Setelah kota Jambi dikuasai oleh tentera Belanda maka Tentara Nasional Indonesia menarik diri ke hulu, yaitu tepatnya di kota Bangko. Sehingga kota Bangko ketika itu dibanjiri oleh TNI dan Kota Bangko dijadikan markas, di sinilah mereka menyusun strategi untuk melakukan pertempuran melawan Belanda. Komandan S.T.D., adalah Letnan Kolonel Abunjani yang dibantu oleh Mayor Brori Mansyur. K.O.D.M. Bangko diubah menjadi sektor 1056 yang dipimpin lansung oleh Mayor Brori Mansyur.

Pada tanggal 8 Februari 1949, pukul 15.00 WIB kota Bangko diserang oleh Belanda melalui udara, penyerangan ini berlangsung sekitar 2 jam. Belanda membumi hanguskan kota Bangko, mereka menyerang perkantoran, gedung PU, rumah sakit, sekolah rakyat, dan 2 buah mobil truk. Komandan S.T.D., Letnan Kolonel Abunjani, Bupati M. Kamil, dan Wedana Bangko sedang berada di tempat, syukur mereka ini selamat dari gempuran Belanda, padahal mereka waktu itu masih berada di kantor. Sekitar sepuluh hari kemudian datanglah utusan Pemerintah Darurat R.I ke kota Bangko untuk memeriksa dan menyaksikan bekas-bekas serangan udara Belanda. Setelah terjadi penyerangan kota Bangko oleh tentera Belanda maka komandan S.T.D. ketika itu Letnan Kolonel Abunjani beserta stafnya memindahkan markasnya ke Muara Siau yang berjarak dari Bangko lebih kurang 30 km, sementara Wedana A. Laman dipindahkan ke Muara Bungo.

Pada tanggal 2 Maret 1949. TNI melakukan perlawanan terhadap tentera Belanda dan pertempuran itu terjadi di Pamenang, dari pihak TNI gugur sebanyak 2 orang, masing-masing Serma Bahrumsyah dan Pratu Mai, dan 6 orang masyarakat sipil. Pertempuran di Pamenang, pihak TNI dipimpin oleh Kapten Nur dan Letnan Satu Nursaga, sementara pasukan Belanda dipimpin oleh Mayor Selamat. Pertempuran tatkala itu, pihak TNI memiliki bersemangat membaja dan memiliki jiwa patriotik dengan slogan “lebih pulang nama daripada menyerah,” mereka memukul terus menerus tentara Belanda meskipun mereka memiliki sejata seadanya dan tentera Belanda telah memiliki senjata serbu yang lengkap.Secara peralatan kita waktu itu kalah moderen di banding tentera Belanda tapi membuahkan hasil, sehinggal tentera Belanda waspada pada kekuatan yang dimiliki Tentera Nasional Indonesia. Tidak lama kemudian,  Gubernur Sumsel Dr. M. Isa dan Panglima TNI Sumsel Kolonel Simbolon turut mempersaksikan TNI yang gugur di pertempuran Pemenang, kedua jenazah Tentera Nasional yang gugur diperintahkan untuk dipindahkan di Makam Pahlawan di kota Jambi.

Perlawanan dari rakyat sudah kelihatan, bahwa rakyat Bangko tidak mau lagi dijajah, mereka menebang kayu-kayu di pinggir jalan ke arah jalan yang bertujuan menghambat lajunya pasukan Belanda ke Bangko dari Pemenang. Kota Bangko ketika itu di bumi hangus oleh rakyat Bangko. Jembatan Merangin ketika itu diputuskan dengan dynamit oleh Kapten H. Teguh dengan pasukannya, antara lain sersan Zainuddin Abbas putra terbaik Pulau Rengas yang pernah menjadi Ketua DPRD Kabupaten Sarko.

Pada  tanggal 27 Juli 1949, hari Rabu bertepatan dengan 1 Syawal (Hari raya Idhul Fitri), pagi hari tentara Belanda kembali menyerang kota Bangko dan satu orang rakyat sipil gugur karena dihunus oleh bayonet tentera Belanda di seberang Merangin. Kemudian pertempuran tidak terelakkanlagi,  maka terjadi pertempuran di Sungai Ulak, 4 orang dari pihak rakyat gugur, di antaranya:

  1. Ahmad (Rio Sungai Ulak)
  2. Rusli (Gerilyawan)
  3. Ibrahim (Gerilyawan)
  4. Mat Nabi (Gerilyawan)

Keempat korban ini akhir di pindahkan ke pemakaman Pahlawan Bangko. Pertempuran ini berlanjut ke Nalo dan Belanda berhasil menawan seorang Polisi bernama Muchtarum. Tentera Belanda di kota dipecah menjadi tiga kelompok, masing-masing kelompok menuju Ratau Panjang, Sungai Manau, dan Muara Siau. Perjuangan rakyat tidak henti-hentinya, meskipun hanya menebang pohon yang mengarak ke jalan, namun itu dihargai.

Kemudian markas S.T.D. dan Letnan Kolonel Abunjani pindah dari Muara Siau ke Tanjung Dalam (Kecamatan Jangkat) begitu pula pemerintahan Kabupeten Merangin M. Kamil beserta staf dan pemerintah Kewedanaan Bangko Mohd. Keras dan Mohd. Darwis ikut pindah. dari Tanjung Dalam inilah Letnan Kolonel Abunjani menyusun strategi untuk menyerang Belanda dengan taktik bergerilya untuk menghancurkan pertahanan Belanda bersama dengan rakyat untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia, rakyat tatkala itu telah bahu membahu mendukung perjuangan gerilya dengan memberi pasokan makanan, mereka mengorbankan harta, seperti; padi dan ternak mereka untuk disumbangkan demi kepentingan gerilya. Masyarakat Pangkalan Jambu di bawah kepemimpinan Pasirah Marah Ismail dan Rio Niti diacung jempol mengajak rakyatnya membantu pejuang kemerdekaan RI dengan menyumbangkan makanan, sehingga lumbung padi rakyat kering kerontang.

Akhirnya tanggal 31 Desember 1949 pemerintah Belanda menyerahkan kota Bangko  Wedana Hamid (TBA) kepada pemerintah RI yang diwakili Mohd. Keras.

(Sumber: Catatan kecil Zakaria Kasim)