Penulis sengajo menutur latar belakang lahirnyo penentuan wilayah Alam Berajo Jambi setelah bertutur tentang PUCUK JAMBI SEMBILAN LURAH, hal ini dikarenokan kisah yang melatar belakangi penyebutan batas-batas luar PUCUK JAMBNI SEMBILAN LURAH bukanlah semato-mato penentuan wilayah daerah, tetapi lebih dilatar belakangi dengan keadaan kondisi masyarakat yang tidak taat hukum (adat) di kalo itu.

Dalam hikayat tambo, terjadi suatu keadaan pado suatu maso dahulunyo yang disebut “Tamiang Bala”. Pada maso itu adalah hal yang biaso, sebagaimano yang disebut dalam istilah adat “Tinju yang setuwuk, sepak yang selayang, dan tujah yang secucuk” tidak ado sangsi hukuman terhadap pelakunyo.

Menghadapi keadaan yang tidak taat hukum ini, dilakukanlah pertemuan antaro para tokoh adat dari Alam Berajo Jambi dan Alam Minang Kabau di Tanjung Samalidu kareno pelaku kejahatan, di samping oleh masyarakat dalam daerahnyo sendiri jugo adonyo antar lintas wilayah.

Pertemuan para tokoh adat di Tanjung Samalidu mengalami kegagalan kareno banyak ketidak kesepahaman di antaro peserta. Setelah bertahun-tahun kemudian tersebut dalam riwayat tambo, adonyo pertemuan keduo di Bukit Setinjau Laut Kerinci, sebagai tuan rumah adalah Siak Lengeh dari Sungai penuh, sedangkan keperluan makan minum para tamu ditanggung bersamo dengan daerah Serampeh Sungai Tenang, hal pokok yang menjadi pembicaraan dalam pertemuan kali ini adalah merupokan kelanjutan dari pertemuan pertamo Tanjung Samalidu. Dalam adat disebut “Bulat belaling sudah bersegi-segi, bulat nan tidak dapat digulingkan, pipih nan tidak dapat dilayangkan lagi”, kejahatan sudah merajao lelo, seolah-olah tidak ado hukum dikalo itu.

Para tokoh yang hadir di bukit Setinjau Laut Kerinci, antaro lain dari Minang Kabau disebut dalam hikayat Tuangku Mangkudum Sumanik Batu Sangkar, Tuan Kadi Padang Ganting, Datuk Parapatih nan Sebatang, dan Datuk Ketamanggungan, sedangkan utusan dari Alam Berajo Jambi adalah Siak Lengeh (Sungai Penuh) tuan rumah, Syeh Syamsiah Pulau Sangkar, Syeh Mahligai di bukit Mahligai Tinggi, para Depati Tigo Helai Kain, Depati Setio Nyato, Setio Rajo, dan Setio Beti. Syeh Biti dan Patih Kirisi Malin Samad, Syeh Rajo Tapian Tidak Berubah Pemuncak Pulau Rengas, Datuk Sinani Pulau Lintang, Pengeran Tamanggung Kabul Dibukit, Datu Duo Duko Berhalo Pematang Serampeh Tuo.

Hasil pertemuan dalam tambo adat disebut dengan istilah “Sijambak sijambu tanam, mano urat, manolah batang, mano dahan, manolah ranting, mano daun penutup buah, batang yang tiado boleh ditinggalkan, kayu “RU” medang cerano”. Pengetian dari istilah hikayat tadi adalah menggambarkan hubungan pemimpin dengan masyarakatnyo serto kewajiban pemimpi dan kewajiban masyarakatnyo, merupokan kearifan lokal di kalo itu dengan menggambarkan sebatang pohon yang disebut dengan pohon Jambu Jambak. Batangnyo jambu diibarat sebagai seorang pemimpin yang menegakkan dahan, ranting, dan daun. Maksudnyo dahan para orang tuo cerdik pandai alim ulama, tuo tau, dan para tokoh yang telah biaso melaksanokan tugas kemasyarakatan (mantan pejabat). Maksudnyo ranting adalah para pemuda dan pemudi, anak mudo yang cepat tangan ringan kaki, cepat tangan tidak memecah, cepat kaki tidak mendarung, disuruh pegi diimbau tibo, belum disuruh inyolah pegi, belum diimbau inyolah tibo. Maksudnyo daun adolah masyarakat yang menutup dahan, ranting, dan batang, sebaliknyo batang haruslah menegakkan dahan, ranting, dan daun. Hubungan pemimpin dengan masyarakat secara timbal balik, pemimpin adalah orang yang memimpin masyarakat dan masyarakat orang yang minta  pimpin kepado pemimpin. Hubungan baik ini diibarat lukah dengan air, apokah lukah di dalam air, apokah air di dalam lukah.

Kayu RU medang CERANO, pucuknyo telago di langit, rumpunnyo telago di bumi, diiabaratkan seorang pemimpin harus mempunyai pegangan yang kokoh atau landasan dalam kepemimpinannyo, ke atas maupun  ke bawah diibaratkan akar kayu RU medang CERANO.

Pegangan setiap pemimpin dalam adat, yaitu pucuk undang yang limo, induk undang yang delapan, anak undang yang dua belas, inilah pokok-pokok hukum adat yang harus dipedomani oleh pemimpin ataupun masyarakat. Sebaliknya masyarakat harus mematuhi pemimpin ibaratkan daun pada sebatang pohon kayu, sepanjang pemimpin itu berbuat adil dan benar, dalam istilah adat disebut “Rajo adil Rajo disembah, Rajo zalim Rajo disanggah”.

Hal lain yang diputuskan di bukit Setinjau laut Kerinci yang menjadi tonggak kesepakatan adat, dihasilkan di bukit Setinjau Laut, adalah kesepakatan penentuan Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Kitabullah (al-Qur’an), kemudian dalam istilah adat disebut dengan istilah lantak yang tiado goyah, cermin yang tiado kabur, titian teras bertanggo batu, Syara’ mengato adat memakai, apo kato Syara’ harus dipakai oleh adat. Sebelum kesepakatan ini di kalangan masyarakat ado tigo klasifikasi adat; pertamo, adat istiadat adalah kebiasan turun temurun yang masih dilakukan; keduo, adat yang diadatkan adalah adat yang berlandaskan kemufakatan, dalam istilah adat disebut kalah perbuatan oleh mufakat, kalah kato oleh samo-samo iyo; ketigo, adat yang teradat adalah kebiasaan orang perorang dan telah menjadi sifat dan tingkah lakuknyo.

Kesepakatan lain dalam pertemuan, para tokoh di bukit Setinjau Laut Kerinci adalah kesepakatan menentukan batas-batas yang saat ini disebut PUCUK JAMBI SEMBILAN LURAH. Setelah pertemuan dianggap selesai mako dipotonglah kerbau tengah duo (kerbau bunting), dibacolah doa’ bersamo yang dipimpin oleh Siak Lengeh.