seloko adat “Tanganai tegak di pintu hutang, nenek mamak tegak di pintu runding/parkaro, hulu balang/dubalang tegak di pintu mati, dan alim ulama tegak di pintu kubur”.

Apabilo daerah yang berado di kawasan di dataran tinggi sampai ke pergunungan yang dalam adat disebut “PUCUK JAMBI”, mako yang dimaksud dengan lurah Jambi, adalah daerah berado di kawasan dataran rendah bagian hilir sungai. Kearifan lokal kalo dulu merangkum dalam sebuah kato-kato singkat, yaitu “ SEMBILAN LURAH” yang dimaksud di sini adalah daerah yang berado pado kawasan sembilan buah batang sungai besar, mengalir masuk ke dalam sungai Batang hari, sungai tersebut;

1. Sungai Batang Merangin (bagian hilir)
2. Sungai Batang Masumai (bagian hilir)
3. Sungai Batang Tabir
4. Sungai Batang Senamat
5. Sungai Batang Bungo
6. Sungai Batang Tebo
7. Sungai Batang Tembesi
8. Sungai Batang Pengabuan
9. Sungai Batang Hari.

Termasuk sungai lain sebagai pengapitnyo . Gabungan tanah dan air sungai yang berbatang, inilah yang merupokan wilayah Alam Berajo Jambi, disebut PUCUK JAMBI SEMBILAN LURAH, adapun batas sebelah utara, selatan, barat, dan timur sebagai batas titik luar, ditunjuk dengan ciri-ciri alam, mulai dari Durian Betakuk Rajo, terus ke Sialang Belantak Besi, menuju ke Tanjung Samalidu, mendaki Bukit Lurik Nan Basibak, meniti Pematang Panjang, sampai ke Bukit Cindaku, menuju ke Laut Nan Sedidih, Ombak yang Berdebur, arus yang berdengung Pulau Berhalo. Kemudian mendarat di Sekatak Air Hitam, menuju ke Bukit Seguntang-Guntang, menuju ke Singkut, terus ke Serintik Hujan Paneh, meniti Bukit Barisan, menuju ke Sungai Air Dikit, menepat ke hulu Sungai Ketahun, dari sini mendaki Bukit Malin Dewa, terus ke Sungai Ipuh, mendaki lagi ke Bukit Setinjau laut Kerinci, terus ke Gunung Merapi (Gunung Kerinci), menepat ke hulu Sungai Danau Bento, menuju ke Batu Angit Batu Kangkung, Sepisak Sepisang Hilang, kembali ke Durian Batakuk Rajo.