Para orang tua bangga atas prestasi anak-anaknya di bangku pendidikan, yaitu berhasil menyelesaikan pendidikan sebagaimana yang diharapkan orang tua. Katakanlah, anak-anak mereka berhasil menyelesaikan pendidikan tingkat Satrata Satu (S-1) dengan harapan dapat menjadi modal bagi sang anak untuk berkarir atau menapak kehidupan menuju hari esok yang lebih menjanjikan. Harapan ini hanya teruntuk tidak semua orang, persaingan ketat membuat sebagian orang kelu untuk bersaing, maklum keserjanaan yang diperoleh hanya dengan prestasi sedang-sedang saja atau tidak dibarengi dengan skill yang dibutuhkan saat ini. Akhirnya berprofesi tidak sesuai dengan spesialisasi mereka. Contohnya, sarjana kesehatan masyarakat bekerja di sebuah bank atau di perusahaan yang tidak memiliki hubungan dengan kesehatan, mereka menerima pekerjaan ini dengan alasan “tidak menjadi pengangguran”. Sikap mental dan dukungan orang tua serta bimbingan terhadap anak-anaknya dalam berprofesi sangat diperlukan, tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya secara moril tidak sebatas menyelesaikan pendidikan tetapi tanggung jawab moril hingga akhir hayat orang tua. Berikan suatu solusi atau pemecahan masalah pada anak-anak hingga mereka mencapai tujuan. Diskusi, kerjasama dan teladan akan mampu memecah kebuntuan anak-anak dalam membangun masa depannya.