Dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Jepang tahun 1945. Ir. Soekarno melakukan kunjungan ke daerah dan pelosok tanah air untuk mengajak tokoh masyarakat merapatkan barisan dan bersatu untuk melawan penjajahan Jepang yang kejam. Ir. Soekarno dari Bukittinggi menuju Jakarta menyempatkan diri singgah di Bangko dan beristirahat. Sebelum kedatangan Ir. Soekarno telah diterima sepucuk surat telegram dari Bukittinggi ke kantor Guntyo Bangko menyebutkan “bahwa Ir. Soekarno berangkat dari Bukittinggi menuju Jakarta akan bermalam di Bangko, supaya beliau diperhatikan dan diselamatkan,” maka tokoh masyarakat ketika itu telah mempersiapkan diri menyambutkan kedatangan beliau.

Keesokan harinya Ir. Soekarno tiba di Bangko dan beliau bermalam di rumah M. Saleh Kartomenggalo, malam harinya beliau didatangi oleh tokoh-tokoh masyarakat Bangko ketika itu, antara lain dr. Purwadi, Rd. Sudaryo, Mohd. Nazir, M.A. Mahjuddin, Rukmadi, Zainal Abidin, Pakih Manan, dan Abi Hasan. Malam itu juga mereka melakukan pertemuan dan Ir. Soekarno meminta tokoh masyarakat dihadiri oleh lima orang saja. Dalam pertemuan itu Ir. Soekarno menekankan supaya persatuan dan kesatuan diperkuat dan Indonesia pasti merdeka dan menanamkan jiwa kebencian terhadap penjajahan Jepang. Pada malam itu Ir. Soekarno sholat Isya di Masjid Raya Bangko, keesokan harinya Ir. Soekarno menuju Jakarta.

Setelah Ir. Soekarno meningkal Bangko, para pembela kemerdekaan dari kalangan pemuda lebih bersemangat dan meyakinkan orang-orang Indonesia pasti merdeka dan bermusuhan dengan Jepang. Kepala pemerintahan¬† Jepang (Sugimoto) di Bangko selalu memerintahkan pegawai-pegawai untuk berlatih dan bertani bersama-sama rakyat dengan memompakan semangat “Asia Timur Raya”. Perintah itu kurang mendapat sambutan, pegawai berlatih asal-asalan, seperti itu pula bertani karena hasil pertanian seperti; padi, jagung, dan ubi diambil oleh pemerintah Jepang, tindakan Jepang ini menambah perasaan permusuhan di kalangan masyarakat Bangko ketika itu. Di kala itu jika kedapatan masyarakat bersalah terhadap pemerintahan Jepang, mereka dipukuli oleh pihak Jepang dengan istilah mereka “bagero na,” sebagian dijemur di bawah terik matahari serta diikat di pagar.

Tindakan dan perilaku tentera Jepang itu mencipakan tumbuhnya jamur bak hari hujan, rasa kebencian terhadap Jepang, akhirnya kebencian itu tercium jua oleh tentera Jepang di Bangko bahwa rakyat telah membenci mereka, maka pemerintah (Sugimto) di Bangko mengeluarkan perintah “Abi Hasan dalam tempo 2 x 24 jam harus meninggalkan kota Bangko.”

Dengan sikap arogan tentera Jepang, pemuda-pemuda dengan sikap bahu membahu dalam satu wadah yang disebut (Bagodang) berlatih untuk membela tanah tumpah darah di bawah pimpinan polisi Syamsuddin Fajar dan Darwis Latief, menimal mampu menjaga keamanan kampung. Sebelum hari kemerdekaan Mohd. Syafei selaku anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan RI berkunjung ke Bangko dan meminta pada tanggal 1 Juni 1945 bendera Jepang dan bendera Merah Putih dikibarkan di lapangan muka Masjid Raya Bangko dengan upacara barisan pemuda Bangko, bendera Merah Putih disediakan oleh Abi Hasan. Setelah Proklamsi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, seluruh anggota Bagodang terhimpun dalam API (Angkatan Pemuda Indonesia).

(Sumber: Catatan kecil Zakaria Kasim)