Pada bulan Agustus 1945, setelah Amerika menjatuhkan bom di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan 9 Agustus 1945 Nagasaki yang berakibatkan tewasnya 90.000–146.000 orang di Hiroshima dan 39.000–80.000 di Nagasaki maka memaksakan Jepang menyerah pada Sekutu dan harus angkat kaki dari bumi jajahannya. Dengan bijak tentera Jepang memberi salam perpisahannya.

Demikian pula di kota Bangko ketika itu, pada bulan Agustus 1945 datanglah salah seorang pejabat Jebang yang bermarkas di Bukittinggi, bertindah sebagai Gunseikanbu ke Bangko untuk mengadakan rapat dengan tokoh masyarakat Bangko. Pejabat Jebang berpidato dalam bahasa Jepang yang diterjemahkan oleh Darwis Ibrahim, isi pidatonya adalah “bahwa perang ASIA TIMUR RAYA telah usai dan tentera Dai Nippon akan kembanli ke tanah air mereka, serta mengharap pemerintahan di sini berjalan seperti biasa sampai Sekutu datang, rakyat diharap tenang. Setelah rapat usai para tentera Jepang di Bangko dan orang yang mengerti serta dapat mengucap bahasa Jepang berkata “senso ware-senso ware.” artinya perang usai.

Ketika itu mobil angkutan umum yang menuju Padang, Medan, dan Aceh. Para penumpang meneriakkan kata-kata “merdeka-merdeka-merdeka.” dari mulut ke mulut orang-orang bercerita tentang Soekarno-Hatta telah memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Berita ini menjadi hangat di kalangan pemerintahan di kota Bangko. Abi Hasan mendesak dilakukan rapat kilat yang dipimpin R.Supirman yang dihadiri oleh:

  1. Mohd. Nazir Keishi (Mayor Polisi)
  2. Abi Hasan
  3. R. Sudaryo
  4. H. Ibrahim Opsir Giugun
  5. Zainal Abidin Pertanian
  6. R. H. Abd. Mutalib
  7. Ibrahim Sigaku (PS)

Keputusan rapat adalah menurunkan bendera Jepang dan menaikkan bendera Merah Putih, segera dikumpulkan pegawai negeri, swasta, polisi untuk menaikkan bendera Merah Putih dalam upaca bendera, pada waktu itu dilakukan oleh dua orang anggota polisi, salah satunya bernama Sairin Said berpangkat Junsa, apel bendera ini dilaksanakan di depan kator Guntyo (Kantor Wedana). Guntyo waktu itu R. Supirman bersama Mohd. Nazir (kepala Polisi Bangko) menginstruksikan kepala seluruh instansi untuk mengibarkan bendera Merah Putih.

(Sumber: Catatan kecil Zakaria Kasim)