Tulisan ini merupa catatan kecil yang ditulis oleh Zainuddin Radin tahun 1984.

Pada tahun 1949 seluruh Kota Kewedanaan dalam Keresidenan Jambi (Provinsi) Jambi sudah diduduki Belanda. Pasukan TNI mundur ke hulu karena desakan pasukan Berlanda ketika itu, dari hulu TNI melakukan perlawanan yang dibantu oleh rakyat. Pada tahun 1949 terjadi pertempuran sengit TNI dengan pasukan Belanda di Mandiangin dan TNI mendapat kesulitan dalam pertempuran karena terjadi banjir, daerah-daerah pertahanan digenangi air. Pasukan Belanda menguasai medan pertempuran karena mereka dilengkapi dengan kenderaan motor boot, mereka dengan mudah melakukan sarangan dan mendroping pasukan.Sementara,  Pasukan TNI dipimpin oleh Komandan STD. Letnan Kolonel Abunjani yang  dibantu oleh pasukan dari Sumatera Selatan dan dipimpin lansung oleh dr. Mohd. Isya selaku Gubernur Sumatera Selatan ketika itu dan Kolonel Simbolon memaksa mereka mundur ke arah hulu, yaitu ke  Bangko dan sekarang ibu kota Merangin.

Pasukan Belanda mengejar pasukan TNI ke Bangko, sebelum kedatangan pasukan Belanda, kota Bangko dibumi hangus, semua perkantoran, rumah, dan sekolah dibakar oleh TNI. Jembatan Merangin diputuskan dengan dynamit oleh kapten H. Teguh dengan pasukannya, diantaranya Zainuddin Abbas (Putera Pulau Rengas) yang pernah menjabat sebagai ketua DPRD Kabupaten Sarolangun Bangko.

Pasukan TNI di bawah Komandan STD. Letnan Kolonel Abunjani merik perjuangannya ke hulu lagi yaitu Muara Siau agar tidak dapat dijangkau oleh pasukan Belanda, seterusnya pindah ke Tanjung Dalam (Kecamatan Jangkat), begitupula pemerintahan Kabupaten Merangin di bawah kepimpinan bupati M. Kamil dan pemerintahan kewedanaan di bawah kepemimpinan Mohd. Keras dan Kepala Kepolisian ikut pindah ke Tanjung Dalam.

Tanjung Dalam merupakan markas Letnan Kolonel Abunjani untuk mengatur strategi dalam melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda dengan mengandalkan strategi bergerilya, upaya minimal melakukan sabotase dengan menghalangi lajunya pasukan Belanda dengan cara menebang kayu ke arah jalan dan merusak jalan dan jembatan. Hal ini dilakukan dengan cara bahu membahu oleh masyarakat Margo, terlihat sekali dukungan itu berupa bantuan yang diberikan kepada pejuang berupa sumbangan harta untuk membela kemerdekaan RI, masyarakat menyumbangkan ternak, harta, dan hasil tani untuk pejuang. Sumbangan masyarakat Margo Sungai Tenang, Margo Tiang Pumpung, Margo Dusun Tuo, Margo Batin IX Di Ulu, Margo Batin  IX Di Ilir, Margo Lubuk Gaung, Margo Ranah Pemarap, margo Tenah Renah, Margo Muaro Kibul, Margo Ulu Tabir, Margo Nalo Tantan, Margo Batin V Rantau Panjang, dan Margo Pangkalan Jambu.

Bulan Desember 1949 Wedana Mohd. Keras beserta stafnya menerima penyerahan pemerintahan dari pasukan Belanda.