Assalamualaikum Wr. Wb

 Beberapa alasan dalam memilih judul orasi ilmiah ini, antara lain;

  1. Sekolah bukanlah sarana membuat orang pintar,
  2. Sekolah tidak mampu menciptakan siswa bermoral,
  3. Sekolah tidak mampu menciptakan siswa berpengetahuan,
  4. Sekolah tidak menjamin seseorang masuk Surga dan Neraka,
  5. Sekolah tidak mampu membuat seseorang menjadi kaya atau miskin,
  6. Sekolah tidak mampu mencipta seseorang jadi presiden, menteri, gubernur, bupati, camat, dan kepala desa.

Mungkin hadirin menduga bahwa orasi saya ini ekstrim dan redikal, maka terlebih dahulu saya mohon maaf karena saya harus menyampaikan secara ilmiah di hadapan para hadirin. Paham ini sudah lama berkembang akan tetapi tidak mendapat tanggapan dari dunia pendidikan. Ternyata hari ini, apa yang disebut di atas telah didengar oleh dunia pendidikan yang bermula dari kritikan Ivan Illich terhadap pendidikan dengan bukunya “Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah,” demikian juga Poulo Praire dengan bukunya “Menggugat Pendidikan,” Bob Sodino atau Sadino Salim seorang konglomerat Indonesia yang telah wafat tgl 16 Desember 2015 lalu, juga mengkritisi pendidikan yang terlalu banyak belajar teori dan minim praktik dengan bukunya “belajar GOBLOK.”

Dalam pradigma baru pendidikan, belajar merupakan aktivitas yang dapat dilakukan di mana saja yang tidak tergantung pada tempat, waktu, dan kondisi. Belajar adalah mendapat pengetahuan melalui pengalaman, interaksi sosial, dan lingungan. Untuk menjadi seorang bupati tidak pernah dipelajari di sekolah, kenapa seseorang dapat jadi bupati? Jawabannya, lingkungan yang telah mendidiknya dan telah banyak memberi pembelajaran padanya, sehingga dia menjadi bupati. Apa kita lupa? Allah Ta’ala berfirman,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).

Perintah membaca adalah perintah membuka mata, hati, pikiran, dan tindakan kita dalam kehidupan supaya kita dapat memenuhi keperluan hidup di dunia. Alvin Toffler seorang tokoh teori gelombang II, mangatakan “siapa yang menguasai informasi maka dialah yang menguasai dunia,”

Firman di atas dapat ditafsirkan bahwa sekolah dan pendidikan bukanlah suatu institusi yang dapat mencintakan sim silabin tapi merupakan salah satu sarana dan prasarana untuk belajar dan membelajarkan peserta didik dengan pengalaman buatan dan manipulatif.

Pendidikan adalah upaya pendewasaan peserta didik yang dilakukan oleh guru-guru melalui bimbingan dan pergaulan. Kenyataan lapangan, guru bertindak otoriter atau memaksa kehendaknya sendiri, memberi materi dengan paksa dan menjejal peserta didik dengan kurikulum yang padat. Kemuakan peserta didik dengan pemaksaan ini dapat dilihat dengan perilaku mereka, seperti banyak bermain, tidak serius, dan ugal-ugalan.

Otak manusia bukanlah wadah yang dapat menampung sesuatu, tetapi otak manusia lebih tepat seperti pot berisi bunga, ia memerlukan perawatan dari pemilik, pagi dan sore perlu disirami air, pemberian pupuk, dan sebagainya. Peserta didik bukanlah orang bodoh, di dalam otaknya sudah ada pengetahuan, akan tetapi mereka belum mampu mengembangkan pengetahuannya, dia memerlukan contoh dan bimbingan untuk berkembang. Filosof Perancis bernama Rene De Cartes berkata Co gito ergo sum artinya “aku berpikir bahwa aku ada.” Dengan demikian, masih banyak orang tidak mengetahui “siapakah dirinya”, sehingga banyak orang berbuat dan bertindak di luar kemampuannya lantaran dia tidak mengetahui tentang “konsep diri”. Kemampuan berpikir seseorang merupakan hasil konstruksi individu dan pikiran seseorang bukan hasil konstruksi orang lain.

Seseorang dapat menjadi pintar, berpengetahuan, kaya, alim, dan menjadi gubernur tatkala proses kehidupannya menjadi pembelajaran yang dapat mengkonstruksikan dirinya menjadi dirinya sendiri.

Piaget (Gredler, 1991: 308-309) menyebutkan bahwa kecerdasan bukan sifat pribadi yang statis yang dapat dinilai secara kuantitatif. Kebalikannya, kecerdasan itu suatu proses yang terus berlangsung dan selalu berubah. Kecerdasan merupakan mekanisme dengannya individu berinteraksi dengan lingkungan pada suatu waktu tertentu dan suatu proses yang terus menerus membentuk dirinya sendiri. Kecerdasan, sebagaimana halnya sistem biologi, mengambil hal-hal dasar tertentu dari lingkungan dan membentuk struktur yang diperlukannya agar bisa berfungsi. Seperti halnya, intelegensi selalu aktif dan dinamis, sebab ia mencari penjelasan dan pengertian agar bisa membentuk dirinya sendiri dan juga berfungsi secara efektif.

Hakikat pengetahuan menurut Piaget (1970; 1971) (dalam Suparno, 1997: 18) mengatakan cukup lama diterima bahwa pengetahuan harus merupakan representasi (gambaran atau ungkapan) kenyataan dunia yang terlepas dari pengamatan (objektivisme). Pengetahuan dianggap sebagai kumpulan fakta. Namun akhir-akhir ini, terlebih dalam bidang sains, diterima bahwa pengetahuan tidak lepas dari subjek yang sedang belajar mengerti. Pengetahuan lebih dianggap sebagai suatu proses pembentukan (konstruksi) yang terus menerus, terus berkembang dan berubah. Konsep-konsep yang dulu dianggap sudah tetap dan kuat, seperti Hukum Newton dalam ilmu fisika, ternyata harus diubah karena tidak dapat lagi memberikan penjelasan yang memadai. Sejarah revolusi sains menunjukkan perubahan konsep-konsep pengetahuan yang penting. Semua pengetahuan adalah suatu konstruksi (bentukan) dari kegiatan/tindakan seseorang. Pengetahuan ilmiah itu berevolusi, berubah dari waktu ke waktu. Pemikiran ilmiah adalah sementara, tidak statis dan merupakan proses. Pemikiran ilmiah merupakan proses konstruksi dan reorganisasi yang terus menerus. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang ada di luar tetapi ada dalam diri seseorang, Piaget (dalam Suparno, 1997: 38).

Selanjutnya, Lev Vygotsky (dalam Arends, 2008: 47) percaya bahwa intelek berkembang ketika individu menghadapi pengalaman baru dan membingungkan dan ketika mereka berusaha mengatasi diskrepansi yang timbul oleh pengalaman-pengalaman ini. Dalam usaha menemukan pemahaman ini, individu menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya dan mengkonstruksi makna baru.

Diperkuat oleh Wadsworth dan Althouse (dalam Suparno, 1997: 40) bahwa pengetahuan ini muncul dalam kebudayaan tertentu maka dapat berbeda antar kelompok yang satu dengan yang lain. Pengetahuan sosial tidak dapat dibentuk dari suatu tindakan seseorang terhadap suatu objek, tetapi dibentuk dari interaksi seseorang dengan orang lain.

Prinsip konstruktivisme adalah inti dari filsafat pendidikan William James dan John Dewey. Konstruktivisme menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun (to construct) pengetahuan dan pemahaman. Menurut pandangan konstruktivis, guru bukan sekedar memberi informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengekplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis Brooks & Brooks (dalam Santrock, 2007: 8).

Menurut I Nyoman Degeng (1998: 27) konstruktivistik berangkat dari pengakuan bahwa orang belajar harus bebas. Hanya di alam yang penuh dengan kebabasan si belajar dapat mengungkap makna yang berbeda dari hasil interpretasinya terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata. Kebebasan menjadi unsur esensial dalam lingkungan belajar.

Pengetahuan sebagai proses dinyatakan oleh Piaget (dalam Gredler, 1991: 309) bahwa dalam penciptaan pengetahuan, individu dan objek luluh menjadi satu dan tidak dapat dipisahkan. Pengetahuan juga mengandung banyak komponen subjektif; maka dari itu, pengetahuan itu suatu hubungan dan bukan ketentuan apriori.

Lev Vygotsky yang dikenal kontruktivisme sosial mengatakan bahwa belajar adalah mendapatkan pengetahuan melalui pengalaman, interaksi sosial dan lingkungan (dalam Martinis Yamin, 2013: 26). Arends (2008: 47) menyebutkan bahwa teori-teori konstruktivis tentang belajar, yang menekankan pada kebutuhan pelajar untuk menginvestigasi lingkungannya dan mengonstruksikan pengetahuan yang secara personal berarti, memberikan dasar teoretis untuk PBL.

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa konstruktivisme dalam pendidikan berpandangan bahwa pengetahuan merupakan pembentukan (konstruksi) atas pemaknaan atau penafsiran dunia nyata dan ia terus berkembang dan berubah. Pengetahuan muncul dari suatu kebudayaan dan berbeda antara satu dan lainnya, kemudian pengetahuan bukanlah tercipta dari tindakan terhadap suatu objek tapi terbentuk dari interaksi sosial dan lingkungan.

Kesimpulan

Pradigma baru pendidikan bahwa pengetahuan adalah konstruksi dari kegiatan/tindakan seseorang yang terus menerus dan berevolusi, berubah dari waktu ke waktu. Pemikiran ilmiah adalah sementara, tidak statis dan merupakan proses. Pemikiran ilmiah merupakan proses konstruksi dan reorganisasi yang terus menerus. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang ada di luar tetapi ada dalam diri seseorang

Daftar Bacaan

 

al-Qur’an dan Terjemahannya, Surabaya: CV. Karya Utama Surabaya, 2000.

 

Arends, Richard I, Learning To Teach  (terjemahan), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.

 

Degeng, I Nyoman, Pidato Pengukuhan Guru Besar IKIP Malang, Malang, IKIP Malang, 1998.

 

Gredler, Margaret E. Bell, Belajar dan Membelajarkan (terjemahan), Jakarta: CV. Rajawali, 1991.

 

Santrock, John W, Psikologi Pendidikan (terjemahan), Jakarta:Prenada, 2007.

Suparno, Paul, Filsafat Konstruktivisme dalam pendidikan, Yogyakarta: Penerbit Kanisius,  2001.

 

Yamin, Martinis, Pradigma Baru Pembelajaran, Jakarta: Referensi, 2013.

* Dosen tetap Pascasarjana IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dan dosen Megister Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jambi