Sebagaimana biasanya Datuk Penghulu Janggut Mas, pada setiap tahunnya menjelang bulan Ramadhan selalu mengutuskan orang kepercayaannya membawa barang dagangan ke daerah lain untuk dijual, tahun ini dia memeritahkan pergi  ke daerah selatan.

Bertepatan awal bulan Sya’ban tahun ke 3 Barus menjalani hukuman, Datuk Penghulu memerintahkan putera keseyangannya “Tintin” mempersiapkan kafilah membawa barang  dagangan hasil bumi dan hasil tambang berniaga ke daerah yang baru kali ini hendak dilakukannya, yaitu wilayah Palembang saat itu. Tiga hari sebelum keberangkatan, semua barang dagangan sudah dipersiapkan dengan 10 orang pembawa beban.

Tintin telah mengemas 3 (tiga) gantang uang perak dan emas. Barang dagangan yang dibawanya berupa getah-getahan, seperti; getah kayu balam, jelutung, jenang, gaharu, dan lain sebagainya. Lantaran barang dagangan ini banyak, sangat wajar timbul kekhawatiran di hati Datuk Penghulu dan isterinya terhadap keselamatan puteranya Titin dan rombongan dari penyamunan orang-orang jahat di sepanjang perjalanan. Datuk penghulu tidak lupa  meminta pendapat para hulubalalngnya di dusun Nibung tentang siapa yang layak untuk mengawal Tintin dan rombongan dalam perjalanan niaga ke negeri orang? Salah seorang hulubalang dusun Tebat Tujuh memberi pertimbangan kepada Datuk Penghulu agar membawa Barus yang merupakan budak hukuman Angku Datuk Penghulu Janggut Mas, dia telah teruji kemampuannya, pesilat tangguh saja telah dia kalahkan dan karena itu dia terhukum.

Datuk Penghulu Janggut mas tersentak mendengar saran dari hulubalangnya, kenapa dirinya tidak ingat dengan Barus? Bukankah Barus seorang pendekar kilahnya? Dia mengagguk-angguk kepalanya, benar gumam Datuk Penghulu, Barus orangnya luar biasa, serba lengkap dalam pribadinya, baik, cekatan, pandai, arif, dan seorang pendekar muda. Sekarang (perintah) Datuk Penghulu, panggil Barus menghadap saya, pergilah seorang hulubalang menemui Barus di sudungnya yang tidak jauh dari rumah Datuk Penghulu,

 

Hulubalang : Barus,  sayo  disuruh  angku Datuk Penghulu memanggil engkau untuk datang menghadap beliau sekarang.

 

Barus : Tanpa  berpikir   panjang Barus,    segera menghadap angku Datuk Penghulu di halaman rumahnya dia duduk bersimpuh, ya angku Datuk, apa yang bisa hambo lakukan?

 

DP Janggut Mas : Barus,  kamu  sayo  tunjuk menjadi pengawal rombongan niaga ini menuju daerah Palembang.

 

Barus : Hambo siap melaksana titah angku Datuk Penghulu,  apo sajo tugas sayo dalam pengawalan ini?

 

DP Janggut Mas : Kamu, mengatasi hambatan, ancaman, tantangan, gangguan, dan penyamunan terhadap rombongan niaga ini.

 

Barus :  Siap hambo laksanakan.

 

DP Janggut Mas :  Segera     kembali    ke  sudung    dan  persiapkan segala sesuatu.

 

Barus : Mohon izin, hambo kembali ke sudung.

 

Barus menyadari bahwa dirinya orang hukuman, secuil apapun perintah Datuk Penghulu, dia siap melaksanakan dengan baik dan bertanggung jawab, pengabdiannya terhadap Datuk Penghulu menyebabkan dirinya tidak lagi terurus, badannya sudah kurus, pakaian lusuh dan bajunya penuh tampalan, rambutnya panjang, dan badan sudah hitam karena setiap hari diterpa terik panas dan hujan.

Sebelum keberangkatan ke wilayah Palembang, keluarga angku Datuk Penghulu mengundang Barus untuk ke rumahnya lagi, mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikan sebelum berangkat, maklum bersama rombongan niaga ini, ikutserta pula putera kesayangannya “Tintin”, tentunya beliau meminta perhatian lebih dari Barus atas keselamatan anaknya. Barus dijemput lagi oleh orang dekat Datuk Penghulu untuk datang ke rumah angku Datuk Penghulu, Barus ketika itu merasa kaget, beberapa menit lalu dia sudah menghadap, sekarang dipanggil lagi. Barus tetap mengiyakan dan dia bergegas ke halaman rumah Datuk Penghulu, sesampai di halaman rumah, Datuk Penghulu telah lebih dahulu melihat Barus dan berkata;

 

DP Janggut Mas : Naiklah ke rumah

 

arus : Biarlah hambo di sini angku Datuk

 

Isteri DP : Naiklah

 

Barus : Dengan berat hati, dia naik ke rumah Datuk Penghulu.

 

DP Janggut Mas : Engkau sudah hampir 3 tahun di sini, tidak satupun engkau melakukan perangai buruk, sekarang ini engkau menjadi anak kami dan adik dari Tintin.

 

Barus : Tidak sepatah kata yang keluar dari mulut Barus hanya matanyalah yang  berkaca-kaca mendengar pengakuan Datuk Penghulu.

 

DP Janggut Mas : Merangkul   Barus   dan mencium keningnya.

 

Puti Teluk Mas : Mengintip dari celah dinding kamarnya dan ikut terisak-isak melihat kakaknya yang sudah kurus dalam rangkulan Datuk Penghulu.

 

Isteri DP : Juga  memeluk   Barus, setengah meratap, bagaikan orang tertimpa musibah sambil berucap engkau adalah anak kami, maafkan kami nak jiko ado kami  memperlakukan hal yang tidak engkau senangi selamo di sini.

 

Barus : Diam seribu  bahasa, hanya di matanya terlihat ada sedikit air panas yang mengenang.

 

DP Janggut Mas : Engkau,   kami  suruh mengawani kakakmu Tintin ke wilayah Palembang yang selamo ini hanyo berdagang ke wilayah barat, dan macam mano pulo peruntungan ke daerah lain.

 

Pada hari keberangkatan, di rumah dan halaman rumah Datuk Penghulu, terlihat banyak orang berkumpul melepas keberangkatan Tintin beserta rombongannya, di antara yang hadir ada yang menitipkan barang untuk dijual dan ada pula yang menitipkan uang untuk dibelikan barang  kebutuhan dalam bulan Puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri yang tinggal beberapa bulan lagi. Di antara kaum ibu ada yang menyerahkan bungkusan penganan pisang sekedar pengganjal perut di awal perjalanan.

Tidak lama kemudian, berangkatlah rombongan yang dipimpin Tintin menuju daerah Palembang dan di belakang rombongan itu terlihat seorang pemuda bercelana hitam panjang sejengkal di bawah lutut, pemuda ini tidak banyak berbicara, dia berpamitan dengan angku Datuk Penghulu dan orang-orang sekitarnya, kemudian menuju ke arah Puti Teluk Mas yang juga berdiri di antara mereka yang melepas keberangkatan, dengan suara lirih Barus berucap kepada Puti Teluk Mas “hati-hatilah engkau dik sepeninggal uwo, pandai-pandai membawa diri karena engkau unggu penjamin hukuman”. Puti Teluk Mas menghapuskan air mata dengan ujung tekuluk penutup kepalanya, juga berucap “uwo jugo hati-hati di jalan, semoga selamat kembali ke sini”, adik mencemaskan perjalanan uwo berpergian jauh.

 

Barus melangkahkan kaki dengan gontai  tidak menggalaskan beban walaupun dia seorang berstatus sebagai budak hukuman. Tintin tidak berani menyuruh pemuda ini menggalas barang dagangan, dia berjalan paling belakang dari rombongan, tugasnya sebagaimana amanah  Datuk Penghulu adalah untuk mengawal rombongan, utamanya Tintin. Di pinggang Barus tergantung sebilah kelewang bernama Bujang Sembilan, sedangkan di bahunya tergantung seekor ayam jantan yang ditempatkan dalam anyaman rotan sago. Ayam ini secara kasat mata buruk rupa, berkokok sebanyak 7 (tujuh) kali sebelum mereka berangkat, fenomena ini tidak menjadi perhatian dari orang-orang yang hadir, kecuali Puti Teluk Mas Merangin yang telah diberitahu kakaknya Barus, bahwa ayam itu adalah ayam pusako dusun Tepian Idak Berubah Bukit Sikelam Kabut yang merupakan kesayangan Barus.

Perjalanan jauh dengan menggalas beban sungguh sangat melelahkan, apalagi mendaki bukit, menuruni lembah,  menyeberangi sungai, melewati sesap, hutan, dan rimba belantara. Sesekali mereka menemui ladang atau pondok yang sudah ditinggalkan penghuni karena pemiliknya telah berpindah berladang di tempat lain. Dusun di masa itu masih sedikit, syukurlah sungai-sungai yang mereka lalui di tengah hutan masih banyak ikannya. Barus dengan berbekal ilmu silat tangkai pancing seperti Cik Ijah mampu menangkap ikan hanya dengan mempergunakan tombak bambu, sehingga selama dalam perjalanan, ikan segar inilah yang banyak dijadikan menu makanan, di samping itu, sesekali Barus berhasil menangkap binatang hutan, seperti kancil, napuh, kijang, dan sebagainya.

Selama perjalanan, Tintin dengan 10 (sepuluh) orang pembantunya sangat mengagumi keterampilan yang dimiliki Barus, di dalam perjalanan tidak jarang mereka dihadang oleh binatang-binatang buas, seperti; harimau dan beruang. Barus dapat mengatasinya dengan hanya menyentil batu kecil dari sela jari tangannya, membuat binatang itu lari terbirit-birit. Barus tidak mau membunuh binatang buas yang ditemui kalau tidak betul-betul membahayakan keselamatan anggota rombongannya.

Pada suatu ketika setelah cukup lama berhari-hariberjalan mereka sampai ke sebuah dusun di daerah Rawas yang bernama LUBUK MAS, di kala itu dusun ini sudah ada hari pasar kalangan (satu kali dalam satu minggu) yang didatangi oleh pedagang keliling dari berbagai daerah sekitarnya, pasar ini disebut Pasar Kamis, rombongan Tintin pada malam itu menumpang tidur di warung nasi yang kemudian diketahui kepunyaan kepala dusun Lubuk Mas.

Keesokan paginya, Tintin memerintahkan anak buahnya menggelar lapak barang dagangan bawaannya pada lokasi pasar mingguan ini. Belum sampai setengah hari, barang dagangan Tintin telah hampir separo habis terjual. Hal ini sangat mengembirakan hati Tintin dan orang upahannya, yang berarti barang bawaan pada perjalanan berikutnya semakin ringan. Barus yang tidak memiliki barang dagangan hanya duduk saja tidak jauh dari rombongan. Tanpa disadari oleh Barus bahwa dirinya menjadi perhatian sebagian orang, selang beberapa saat kemudian datanglah seorang yang berbadan kekar dan berkumis lebat menghampiri Barus yang sedang memberi makan dan minum ayamnya yang kelaparan, orang tersebut oleh orang-orang di situ dipanggil dengan julukan Jaragan Kumis Melintang.

 

Juragan Kumis Melintang : Hei anak muda! Kenapa ikak duduk sendirian di sini, sementara teman ikak berjualan. Apakah ikak mau menyabung dengan taruhan?

 

Barus :   Aku   bukanlah    penyabung  pisek,   ayamku penakut lagi buruk rupo, aku membawa ayam ini adalah sekedar untuk pelipur hati di perjalanan karena ayam ini sudah lama aku pelihara dan sering aku jadikan sebagai pikatan (menjaring) ayam hutan dalam perjalanan.

 

Menyabung ayam sangat bertentangan dengan hati nurani Barus, namun dia terus didesak untuk  mempertarungkan ayam bawaannya. Di kala itu, menyabung merupakan kebiasaan sebagian orang, tapi bagi Barus ayam kepitannya tidak lebih sebagai teman tatkala dalam kesunyian, maklum dia seorang terhukum. Kokok ayam Tedung Selero Puar sangat menghibur hatinya, ke mana saja dia pergi ayam itu selalu dibawanya. Akhirnya Barus menerima tantangan Juragan Kumis Melintang untuk menyabung. Alangkah terkejutnya Barus dengan tawaran Juragan Kumis Melintang untuk memasang taruhan, Barus belum pernah sama sekali bertaruh atau berjudi, bagi Barus pekerjaan itu sangat tidak baik, sementara dia ke sini adalah seorang budak hukuman yang diperintahkan tuannya mengawal rombongan Tintin berniaga, sudah barang tentu tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk dijadikan barang taruhan.

Selanjutnya, dengan setengah hati Barus melangkahkan kakinya mengikuti orang yang baru saja dikenalnya. Barus mengepitkan ayam Tedung Selero Puar miliknya menuju gelanggang yang tidak jauh dari tempat Tintin menggelarkan dagangannya. Belum lagi Barus sampai di tempat yang dituju, suara sorak sorai dari gelanggang telah terdengar ramai dari mulut mereka para petaruh untuk memberi semangat pada ayam jagonya masing-masing. Selang beberapa saat sesampainya Barus di gelanggang terlihat salah satu ayam yang sedang berlaga terkeok, kemudian menggelepar di tanah karena terkena jalu (taji) lawannya yang mengenai tepat dari bawah paruhnya dan menembus kepala sampai ke jengger.

 

Pemilik dan petaruh yang jagonya menang bersorak sambil berjingkrak-jingkrak, sedangkan pihak yang lain ada yang berurai air mata dikarenakan ayam jagonya kalah dan taruhan segera berpindah tangan menjadi milik orang yang menang.

 

Setelah pertarungan tadi usai, para petaruh di gelanggang setengah memaksa untuk  mempertarungkan ayam yang dikepit Barus untuk melawan ayam Kinantan besar berbulu putih bertaji panjang terbuat dari besi putih, runcing dan tajam. Juragan Kumis Melintang telah menyediakan barang taruhannya sebanyak 11 (sebelas) ekor kerbau besar yang berada dalam 2 (dua) kandang, demikian pula penonton ikut memberi barang maupun uang taruhan yang sebagian besar berpihak kepada pemilik ayam kinantan berbulu putih.

Dalam keadaan yang menyudutnya, Barus menerima tantangan lawannya dengan cara yang sangat nekad dan berkata;

Taruhanku adalah 3 (tiga) gantang emas dan perak serta 11 (sebelas) orang temanku yang lagi menggelarkan dagangan.

 Mendengar taruhan yang diutarakan Barus, orang tadi masih belum puas, dia berucap “wahai saudaraku tambah lagilah taruhan ikak, aku akan menambah taruhan berupa seluruh kerbau milikku yang ada sebanyak 27 (dua puluh tujuh) ekor dan apabila ikak mau tambahannya aku bersedia menambahnya lagi, berupa semua uang hasil taruhanku sebelumnya.

Mendengar tantangan itu, Barus menjawab wahai saudaraku, aku dan teman-temanku adalah pedagang yang kebetulan melewati negeri ini, kami tidak punya apa-apa lagi selain yang sudah aku jadikan taruhan tadi, kalau saudaraku masih belum puas, marilah kita bersaksi pado matahari dan bulan bintang, bila ayamku kalah, maka selama 7 (tujuh) tahun dusun Pulau Rengas dan Tanjung Beliku tidak mendapat padi, sebagaimano kato-kato adat kami “bukit lengih pematang kering, lalang tidak, capopun tidak, tumbuh sebatang menjadi layu, kunyit ditanam putih isinyo, padi ditanam menjadi lalang”, itu kesaksian aku. Lawan tanding Barus memaklumi dan memahami betapa tidak ada lagi yang dimiliki Barus, sebaliknya dia juga berucap, jika ayam kami kalah dalam gelanggang ini maka dusun Lubuk Mas akan terbakar.

Kesepakan taruhan sudah tercapai, termasuk sumpah karang setio masing-masing pihak, bila ayam jago miliknya kalah. Sudah biasa dalam dunia pertaruhan, tidak hanya pemilik ayam jago yang bertaruh, tapi penonton di luar gelanggang juga ikut bertaruh sesama penonton, hingga terjadi dua kelompok di luar gelanggang, satu kelompok mendukung ayam Kinantan berbulu putih, satu pihak memihak lagi pada ayam Tedung Selero Puar milik Barus.

Sementara orang-orang yang berpihak pada ayam Kinantan milik Juragan Kumis Melintang lebih banyak karena ayam kelas jawara. Masing-masing mereka telah mengeluarkan barang-barang dan uang taruhan berjumlah besar, sehingga besaran taruhan tidak seimbang, sedikit sekali orang-orang yang berpihak pada ayam Tedung Selero Puar karena ayam ini menurut sipemiliknya sendiri mengakui belum pernah masuk gelanggang aduan, apalagi arena penyabungan. Ayam Tedung Selero Puar menurut Barus, buruk rupa lagi penakut atau tidak berkelas. Sementara, orang-orang yang berpihak pada ayam Barus ikut dengan taruhan kecil-kecilan, hanya sekedar dorongan terhadap Barus. Barus memahami hal itu dan dia selalu bersikap merendah diri.

Masing-masing pemilik ayam memegang ayamnya di pinggir gelanggang, menunggu lonceng dibunyikan oleh wasit di luar gelanggang. Ayam Tedung Salero Puar sebelum berlaga berkokok tiga kali, selanjutnya lonceng dibunyikan, masing-masing ayam dilepaskan, ayam Kinantan berlari mengejar ayam Tedung Selero Puar dengan gagahnya dan langsung menerjang ayam Tedung Selero Puar, Tedung Selero Puar dengan tangkas mengelak tendangan Kinantan, seolah-olah ia sudah biasa bertarung dan mencari celah untuk menendang Kinantan. Beberapa kali tendangan dan sambaran Kinantan luput mengenai sasaran, sampai babak I berakhir.

 

Satu babak telah disepakati 2.5 menit, lonceng II berbunyi, ayam kinantan juga berlari menuju Tedung Selero Puar dengan melompat menendang kepala Tedung Selero Puar. Ayam Barus mengelak serangan, penonton di luar gelanggang terhenyak menyaksikan pertarungan ini, ibarat pertandingan tinju kelas wahid dunia, masing-masing ayam mencari kelemahan dan kelengahan lawan. Memasuki babak III Tedung Selero Puar memvariasikan penyerangannya, tipuan dan cotokan  ia lakukan, sementara Kinantan bersemangat menyerang dan melakukan terjangan. Tatkala Kinantan menyerang dengan terjangan kaki ke arah kepala lawannya, secepat kilat tangkisan Tedung Salero Puar mengenai dada Kinantan, sehingga ada bulu Kinantan yang tertinggal di taji Tedung Selero Puar.

 

Jual beli pukulan terjadi pada babak IV, tapi tidak satupun taji Kinantan mengenai sasaran. Sebaliknya, upper cut Tedung Selero Puar berupa pukulan pendek dan tamparan sayap dapat membuka pertahanan Kinantan, tatakala pertahanan Kinantan terbuka ia segera menendang kepala Kinantan dengan leluasa, kepala Kinantan tersambar taji sehingga menyebabkan Kinantan limbung. Keadaan seperti itu Tedung Salero Puar tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan secepat kilat menyambar dan menendang leher Kinantan. Akhirnya Kinantan terkeok dan terbang membumbung tinggi meninggalkan gelanggang, ayam Tedung Salero Puar terbang juga mengejarnya. Kemudian, Tedung Salero Puar kembali ke gelanggang dan berkokok tiga kali. Pertarungan ini dimenangkan oleh Tedung Salero Puar milik Barus.

Sorak sorai yang riuh dari arena, menyebabkan penonton permainan sulap penjual obat yang tidak jauh dari arena penyabungan berlarian menuju gelanggang aduan ayam untuk melihat apa yang terjadi? Banyak yang berdecak kagum dan menggelangkan kepala, betapa hebatnya pertarungan ayam kali ini, biasanya pada babak I ayam Kinantan sudah mengalahkan lawannya dan sekarang ia yang kalah.

Juragan Kumis Melintang segera meraih, mengempit ayam Tedung Salero Puar sembari meminta ayam itu. Barus membiar ayamnya diambil oleh Kumis Melintang. Barus hanya berkata; “tolong tajinya dikembalikan kepada saya karena taji itu telah disepuh dengan bisa ular Telampung Hari”, Barus juga minta dikembalikan taruhan dia. Juragan Kumis Melintang menyerahkan taruhan milik Barus bersama ayam Kinantan putih sebagai ganti ayam Tedung Salero Puar, walaupun ayam ini kalah oleh Tedung Salero Puar, namun tidak terkalahkan di wilayah ini.

 

Kekalahan Kinantan mengakibatkan sebagaian pertaruh ada yang emosi mendengar olokan dari pihak yang menang. Hampir saja terjadi perkelahian di antara mereka kalaulah tidak pada saat itu ada suara ramai mengatakan adanya kebakaran rumah di ujung dusun. Memang asap hitam yang membumbung tinggi dan jilatan lidah api telah terlihat dari kejauhan, mereka yang hampir adu fisik dan sudah mengeluarkan senjata tajam, serta merta melupakan pertengkaran, mereka berhamburan meninggal Kumis Melintang dan Barus menuju lokasi kebakaran.

Juragan Kumis Melintang dan Barus masih tetap di gelanggang penyabungan, kesadaran menyusup dalam hati Kumis Melintang, kenapa Tuhan melarang umatNya menyabung dan berjudi? Juragan Kumis Melintang berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menyabung dan berjudi lagi untuk selamanya dan akan mengajak teman-temanya mengikuti sikapnya ini.

Rio Kepala Dusun Lubuk Mas setelah berhasil memadamkan api bersama warganya, mengajak Barus dan kawan-kawan naik ke rumah kediamannya, dia ingin mengenal Barus dan kawan-kawannya lebih dekat.

Pada malam harinya Rio memanggil beberapa tokoh masyarakat dan Juragan Kumis Melintang berkumpul di rumahnya. Rio menjatuhkan larangan, mulai saat itu tidak boleh lagi ada kegiatan menyabung ayam di dusun Lubuk Mas, pekerjaan menyabung ayam dan berjudi adalah perbuatan yang dilarang oleh agama dan merupakan perbuatan yang diancam sebagai dosa yang besar, demikian nasehat Rio di kala itu.

Pada malam itu hadir juga, Barus bersama kawan-kawannya masih berada di dusun Lubuk Mas, Rio kepala dusun Lubuk Mas merangkul Barus sambil berujar;

“Wahai Barus, mulai saat ini aku anggap engkau sebagai saudaraku sendiri dunia-akhirat, demikian pula dengan penduduk dusun Lubuk Mas dan dusun Pulau Rengas adalah ibarat dua dusun bersudut empat, yang dimaksud oleh Rio dengan ucapannya ini, adalah antara kedua dusun ini bagaikan dusun kembar, demikian pula penduduk antara dua dusun adalah bagaikan bersaudara, kelak bila ada penduduk dari dusun Pulau Rengas dan Tanjung Beliku yang datang atau melewati dusun Lubuk Mas, tidaklah dianggap orang asing oleh penduduk dusun Lubuk Mas, demikian pula sebaliknya bila di antara warga dusun Lubuk Mas yang datang atau singgah di dusun Pulau Rengas dan Tanjung Beliku, maka mereka bukanlah orang asing, tetapi layaknya orang bersaudara”, sebagaimana kato adat, buah tinggi samo-samo dijuluk, buah rendah samo-samo dijangkau.

 

Pada masa itu, untuk mematrikan hubungan persaudaraan sesuai dengan kebiasaan hukum adat yang berlaku.  Rio dusun Lubuk Mas memotong seekor kambing beserta beras 20 (dua puluh) gantang dan lain-lain. Kemudian, pernyataan ikrar yang berlaku secara turun-temurun kelak di kemudian hari.

 

Pada hari yang dianggap baik menurut perhitungan orang-orang tua dusun Lubuk Mas, maka dilaksanakan prosesi dimaksud. Rio dusun Lubuk Mas mengundang tokoh-tokoh masyarakat ke rumahnya melaksanakan ikat buat (ikrar) yang dipatrikan dengan doa bersama. Salah seorang tokoh adat sesepuh dusun Lubuk Mas menyampaikan ikrar bersama dengan Barus yang mewakili masyarakat dusun Pulau rengas dan Tanjung Beliku, salah satu bait ikrar menyatakan; bahwa mulai saat ini antara dusun Lubuk Mas dan dusun Pulau Rengas serta Tanjung Beliku telah bersaudara, dengan bahasa adat yang berkata “ke bukit samo-samo mendaki, ke lurah samo-samo menurun, mendapat samo-samo berlabo, hilang samo-samo merugi, hati Gajah samo-samo di lapah, hati Tungau samo-samo dicacah”. Menutup acara silaturrahmi ini, Rio meminta seorang alim yang hadir di kala itu untuk membaca doa dan setelah itu dilanjutkan makan bersama serta bersalam-salaman.

Menjelang para undangan kembali ke rumah masing-masing. Rio dusun Lubuk Mas memanggil kembali Juragan Kumis Melintang mendekat duduk di sampingnya, dengan nada penuh wibawa dia mengulangi penyampaian agar tidak lagi melakukan perbuatan maksiat kepada Allah SWT serta jangan ada lagi perjudian menyabung ayam dan lainnya di dusun Lubuk Mas. Ayam Tedung Salero Puar itu serahkan kepada saya sebagai milik masyarakat dusun Lubuk Mas sebagai perlambang pengikat silaturrahim kita antara dusun Lubuk Mas dengan dusun Pulau Rengas serta Tanjung Beliku. Juragan Kumis Melintang mengangguk-angguk kepalanya, sejenak kemudian dengan suara lirih dia berucap, izinkan hamba memenuhi janji hamba untuk memberikan semua barang yang semula dijadikan taruhan termasuk sebelas ekor kerbau kepada saudaraku Barus sebagai hadiah, tanda putih hati berkeadaan, putih kapas dapat dilihat serta ayam Kinantan kesayangan diserahkan kepada barus.

Barus di kala itu menjawab; sebelas ekor karbau untuk kami itu, kami titip kembali ke negeri ini sebagai tanda silaturrahim, sebagai mano kato pepatah “putih kapas dapat dilihat dan putih hati berkeadaan”. Kemudian, Barus menimpal lagi dengan kata-kata; Bapak-bapak dan saudara-saudaraku, pada kesempatan ini kami mohon izin, besok pagi setelah Sholat Subuh kami akan melanjutkan perjalanan ke dusun lain sambil terus kembali ke dusun Nibung. Apo yang telah kami makan dan minum, kami minta ridho dan apo kesalahan kami, mohon dimaafkan, mudah-mudahan hubungan persaudaraan kito akan berlanjut sampai kepado anak cucu di kemudian hari, kami mohon doanya semoga kami selamat dalam perjalanan.

Pertemuan di rumah Rio dusun Lubuk Mas tidaklah segera ditinggal oleh sebagian undangan, walaupun hari telah larut malam, seolah-olah mereka tidak  ingin berpisah. Kelelahan dan rasa ngantuklah yang memaksakan mereka pulang ke rumahnya masing-masing setelah hari betul-betul larut malam.

Pada pagi hari keesokannya telah berkumpul banyak orang hendak melepaskan perjalanan Barus dan Tintin, sungguh perpisahan dari pertemuan yang hanya beberapa hari membuat haru masing-masing pihak, di antara mereka yang hadir menyeruak Juragan Kumis Melintang yang menjinjing barang terbungkus rapi dan menyerahkannya kepada Barus untuk dibawa pulang ke dusun Nibung yang isinya tidak disebutkan. Berangkatlah Tintin bersama Sibarusmenempuh jalan menuju arah ke barat dari dusun Lubuk Mas. Setelah menempuh perjalanan selama setengah hari mereka beristirahat di pinggir sungai, tidak berapa jauh dari tempat ini terlihat adanya pedukuhan. Tintin meminta Barus membuka barang yang diberikan oleh Juragan Kumis Melintang, apa garangan isinya? Cetus Tintin, kalau isinya berupa makanan tentunya akan rusak atau basi, bila berlama-lama maka lebih baik kita lihat. Mendengar ucapan Tintin, Barus membuka bungkusan pemberian Juragan Kumis Melintang, ternyata isi bungkusan itu adalah uang perak yang diperkirakan ± dua gantang.

Sementara itu di dusun Nibung, ibunda Tintin sudah sangat menantikan kedatangan Tintin anaknya kembali dari berdagang, hitungan hari memang tidak beberapa lama lagi telah memasuki bulan Ramadhan, sekarang sudah di penghujung bulan Sya’ban, sudah sepatutnya Tintin beserta  rombongan tiba kembali.  Ibunda Tintin di dusun Nibung selalu bertanya-tanya pada suaminya, kapankah datangnya anak kita Tintin? Datuk Janggut Mas memaklumi perasaan isterinya yang cemas atas keselamatan anaknya serta rasa rindu isterinya kepada Tintin. Kepergian ke daerah selatan baru kali ini, membuatkan dia cemas, mudahan-mudahan anak kita tidak memiliki masalah dan dalam perjalanan, ujar ibu Tintin. Datuk Janggut Mas  sambil mengelus janggutnya berusaha tidak memperlihatkan kecemasan pada isterinya, berucap; sabarlah, menurut perhitunganku satu minggu sesudah purnama, anak kita telah sampai kembali di dusun ini, aku tidak mencemaskannya selama perjalanan, Insa Allah Barus dan pendekar dari dusun kita yang menyertainya mampu menjaga dirinya dan rombongan, aku akan mengutuskan beberapa orang menantinya di Ujung Tanjung Muaro Masumai Bangko setelah dua hari lagi sambil mempersiapkan perahu penyeberangan bila mereka telah kembali.

Selang beberapa hari berikutnya sebelum tengah hari, terlihatlah di seberang Batang Merangin beberapa orang menuruni tebing menuju pinggir sungai yang kemudian disusul oleh seorang berbadan gemuk diiringi oleh seorang pemuda lain mengepit ayam jago putih yang tidak lain pemuda itu adalah Barus. Utusan Datuk Penghulu Janggut Mas bergegas menyeberangi biduk untuk menjemput rombongan Tintin, dalam waktu yang tidak lama biduk penjemput telah merapat di pinggir seberang sungai Batang Merangin, rombongan Tintin menampak wajah keletihan dan hendak cepat-cepat sampai di dusun Nibung. Mereka masuk biduk satu persatu karena muatan perahu juga terbatas dan harus dijemput berulang-ulang, pertama kali diseberangkan dengan biduk adalah Tintin beserta barang-barang bawaannya bersama Barus, kemudian menyusul anggota lain.

Mereka beristirahat di Ujung Tanjung Muaro Masumai untuk melepas penat. Sementara, penjemput rombongan Tintin memasak nasi dan lauk pauk seadanya untuk makan rombongan Tintin yang sudah kelaparan, setidak-tidaknya sebagai penganjal perut seadanya sebelum sampai ke dusun Nibung.

Kisah dan pengalaman perjalanan tak henti-henti ditanya oleh penjemput rombongan Tintin, meskipun mereka sangat lelah, mereka masih bersemangat bercerita, apalagi dalam rombongan Tintin ada seorang anak muda yang suka berbual, dia berkata bahwa dirinyalah yang menerima tantangan dari Juragan Kumis Melintang dengan taruhan semua barang yang mereka bawa termasuk Tintin, beruntung ayam Tedung Selero Puar milik Barus menang, kalau tidak , Uwo Tintin mungkin masih tinggal di dusun Lubuk Mas dijadikan budak atau menantu oleh Rio kepala dusun Lubuk Mas yang mempunyai anak gadis cantik yang kelihatannya tertarik dengan uwo Tintin. Di sela itu terdengar gurauan yang lain, mungkin jugo Uwo Tintin saat ayam bertarung tidak mengharap ayam Tedung Salero Puar menang melawan Kinantan, agar dio bisa menjadi menantu Datuk Rio dusun Lubuk Mas, mendengar coletehan itu, Tintin dan Barus hanya tersenyum saja.

Mereka semua sangat senang dan bersyukur telah selamat sampai di Ujung Tanjung Muaro Masumai. Beberapa jam lagi, Insa Allah mereka telah sampai di dusun Nibung bertemu dengan orang-orang yang mereka kasihi. Demikian pula Barus jauh dalam lubuk hatinya juga ingin bertemu dengan seorang gadis dusun Nibung yang secara diam-diam telah mencuri hatinya, namun hal ini masih dirahasiakan. Barus sadar bahwa dirinya saat ini masih berstatus orang hukuman.

Sembari istirahat Barus memberi makan ayam Kinantan putih pemberian Juragan Kumis Melintang dengan pipilan jagung dan beras yang sudah ada di kantong pakan ayamnya. Tidak lama kemudian, sang surya telah beranjak tinggi, nasi dan lauk pauk sudah terhidang di atas lembaran daun pisang, tidak ketinggalan air kopi bergula enau telah siap dihamparkan oleh orang penjemput rombongan Tintin, mereka bersama menyantap makanan ini yang berasa sangat nikmat. Perasaan ngantuk pun tiba karena perut telah kenyang, mereka bersandaran di batang kayu yang masih banyak terdapat di Ujung Tanjung di kala itu.

Tintin memerintah salah seorang penjemput untuk berangkat duluan ke dusun Nibung mengabari kepada orang tuanya bahwa mereka telah sampai di Ujung Tanjung Muaro Masumai Bangko. Setelah mereka istirahat cukup lama, barulah rombongan Tintin dan penjemput menyusul kembali ke Nibung. Jarak tempuh dari Ujung Tanjung Muaro Masumai ke Nibung diperkirakan ± 7 km atau dilalui ± 3 jam dengan berjalan santai. Di sungai Belisih mereka lama berhenti membersihkan badannya dan ada juga yang mandi, seorang pemuda kocak penjemput rombongan Tintin bernama Thalib selalu memperhatikan Barus, dalam hatinya berkata bahwa Barus memendam sesuatu yang dirahasiakan karena sekali-kali Barus menengadah ke atas, sorot matanya mengisyaratkan sesuatu yang dirindukan, mungkin Barus terpaut dengan seorang anak gadis di dusun Nibung dan dia mendekati Barus sembari berpantun;

Dari Pulau Rengas ke dusun Kungkai

Dari Nibung ke Pangkalan Jambu

Jangan cemas kasih diungkai

Kasihnyo bertambah dari dahulu.

Agak terkejut Barus mendengar pantun ini karena rahasia hatinya tertebak oleh Thalib sang pemuda kocak, saat itu Thalib melanjutkan godaannya dan berkata;  “biarlah ayam ini aku yang membawanya, nanti akan aku serahkan padanya untuk diurus sambil dia ketawa cekikan. Melihat laku pemuda ini Barus ingat sahabat karibnya di pedukuhan Tanjung Beliku bernama Tirau Bujang Juki dan sahabatnya  Kodak Bujang Pakila pemuda hitam manis dari dusun Bangko.

 

Di Muara Sungai Belisih yang mengalir ke sungai Mesumai terdapat hamparan bebatuan yang disebut pulau, di sinilah mereka menceburkan diri membersihkan tubuh yang memang jarang mandi selama dalam perjalanan.

Air sungai Mesumai yang jernih dan sejuk terlihat ikan-ikan yang jinak dengan lincah berkeliaran kian kemari, membuat mereka betah berlama-lama berendam diri sambil melihat kelompok kera ekor panjang berlompatan di pepohonan lebat yang masih asri dan tidak jarang pula di sela oleh suara berbagai jenis burung, seperti enggang dan lain-lainya.

Sungai Batang Mesumai bermuara ke sungai Batang Merangin disebut Ujung Tanjung Muaro Mesumai, hulunya dari daerah pergunungan di daerah Kerinci memang memendam bahan tambang yang banyak berupa emas, namun masyarakat sekitar sepanjang sungai memanfaatkan potensi alam bumi, air dan hutan secara arif, mereka menyadari bahwa potensi ini adalah titipan anak cucu yang harus dijaga, dan jangan dikelola secara rakus untuk kepentingan sesaat yang sangat merugikan keserasian alam lingkungan pada masa kini dan masa yang akan datang, sehingga berakibat buruk bagi mereka kelak kemudian hari.

Lama rombongan Tintin beristirahat di pulau berbatuan, setelah Sholat Zhuhur barulah mereka beranjak melanjutkan perjalanan menuju desa Nibung yang memang sudah tidak seberapa jauh lagi.

Tintin sebagai kepala rombongan telah berganti pakaian dengan pakaian baru yang dibeli dalam perjalanan. Tintin sudah sangat ingin cepat bersua dengan orang-orang yang dia cintai, terutama terhadap kedua anaknya Putri cindai dan Bujang Lenggang serta isteri tercinta, karenanya terlihat langkahnya lebih cepat di depan rombongan.

Beda dengan Tintin, Barus berjalan gontai ditemani salah seorang anggota rombongan, sepertinya dia kurang berdaya mendaki bukit pada simpang dusun Salambuku, di bawah sebatang pohon Barus berhenti tanpa menghiraukan Tintin yang telah jauh mendahuluinya.

Melihat hal ini temannya menghampiri menepuk bahu Barus sambil berkata, apakah engkau kurang sehat Barus? Barus menggeleng kepalanya dan berkata lirih, aku sehat saja. Entah mengapa nama dusun ini mengingatkan aku kepada ibkuku? Bagaimana keadaan ibuku? Bapak dan kakak perempuanku Cik Ijah, apakah ibuku menyampaikan salam padaku? Hal lain menyebabkan kegalauan Barus adalah benih-benih cinta yang telah bersemi di hatinya kepada seseorang gadis cantik dusun Nibung yang masih dirahasiakan erat agar tidak diketahui siapapun, karena dia menyadari bahwa dirinya adalah seorang budak hukuman.

Barus ingin segera melihat puteri cantik dusun Nibung yang telah berulangkali menghantarkan makanan secara diam-diam ke sudung tempat tinggalnya, bathinnya berkata; apakah aku tidak bertepuk sebelah tangan? Apakah perasaannya sama dengan perasaanku?

Perasaan hatinya inilah yang tidak disampaikan pada temannya, kemudian agak segan dia melangkah mengayun kaki diikuti temannya menyusul Tintin yang sudah jauh mendahuluinya. Sejauh jarakpandangan barulah Barus melihat bahwa Tintin sudah agak lama sampai di mulut simpang masuk ke Nibung dikelilingi oleh kerabat yang menunggu kedatangannya. Barus sesampainya ke dekat mereka yang berkumpul tidak serta merta bergabung dengan Tintin yang di situ juga ada Datuk Janggut Mas, melihat hal ini Datuk penghulu Janggut Mas menghimbau Barus supaya ikut bergabung duduk istirahat bersama mereka, Barus dengan santun menghampiri mereka.

Sejenak Barus duduk bersama, kemudian bergeser ke sebatang pohon yang telah roboh, duduk menyendiri. Di kejahuan di bawah pohon batang duku terlihat seorang gadis cantik bertekuluk kuning bersama seorang anak kecil. Di bahu gadis ini tersandang ketiding kecil untuk menampung buah duku yang jatuh dikumpulnya. Memang di kala itu duku dan durian sedang berbuah lebat, buah duku sudah menguning ada yang berjatuhan ke bawah pohon, sehingga kehadiran gadis tekuluk kuning tidak menjadi hirau bagi orang lain. Sembari mengunyah ubi rebus, Barus sebagai seorang pendekar memiliki pandangan mata yang tajam, sejenak mereka telah bertemu pandang, di kala itu si gadis yang bernama Fatimah Suri mengibaskan tekuluknya ke arah Barus seolah-olah memperbaiki lilitan tekuluk di kepalanya yang hampir lepas. Aneh memang, kemudian terlihat Fatimah Suri membalikkan tubuhnya dan terus mengajak anak kecil di sampingnya untuk balik ke dusunsambil membawa kiding kecil yang berisi buah duku yang telah dikumpulnya, seperti agak tergesa-gesa Barus bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa Fatimah Suri secapat itu kembali meninggalkannya?

Sesampainya rombongan Tintin di samping rumah Datuk Penghulu, mereka belum langsung bubar ke rumah masing-masing karena ibu Tintin menyiapkan suguhan untuk dimakan bersama, barulah setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing. Ibunda Tintin memerintahkan seorang mengantarkan makanan dan bekal lainnya untuk Barus serta beberapa lembar pakaian, berupa; baju, kain, kopiah resam, dan lain sebagainya.

Barus pamit dengan Datuk Penghulu sekeluarga dan terus menemui adiknya Puti Merangin, di depan adiknya Barus berkata; “Dik, uwo tidak membeli apo-apo sebagai oleh-oleh untukmu, uwo hanyo mengiringi perjalanan Tintin”, mendengar ucapan ini Puti Merangin tidak kuasa menahan lelehan air hangat dari pelupuk matanya. Puti Merangin bukannya menetes air mata dikarenakan kakaknya tidak membawa sesuatu untuknya, tapi air matanya mengalir melihat keadaan kakaknya yang agak kurus serta berpakaian kumal dan di bahunya hanya menyandang buntalan kain kecil. Dengan suara terputus-putus, dia menjawab kata-kata kakaknya; “aku dak mengharap oleh-oleh dari uwo yang penting uwo telah selamat balik ke sini”. Oh yo uwo, induk tuo menyampaikan salam melalui orang yang datang ke sini buat uwo, mungkin dua hari lagi inyo ke sini lagi, nanti bilo keluargo kito telah sampai ke sini, adik ingin kumpul bersamo-samo mereka, adik jugo rindu samo Cik Ijah. Oh yo uwo. Datuk Penghulu selamo uwo berpergian, telah menyuruh orang-orang di dusun ini membuatkan pondok yang lebih gedang dan bertiang tinggi untuk pengganti sudung uwo.

Ooh… Salam ibuku, mengguman Barus mengulang kata-kata adiknya, betapa rinduku kepada ibuku, bapak, Cik Ijah, dan sanak famili yang lain, apalagi bersama mereka ikut sahabatku Tirau Bujang Juki. Tidak lama Barus berjalan, dia telah melihat sebuah pondok beratap daun serdang berdiri di sebelah sudungnya, Barus dipersilakan naik oleh seseorang yang diperintahkan oleh ibunda Tintin untuk membawa bekal dan sebuah lampu minyak. Setelah menempatkan ayam Kinantan berbulu putih dekat sudungnya, barulah  Barus naik ke pondoknya kosong yang di dalamnya hanya ada sebuah kiding berisikan duku yang telah berwarna kuning dan sehelai tekuluk kuning mirip yang dipakai Fatimah Suri ketika bertemu pandang beberapa saat yang lalu di samping dusun Nibung.

Istirahatlah engkau Barus, ujar pengantar makanan, besok malam kami akan datang menemani engkau di sini, Barus mengucapkan terima kasih pada temannya tadi. Waktu dua hari menunggu kedatangan keluarganya terasa amat lama bagi Barus karena tidak saja sangat rindu kepada kedua orangtuanya serta Cik Ijah, dia juga sangat mengharapkan Tirau Bujang Juki ikut bersama mereka.

Barus sudah tidak sabar lagi ingin mengajak Tirau Bujang Juki bertandang melapas rindu ke rumah Fatimah Suri, sekaligus ingin menanyakan, siapa yang mengantar duku dan kenapa ada tekuluk kuning tinggal di pondoknya? Milik siapa tekuluk itu? Walaupun dirasanya masih sangat letih, namun matanya sulit untuk dipejam, matanya menatap atap serdang pondok barunya. Sekitar pondok Barus banyak terdengar suara binatang malam, seperti Jengkrik dan cacing tanah yang terdengar jelas di telinga Barus, hampir semalaman Barus menelentangkan badannya tanpa dapat memejamkan mata sepicing pun untuk tidur, Barus mencoba menenenangkan hati yang galau, dia juga tidak kuasa, wajah Fatimah Suri selalu hadir dalam pelupuk matanya. Barus duduk di tengah kesunyian dan sekali-kali keluar dari pondok sambil menatap bulan yang bersinar terang, hati Barus bukan bertambah tenang tapi tambah gelisah, kegelisahan itu tidak lain karena membaranya cinta Barus terhadap Fatimah Suri, Barus mencoba berbaring dengan menutupi matanya dengan tekuluk kuning, sampai waktu Subuh sudah tiba, ayam Kinantan tidak henti-henti berkokok, seolah-olah menyuruh Barus segera menunaikan Sholat Subuh.

Hari yang sangat dinanti-nantikan pun tiba setelah memasuki hari kedua, di ambang sore terdengar suara seruling di pinggir ladang dan tidak lama kemudian terlihat seorang pemuda bertubuh mungil, si-peniup seruling serta di belakangnya diikuti oleh rombongan orang berjalan menuju arah pondoknya, tidak salah (gumam Barus), sipeniup seruling tidak lain adalah Tirau Bujang Juki dan di belakangnya tampak Cik Ijah kakak perempuan Barus serta di belakangnya lagi ada kedua orang tua Puti Merangin dan orangtua Barus sendiri.

Melihat rombongan keluarganya datang, Barus melompat dari tempat duduknya menuruni anak tangga pondoknya. Setengah berlari Barus menyonsong kedatangan orang-orang yang sangat dia sayangi, Barus berpelukan satu sama lain, dan begitu juga dengan Tirau Bujang Juki. Setelah Tirau Bujang Juki berpelukan, kembali dia meraih suling yang diselipkan di pinggang dan menempelkan di bibirnya, dia tidak menghiraukan Barus yang masih rindu berat dengan kedua orang tuanya dan Cik Ijah, Barus memeluk ketiga orang itu di jalan setapak tengah ladang, di sela rumpun tebu dan pohon pisang. Suasana amat haru kala itu, Cik Ijah berkali-kali mengusapkan wajah dengan ujung tekuluknya, demikian pula ibu Barus.

Mereka bersama-sama menuju pondok kediaman Barus, pada malam hari mereka bercerita sepuas hati, di antara mereka juga telah hadir Puti Merangin. Tidak banyak yang dapat ditanyakan Barus mengenai keadaan di pedukuhan Tanjung Beliku pada Cik Ijah karena ibunya selalu menanyakan kisah perjalananya selama mengawal Tintin ke daerah selatan. Barus menceritakan semua pengalamannya serta cerita dirinya ditantang menyabung ayam Tedung Salero Puar miliknya di dusun Lubuk Mas, sampai-sampai masyarakat Lubuk Mas mengangkat dia sebagai saudara dengan memotong seekor kambing yang dipelopori oleh Rio Lubuk Mas.

Ayah Barus dan ayah Puti Merangin mencermati kisah Barus, hanya sekali-kali mereka nimbrung. Sementara, Tirau Bujang Juki tidak ingin menanyakan pengalaman atau kisah Barus selama dalam perjalanan, tetapi Tirau bertanya, apakah Rio dusun Lubuk Mas ada memiliki anak gadis cantik atau tidak? Kalau ada boleh dak kito bertandang ke dusun Lubuk Mas? Kito ajak Bujang Pakila ke situ.

Malam itu belum ada tamu yang datang, mereka tidur sudah larut malam, hampir saja Sholat Subuh berlalu, untung ayam Kinantan pemberian Juragan Kumis Melintang tidak henti-henti berkokok, akhirnya mereka terbangun juga oleh kokok ayam yang makin lama semakin bersahutan diselingi kokok ayam berugo (ayam hutan) di sekitar pondoknya. Setelah Sholat Subuh Cik Ijah dan Puti Merangin memasak air untuk minum kawo ayah ibunya serta mereka se-isi pondok, bersamaan dengan itu Cik Ijah dan Puti Merangin memasak bahan-bahan yang sudah ada di dapur Barus yang merupakan pemberian ibu Tintin untuk sarapan pagi mereka, di samping itu juga banyak makanan yang dibawa dari Tanjung Beliku, termasuk asam rebung, kasam ikan, cangkuk tulang, dan belacan kepayang kesukaan Barus. Mereka melewati pagi dan siang hari itu untuk bercerita, nyaris saja mereka tidak menuruni pondok kalau tidak untuk hal yang penting, seperti; berwudu’ untuk Sholat Subuh, Zohor, Ashar, Maqrib, dan Isa ke sungai Batang Masumai.

Esok hari setelah kedatangan orang tua Barus, menyusul pula ke dusun Nibung seorang sahabat Barus yang dipanggil Bujang Pakila. Kedatangannya sahabatnya ini membuat Barus betul-betul amat gembira, percakapan demi percakapan seolah-olah tidak henti-hentinya diselingi gelak tawa. Kedua orang tua Barus dan Cik Ijah pun sangat gembira menyaksikan Barus dan Puti Merangin yang telah melupakan deritanya selama ini, apalagi tinggal lebih kurang satu bulan lagi Barus dan Puti Merangin akan bebas dari hukuman adat hingga mereka dapat berkumpul kembali di pedukuhan Tanjung Beliku. Sebagai orang tua dia melihat Barus dan keponakannya Puti Merangin semakin dewasa kepribadiannya, berkat gemblengan selama ini sebagai orang hukuman. Pada malam itu juga pondok Barus banyak dikunjungi oleh orang tua dan pemuda dusun Nibung untuk silaturrahim dengan orang tua Barus yang juga mereka segani dan hormati.

Bujang Juki dan Bujang Pakila asik bercerita masalah muda mudi, wajar saja mereka masih muda dan keinginan mencintai dan dicintai diriya, sebagaimano kato seloko adat; “adat mudo menanggung rindu, adat bumbun menyalaro, adat padang kepanasan”. Orang tua Barus dan Puti Merangin mencoba merebahkan tubuhnya untuk istirahat, Cik Ijah dan Puti Merangin ikut juga istirahat setelah menambah air kawo untuk Barus, Bujang Juki, dan Bujang Pakila yang masih ingin ngobrol.

Demikian juga pada malam-malam berikutnya, suasana di pondok Barus semakin ceria, tokoh-tokoh masyarakat dusun Nibung serta para pemudanya banyak yang berkunjung ke pondok Barus silih berganti, tidak ketinggalan juga Bujang Lenggang anak bujang Tintin atau cucu Datuk Penghulu Janggut Mas.

Barus sangat maklum bahwa kedatangan para pemuda ke pondoknya bukanlah semata-mata hendak bercengkrama dengan dirinya, lebih dari itu adalah dikarenakan di pondoknya ada Cik Ijah dan adik sepupunya Puti Merangin. Kedua saudara perempuannya ini dapat diibaratkan sebagai kembang melatinya pedukuhan Tanjung Beliku, maka tidak mengherankan kumbang-kumbang negeri Tebat Tujuh berdatangan ke pondoknya sesuai dengan kata pribahasa mengatokan “bilo ado bungo yang harum, kesitulah kumbang berdatanganan”.

Malam-malam berikutnya lagi Barus dengan temannya Bujang Pakila dan Tirau Bujang Juki dengan bermodalkan sebatang seruling bambu dan sebuah ginggung serta leher yang selalu dililit dengan handuk kecil bertandang ke rumah gadis cantik dusun Nibung bernama Fatimah Suri, gadis yang tadi pagi telah mengantar gulai Tekuyung campur paku (pakis) ke pondok Barus.

Barus pemuda yang agak pendiam merasa percaya diri ditemani karibnya Bujang Pakila pemuda yang memiliki ilmu Tubah Nyanyi menjadikan dirinya jago pantun seloko dan Tirau Bujang Juki yang memiliki ilmu Semabau menjadikan suara tiupan seruling dan petikan ginggungnya selalu terngiang-ngiang di telinga gadis yang dituju dan menghunjam rasa rindu dan bila tidur menjadi bunga mimpi.

Di pertengahan jalan sebelum sampai ke rumah Fatimah Suri, Tirau Bujang Juki telah meniupkan seruling kesayangannya, suara seruling menyibak gelapnya malam, setelah berjalan sampai dekat rumah Fatimah Suri, Tirau Bujang Juki menyelipkan seruling ke pinggangnya, kemudian dia menggantikan dengan memetik ginggung yang ditempelkan di sudut mulutnya, kini suara ginggung mendayu-dayu sampai ke samping di bawah rumah panggung Fatimah Suri, perasaan Fatimah Suri berbunga-bunga mengharap kedatangan Barus.

Suara ginggung berhenti, kini giliran Bujang Pakila, dia berdehem-dehem batuk kecil yang diada-adakan, kemudian terdengar pantun dari mulutnya;

Pangengat di bawah rumah

Labu tergantung di bawah tanggo

Ingat-ingat iko di rumah

Siburuk untung orang hukuman

Lah tibo pulo

Menjawab ibu Fatimah Suri mewakili anaknyo;

Berbuah lepang di Jambi

Berbungo berputik pulo

Iyoo bertuah dusun kami

Bujang Merangin lah tibo pulo

Naiklah orang yang tegak di halaman ke rumah, Cuma hati-hati bae tanggo kami sudah berlumut, lah lapuk pulo kareno selamo ini tidak ado mensanak yang gedang mau mengecil tuah, yang tinggi merendah bangso mau menginjak anak tanggo kami, sehinggo tanggo pondok buruk kami sudah berlumut. Fatimah Suri segera menghamparkan tikar pandan berwarna warni dan mempersilakan tamunya duduk. Barus, Bujang Juki, dan Bujang Pakila mengambil posisi duduk dekat pintu karena adat bertandang memang demikian, tamu tidak boleh duduk di tengah rumah, jika dilakukan dan kedapatan oleh nenek mamak, maka yang bersangkutan dapat dikenakan hukum adat, berupa kambing satu ekor dan beras sepuluh gantang. Setelah Barus, Bujang Juki, dan Bujang Pakila duduk, Fatimah Suri segera menuju dapur membuat air kawo dan mengambil nasi lemak yang memang telah dipersiapkan sebelumnya, kedatangan Barus malam itu sudah diketahuinya.

Setelah menghidangkan santapan tadi Fatimah Suri berucap, cobolah uwo segalonyo, minum air kami yang tidak manis, nasi kami yang tidak lemak. Tirau Bujang Juki tanpa basa basi langsung meraih cangkir kawo dan menarik piring nasi lemak yang diikuti oleh Bujang Pakila dan Barus. Belum lagi dua suapan ke mulutnya, Bujang Pakila telah menyimbat sebuah pantun;

Iyo semak jalan ke kedai

Jalan pernah ditimpo duri

Iyo lemak nasi orang Masumai

Makan hendak bertambuh  duo kali

Semuanya orang di rumah tersenyum, mendengar simbatan pantun Bujang Pakila yang tidak kehilangan kato. Menjawab Fatimah Suri, janganlah uwo bermanis-manis kato, nasi tidak lemak dikato lemak, hanyo itulah yang ado dikami. Ibu Fatimah Suri mendampingi anaknya bersimbat/bersilih pantun seloko yang ditujukan pada Barus, “wahai anakku Bujang Merangin, kami tergamang bak ditimpo kasau, tergagau  bak ditimpo upih, kenapo anakku tersesat sampai ke rumah kami? Apo kalian tersesat karena salah simpang atau tersasar kepadaman suluh, sebab selamo ini tidak ado dusanak yang tinggi mau merendah bangso, yang gedang mengecikkan tuah, datang ke rumah kami yang buruk ini”. Menjawab Bujang Pakila kareno Barus lamo terdiam, “wahai Induk Tuo, kami bukan tersesat kesalahan simpang, tersasar kepadaman suluh, kami idak empat atau limo, kami ujud satu, iman sebuah, sejak sejengkal meninggal tanggo, selangkah meninggal halaman, kami memang hendak ke sini mengantar kakak kami Barus yang hendak mencari mensanak, yang duduk mau berkato kasih, tegak mau berkato sayang, sekironyo di sini ado kasih yang berlebih, sayang yang bersiso”.

Tujuh rumpun pandan ditutuh

Mencari pandan yang berbungo

Di kebun berbungo belum

Dipadi berbungo tidak

Sudah tujuh dusun dio tempuh

Mencari badan yang dipergunokan

Mudah-mudahan di rumah ini badannyo berguno

Menjawab Fatimah Suri;

Tidak kami tolak uwo berakit ke hilir

Tidak kami tundo bagai rumpun hanyut

Kalau jatuh, biarlah kami menyambut

Kalau hanyut biarlah kami yang merenangi

Hanyo bae kami belum sepenuhnyo percayo pado uwo

Maklum

Bungo cempako kembang tinggi

Jatuh ke halaman, pecah belah

Uwo bakato, elok bunyi

Pandai menyimpan di isi rumah

Pucuk jalo berpilin tali

Tersangkut di bawah pengentaian kain

Gerak mato uwo iyo kepado kami

Tapi kasih uwo  mungkin sudah tertumpah pado yang lain  gadis Merangin, kami kuatir

Sayangnyo uwo masih berhinggo, kasihnyo uwo masih babateh

Kata-kata Fatimah Suri yang ditujukan pada Barus yang tidak bisa diwakili oleh salah seorang dari temannya untuk menjawab, waktu itu inspirasi Barus secara reflek timbul untuk menjawab pantun seloko Fatimah Suri. Barus sedikit ragu, namun dia tidak pernah gentar sambil  mengingat-ingat pantun seloko Bujang Pakila sebelumnya, kemudian Barus menjawab; “kalau itu yang engkau katokan dik, tidak usah adik ragukan lagi, tinggi nian bukit yang telah uwo daki, dalam nian lekuk yang sudah uwo turuni, hanyo ingin bertemu dengan kau seorang, tidak untuk yang lain”.

Apo penebang Merantih tinggi

Pecah empat, belah delapan

Buat biduk panjang tujuh

Untuk melayar sungai Batanghari

Tidaklah aku wujud duo tigo

Tidak pulo aku sangi empat/ limo

Wujud uwo satu, iman uwo sebuah

Tidak ado lagi selain engkau dik

Kasih uwo kepado engkau dik sudah memenuhi bumi, sayang uwo lah meliputi alam;

Layang-layang terbang melayang

Hinggap di ranting mengepak-ngepak

Uwo sayang seperti idak sayang

Kareno uwo miskin, sayang idak nampak

Uwo adolah orang tahanan, kareno itulah dik

Batang beringin bercabang empat

Jatuh selaronyo ke dalam payo

Sayang dikain boleh uwo lipat

Tapi sayang dikau dik apolah dayo

Menjawab Fatimah Suri, pikir nian elok-elok uwo, imat sudah-sudah, isuk setelah luko baru uwo meraso pedih, lah sudah baru menyesal, kami buruk kareno tidak beremas, rendah bangso kareno idak bersuku, kalau uwo idak nyesal nantinyo memang itulah yang kami harapkan.

Barus kembali menjawab melalui pantun seluko;

Biduk upih pengayoh bilah

Patah kemudi incung paku

Kalaulah boleh nyawo ini dibelah

Ambil sebagian untuk kau dik, pilihlah

Bagian mano yang adik mau

kareno hari sudah larut malam, kami minta izin kepada induk tuo dan kau dik, hendak mengurak selo, mengayun langkah kembali ke pondok buruk di tepi dusun, bilo nasi yang sudah kami makan dan air yang sudah kami minum, kami minta redho. Kemudian Bujang Pakila melanjutkan kato-kato Barus, kalau ado kato-kato kami yang salah kami mohon dimaafkan.

Kalau ado sumur di ladang

Boleh kito menumpang mandi

Kalau ado umur kito samo-samo panjang

Insa Allah kito basuo lagi

Mereka bertiga secara bergiliran menuruni tangga rumah Fatimah Suri, yang terakhir turun adalah Barus, dia kelihatan enggan turun tapi mengingat hari surah larut malam, di samping itu di pondoknya ada kedua orang tuo beserta kakaknyo Cik Ijah yang merencanakan besok pagi kembali ke dusun Tanjung Beliku.

Pada hari keempat kedatangan orang tua Barus di dusun Nibung, pagi-pagi sudah terlihat beberapa pemuda dusun Nibung berkumpul di pondok Barus, diantaranya ada gadis cantik dusun Nibung yang tidak lain adalah Fatimah Suri dengan beberapa orang teman sebayanya.

Kedua orang tua Barus dan orang tua Puti Merangin telah bersiap-siap hendak kembali ke Tanjung Beliku, ketika itu pula Fatimah Suri terlihat menghampiri Cik Ijah kakak Barus dan sambil menyerahkan rantang berisikan bekal makanan dalam perjalanan balik ke Tanjung Beliku.

Tirau Bujang Juki minta izin kepada orang tua Barus untuk tinggal beberapa hari lagi di dusun Nibung karena Barus belum memperbolehkan dirinya berdua dengan Bujang Pakila untuk ikut balik, tinggallah di sini beberapa hari lagi menemaniku, demikian permintaan Barus. Sudah dapat ditebak bahwa selama mereka di dusun Nibung hampir setiap malam mereka bertandang, kalaulah tidak ke rumah Fatimah Suri tentulah ke rumah gadis yang lain, hampir saja Tirau Bujang Juki dan Bujang Pakila mendapat jodoh gadis Nibung, kalaulah tidak sebelumnya Tirau Bujang Juki telah terpaut hatinya dengan seorang gadis pedukuhan Tanjung Beliku dan Bujang Pakila juga telah terpaut hatinya dengan seorang gadis cantik dusun Bangko Tinggi, sebagaimano bunyi seloko adat “matonyo telah berkutuk, hatinyo telah bersetan, ibarat sirih telah memabuk, pinang telah bermalau, pandang matonyo idak biso berkisar, pandang hatinyo sudah idak bisa dialih lagi”.

Dua hari lagi menjelang mulai puasa Ramadhan barulah Tirau Bujang Juki kembali ke Tanjung Beliku menempuh jalan arah ke Bangko menemani Bujang Pakila, sebab besoknya satu hari menjelang memasuki puasa, masyarakat daerah aliran sungai Batang Merangin dan Batang Masumai mgang, masyarakat memotong kerbau, sapi untuk lauk pauk bulan Ramadhan, kerbau dan sapi itu mereka beli secara gotong royong, satu ekor kerbau dimiliki sepuluh kepala keluarga dan satu ekor sapi dimiliki tujuh kepala keluarga, suasana mgang terasa asik, setiap rumah terdengar kesibukan untuk memasak randang dan sebagainya. Lokasi pemotongan disatu tempat dan tidak boleh di tempat yang berbeda, suasana hiruk pikuk keceriaan menjadi warna hari itu, setelah daging dibagi sama rata, mereka melelangkan tulang, jeroan, kulit, dan lain sebagainya. Uang hasil lelang ini mereka berikan untuk pembangunan Masjid, demikian serunya hari mgang, setiap dusun memiliki ciri khas tersendiri. Inilah alasan Tirau Bujang Juki dan Bujang Pakila untuk pulang ke dusunnya masing-masing, apalagi mereka masih bujangan merupakan tulang punggung untuk membantu orangtuanya di rumah.

Selama bulan suci Ramadhan Barus tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk beribadah yang hanya ada sekali setahun, maka dia berjanji dengan dirinya untuk mendekatkan diri dengan sang Khalik karena bulan ini “Syetan dibelenggu dan amal ibadah dilipat gandakan ganjarannya”, di samping itu Barus memanfaatkan waktu luang mengaji al-Qur’an, Sholat Fardhu yang dilakukannya berjamaah dengan masyarakat Nibung pada malamnya dia melaksanakan Sholat Sunat Taraweh berjamaah, setelah Sholat Taraweh dia tadarusan hingga datangnya waktu Sahur, demikian seterusnya  dilakukan setiap malam. Datuk Penghulu Janggut Mas sangat terkasima atas sikap Barus selama ini, baik itu dalam pekerjaan, tanggung jawab, kemasyarakatan, disiplin, ketaatan, dan ibadahnya. Dalam Masjid Datuk Penghulu sering mengambil posisi Sholat dekat Barus dan sering pula meminta Barus menjadi imam Sholat Taraweh. Barus tidak dapat menolak perintah Datuk Penghulu, walaupun dengan perasaan gugup dia mencoba menjadi imam. Makmum banyak yang merasa heran bahwa Barus memiliki suara yang mardhu, fashih makhraj, dan bagus tajwidnya. Akhirnya Barus sering dipercaya menjadi imam Sholat SunatTaraweh.

Seminggu menjelang hari raya Idul Fitri di dusun Nibung terlihat berbagai kegiatan untuk menyonsong lebaran, diantaranya masyarakat memotong kerbau atau bantai negeri, namun tidak sebanyak memotong kerbau atau sapi tatkala mgang di awal Ramadhan.

Suasana serba baru kelihatan, banyak masyarakat yang membersihkan pekarangan rumahnya, membersihkan rumah, memperbaiki tangga, dan anak tangga yang lapuk, anak-anak kecil telah dipersiapkan celana dan baju barunya.

Sehari sebelum hari raya, Datuk Penghulu memanggil Barus untuk menjadi khatib membaca Khutbah Hari Raya karena khatib di dusun itu terganggu kesehatannya, pilihan lain adalah Barus karena dia telah diketahui oleh orang banyak memiliki Ilmu Agama yang memadai dan mampu membaca huruf arab melayu. Semula dengan halus Barus menolak, dia meminta ditunjuk orang lain saja, namun Datuk Penghulu dengan amat sangat meminta supaya Barus menjadi khatib Hari Raya Idul Fitri tahun itu di dusun Nibung. Alhamdulillah Barus menerima permintaan Datuk Penghulu, para jamaah menyimak pesan-pesan yang disampai Barus dalam khutbahnya. Semenjak dari itu Barus tidak lagi dihimbau dengan namanya, akan tetapi masyarakat memanggilnya “Khatib Mudo”. Lebaran hampir usai, acara jalang menjalang dilakukan secara bergilir, dimulai rumah pegawai syara’, tokoh adat, dan pemangku negeri (Mangku dan Rio), hari penjalangan Datuk Penghulu Janggut Mas jatuh pada hari Kamis tanggal 15 Syawal.

Bujang Lampam yang bernama Mahmudi adalah bekas seorang pedagang garam yang telah bangkrut setelah beberapa galas pantik berisi garamnya terjatuh di Sungai Pangi Jangkat yang hampir menjadikannya stress berat. Kini Bujang Lampam mencoba lagi peruntungannya di dusun Nibung dan menetap di dusun ini. Dia menata usahanya lagi dengan jual beli buah pinang, masyarakat sekitar dusun Nibung menjual buah pinang kepada Bujang Lampam. Bujang Lampam berjiwa supel, mudah bergaul, dikenal orang, dan mudah tersenyum. Barus sangat menyenangi dirinya karena Bujang Lampam humoris dan jago seni. Disebaliknya, juga Bujang Lampam sangat terkesan dengan Barus, selama ini dia mengenal Barus sebagai pendekar tangguh, setelah Barus menjadi khatib Hari Raya Idul Fitri beberapa hari lalu barulah Bujang Lampam mengetahui bahwa Barus juga memiliki Ilmu Agama yang memadai. Bujang Lampam seorang pemuda gaul dan memanggil Barus dengan sebutan “Khatib Dubalang”, karena itu pula masyarakat dusun Tebat Tujuh mengubah panggilan terhadap Barus dengan panggilan  “Khatib Dubalang”, nama kuniyah ini pula diikuti oleh masyarakat Pulau Rengas dan Tanjung Beliku.