Saya sering mendengar istilah “Jika dapat dimudahkan, kenapa dipersulit dan jika dapat diperpendekkan, kenapa diperpanjang”, sebagian kita mungkin ada yang sependapat dengan istilah ini tapi ada juga yang tidak sependapat. Saya secara pribadi tidak sependapat kalau istilah ini dipergunakan secara umum, istilah ini dapat dipergunakan dalam hal yang bersifat darurat. Agama juga menerapkan istilah ini manakala darurat, seorang musafir dibenarkan untuk mengqasarkan (mengurangi jumlah rakaat) seperti sholat  4 rakaat menjadi 2 rakaat dan tidak boleh sholat 3 rakaat atau 2 rakaat diqasarkan (menjadi 1.5 atau 1 rakaat). Kemudian dibenarkan dalam keadaan darurat sholat dijamakkan (menggabungkan waktu sholat). Seperti sholat zuhur dibenarkan dilaksanakan pada waktu ashar,  sholat maqrib dilaksanakan pada waktu Isa atau sebaliknya dengan jumlah rakaat yang tidak dapat dikurangi dan pelaksanaan sholat normal.

Rumus matematika tidak dapat dipendekkan, ia harus prosedural. Demikian pula praktik laboraterium tidak dapat dipermudah karena ia bersifat mekanis dan prosedural, jika hal ini dipaksakan maka hasilnya tidak normal, contoh rumus matematika tidak standar maka hasilnya tidak valid. Seperti itu pula praktik laboreterium, zat kimia digantikan dengan air atau lainnya, maka tentu hasilnya tidak tepat atau akurat.

Jalan pintas sangat digendrungi saaat ini, contohnya dalam kehidupan bernegara untuk menurunkan harga daging, maka pemerintah mengimport daging dari luar negeri dengan tujuan daging dalam negeri akan turun, maka dipergunakan jalan pintas. Sebelumnya, Mentan mengatakan jeroan bukan makanan manusia, sekarang diimportkan jeroan dengan tujuan memenuhi gizi dan protein bangsa Indonesia, hal ini jalan pintas. Dulu hidup sederhana, setelah mendapat jabatan dan proyek serta melakukan sesuatu untuk mendapatkan uang dengan mempergunakan wewenang dan posisi, itu juga jalan pintas. Banyak contoh lain dalam kehidupan sehari-hari yang tidak dipapar di sini.