Pendahuluan

  1. Pengertian pendidikan Islam

Pendidikan merupakan upaya sadar yang dilakukan oleh orang dewasa dalam pergaulannya terhadap anak didik menuju kedewasaannya (Langeveld, 1944 dalam Waini Rasyidin, 2007: 38). Sementara itu dalam literatur pendidikan Islam disebut dengan tarbiyah, ta’lim, ta’dib, dan al-radhah. Ramayulis (2006: 116-117) menjelaskan pengertian dari masing-masing istilah ini, sebagai berikut:

  1. Tarbiyah

Pertama, tarbiyah khalgiyah, yaitu penciptaan, pembinaan dan pengembangan jasmani peserta didik agar dapat dijadikan sebagai sarana bagi pengembangan jiwanya. Kedua, tarbiyah diniyah tahzibiyah, yaityu pembinaan jiwa manusia dan kesempurnaannya melalui petunjuk wahyu Illahi.

 

  1. Ta’lim

 

Ramayulis menyebutkan Rasyid Ridha mengutip (Tafsir al-Manar: 1337 H, 262) adalah proses tranmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Pemaknaan ini didasarkan atas Q.S. al-Baqarah tentang allama Tuhan kepada Adam AS. Lebih lanjut menurut al-Maraghi menyebutkan pengajaran dilakukan secara bertahap, sebagaimana Adam As. Mempelajari, menyaksikan dan menganalisa asma-asma yang diajarkan oleh Allah kepadanya. Menurut Ramayulis al-Ta’lim mencakup aspek kognitif belaka dan tidak bicara pada aspek lain.

 

  1. Ta’dib

 

Menurut Al-Naquib al-Attas (1988: 66), al-Ta’dib adalah pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu yang di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaannya. Ramayulis mengatakan pengertian ini didasarkan atas sabda Nabi Saw:

 

ادبــــني ربــــــى فـــاحســـن تــأديبى

Artinya :“Tuhanku telah mendidikku, sehingga menjadikan baik pendidikanku”.

  1. al-Riyadhah

 

Berikut ini Ramayulis, mengatakan bahwa al-Ghazali (dalam Bahreis,1981: 74) mengistilahkan dengan al-riyadhah. Baginya, al-riyadhah adalah proses pelatihan individu pada masa kakan-kanak.

 

Ahmad Tafsir (dalam Muhaimin, 2005: 6) membedakan antara pendidikan agama Islam (PAI) dan pendidikan Islam. PAI dibakukan sebagai nama kegiatan mendidikkan agama Islam. PAI sebagai mata pelajaran seharusnya dinamakan “Agama Islam,” karena yang diajarkan adalah agama Islam bukan pendidikan agama Islam. Nama kegiatannya atau usaha-usaha dalam mendidikkan agama Islam disebut sebagai pendidikan agama Islam. Kata pendidikan menurut Tafsir ada pada dan mengikuti setiap mata pelajaran. Dalam hal ini PAI sejajar atau sekatagori dengan pendidikan Matematika (nama mata pelajarannya Matematika), pendidikan Olahraga (nama mata pelajaran Olahraga), pendidikan Biologi (nama mata pelajaran Biologi) dan seterusnya. Sedangkan pendidikan Islam adalah nama sistem, yaitu sistem pendidikan yang Islami, yang memiliki komponen-komponen yang secara keseluruhan mendukung terwujudnya sosok Muslim yang diidealkan. Pendidikan Islam ialah pendidikan yang teori-teorinya disusun berdasarkan al-Qur’an dan hadis.

Berikutnya, Muhaimin (2005: 7) menyebutkan pendidikan menurut Islam atau pendidikan yang berdasarkan Islam, dan/atau sistem pendidikan yang Islami, yakni pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah/hadis. Dalam pengertian yang pertama ini, pendidikan Islam dapat berwujud pemikiran dan teori pendidikan yang mendasarkan diri atau dibangun dan dikembangkan dari sumber-sumber dasar tersebut.

Abdullah Nashih Ulwan (jilid I) (1981: 148) mengatakan bahwa mendidik secara Islam adalah sebagaimana Umar Ibnu ‘l-Khaththab ra. Mengirim  surat kepada penduduk Syam. Ia berkata kepada mereka di dalam suratnya itu: “Ajarkanlah renang, memanah dan menunggang kuda kepada anak-anakmu.” Pada bagian lain dijelaskan bahwa menuntut ilmu suatu kewajiban bagi setiap Muslim dan Muslimah, orang yang sengaja tidak menuntut ilmu atau mengajarkannyan itu diancam syara’ dengan siksaan, dan menyembunyikan ilmu yang bermanfaat itu akan dikekang pada hari kiamat dengan kekangan yang terbuat dari api neraka, maka apakah semua ini tidak menunjukkan bahwa Islam adalah suatu Din yang menjadikan menuntut ilmu dan mengajarkannya itu sebagai suatu kewajiban (279).

 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian pendidikan dalam Islam adalah bimbingan, pengarahan, latihan, dan pengajaran yang diberikan peserta didik agar mereka menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beakhlak mulia, dan mempergunakan pikiran pada jalan kebaikan. Pendidikan Islam yang teori-teori disusunkan berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah.

 

  1. Pengertian konstruktivisme

Konstruktivisme merupakan bagian dari filsafat yang mempertanyakan pengetahuan dan juga bagaimana kita mendapatkan sesuatu. Pertanyaan utama dari filsafat pengetahuan adalah (1) apakah pengetahuan itu, (2) bagaimana kita memperoleh pengetahuan, bagaimana kita tahu tentang sesuatu, (3) apakah kebenaran itu?” Bodner, Ryan & Cooper (dalam Suparno, 2001: 17).

Dalam dunia pendidikan umum telah terjadi pergeseran pradigma baru dari pradigma lama, yaitu berkembangnya aliran konstruktivistik yang menggarisbawahi bahwa pengetahuan dan perilaku manusia akan tubuh dalam dirinya seiring dengan pengalaman, interaksi sosial, interaksi dengan alam. Dengan perkembangan teknologi dan majunya perkembangan zaman akan menciptakan manusia yang maju pula.

Manakala ditelusuri ke belakang gagasan konstruktivisme sebenarnya dimulai oleh Giambastissta Vico, dia seorang epistimolog dari Italia. Dialah cikal bakal konstruktivisme (Suparno, 2001: 24). Berikutnya, pada tahun 1710, Vico dalam De Antiquissima Italorum Sapientia, mengungkapkan filsafatnya dengan berkata, “Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan.” Dia menjelaskan bahwa “mengetahui” berarti “mengetahui bagaimana membuat sesuatu”. Ini berarti bahwa seseorang itu baru mengetahui sesuatu jika ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu. Menurut Vico, hanya Tuhan sajalah yang dapat mengerti alam raya ini karena hanya Dia yang tahu bagaimana membuatnya dan dari apa Ia membuatnya. Sementara itu orang hanya dapat mengetahu sesuatu yang telah dikonstruksikannya (von Glasersfeld 1988 dalam Suparno, 2001: 24).

Selanjutnya (Bettercour 1989 dan Shapiro, 1994 dalam Suparno, 2001: 21) menjelaskan konstruktivisme tidak bertujuan mengarti realitas, tetapi lebih hendak melihat bagaimana kita menjadi tahu akan sesuatu. Boleh juga dikatakan bahwa “realitas” bagi konstruktivisme tidak pernah ada secara terpisah dari pengamat. Kemudian banyak bentuk kenyataan dan masing-masing tergantung pada kerangka dan interaksi pengamat dengan objek yang diamati. Dalam kerangka pemikiran ini, bila kita bertanya, “Apakah yang kita ketahui itu memang sungguh kenyataan yang ada?, kaum konstruktis akan menjawab, “Kami tidak tahu, itu bukan urusan kami.”

Pandangan ini menjelaskan bahwa pengetahuan lebih menunjuk pada pengalaman seseorang akan dunia daripada dunia itu sendiri. Tanpa pengalaman itu, seseorang tidak dapat membentuk pengetahuan. Pengalaman tidak harus diartikan sebagai pengalaman fisik, tetapi juga dapat diartikan sebagai pengalaman kognitif, mental, dan spritual.

  1. Pembahasan
  2. Tujuan pendidikan Islam

 

Tujuan pendidikan Islam secara umum telah digaris dalam al-Quran:

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya:Wahai Tuhan kami! Anugrahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari api neraka.” (QS. al-Baqarah: 201)

Ayat di atas merupakan doa’ yang dimunajatkan oleh setiap individu umat Islam kepada Allah. Dengan harapan Allah mengabulkan permintaan hambaNya, maka seseorang mengkonstruksikan pikiran dan tenaganya untuk berkarya. Hasil usaha dari konstruksi merupakan wujud dari doa’ yang diharapkan. Selanjutnya, Allah tidak memberikan sesuatu di luar kemampuan seseorang. Hasil yang diterima sesuai dengan apa yang diusaha seseorang. Dengan demikian, manusia mengkonstruksi sendiri hasil usaha yang diperdapatnya (Q.S. al-Baqarah: 286).

Kecapaian seseorang akan tujuan seseorang dalam hidupnya, sudah ditegaskan Allah dalam firmanNya bahwasanya Allah tidak akan meng-ubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu meng-ubah nasibnya atau mengkonstrusksi sendiri (Surat Ra’ad ayat 11).

Pendidikan menurut al-Ghazali (dalam Suwito, 2005: 83) bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagaimana tujuan penciptaan manusia yang termaktub dalam QS. Al-Dzariyat: 56. Syamsul Nizar (2002: 87) menyebutkan bahwa tujuan pendidikan ini dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu: (1) Tujuan mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata untuk ilmu pengetahuan itu sendiri sebagai wujud ibadah kepada Allah SWT; (2) Tujuan utama pendidikan Islam adalah pembentukan akhlaq al-karimah; (3) Tujuan pendidikan Islam adalah mengantarkan peserta didik mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sabda Rasulullah SAW (dalam Ramayulis, 2006: 113-114), artinya “Sesungguhnya aku diutus adalah untuk membentuk akhlak mulia.” (HR. Bukhari). Kemudian dipertegaskan dalam sabda berikutnya: “Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.

 

Omar Muhammad Al-Thoumy Al-Syaibany (1979: 436) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam memiliki empat ciri pokok yang menonjol yaitu:

  1. Sifat yang bercorak agama dan akhlak
  2. Sifat komprehensif yang mencakup segala aspek pribadi pelajar (subjek didik), dan semua aspek pengembangan dalam masyarakat.
  3. Sifat keseimbangan, kejelasan, tidak adanya pertentangan antara unsur-unsur dan cara pelaksanaannya.
  4. Sifat realistik dan dapat dilaksanakan, penekanan dan perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku dan pada kehidupan, memperhitungkan perbedaan-perbedaan perorangan diantara individu, masyarakat dan kebudayaan dimana-mana dan kesanggupan untuk berubah dan berkembang bila diperlukan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah taqarrub kepada Allah. Pendidikan Islam secara keseluruhan bertujuan membentuk kepribadian seseorang agar menjadi “insan kamil“ dengan pola taqwa. Insan kamil artinya manusia utuh rohani dan jasmani, dapat hidup dan berkembang secara wajar, dan normal karena taqwanya kepada Allah SWT. Ini mengandung arti bahwa pendidikan Islam itu di harapkan menghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya dan masyarakatnya, serta senang dan gemar mengamalkan dan mengembangkan ajaran Islam.

 

 

  1. Pendidikan Islam tentang potensi

Manusia dalam pendidikan Islam orang bertanggung jawab atas keberlangsungan pendidikan untuk dirinya dan keluarga,  sebagaimana (Q.S. at-Tahrim: 6). Abdullah bin Abbâs Radhiyallahu anhu berkata, “Lakukanlah ketaatan kepada Allâh dan jagalah dirimu dari kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allâh, dan perintahkan keluargamu dengan dzikir, niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menyelamatkanmu dari neraka”. (Sumber: https://almanhaj.or.id/4126).

  1. Mahsyur Amin (1992: 208) mengatakan dalam sebuah bukunya, bahwa “Allah mengistimewakan manusia dengan akal, kesanggupan membedakan dan kesanggupan menerima ilmu pengetahuan dan berbagai pengetahuan serta membuat gagasan-gagasan yang menjadikannya mampu menguasai alam wujud. Akal salah satu kemampuan yang dimiliki oleh manusia, ia akan mampu dikembangkan. Penulis pernah mengatakan dalam tulisan terdahulu, bahwa akal “ibarat mata pisau, untuk menajamnya maka ia harus diasah oleh pemiliknya”, sama halnya dengan kemampuan yang dimiliki oleh anak manusia, jika ia selalu diasah, dilatih, dan dimaksimalkan maka kemampuan akan lebih baik, demikian sebaliknya akal yang tidak dipergunakan secara maksimal ia akan tumpul dan tidak tajam dalam berpikir.

Perintah berpikir banyak menjelaskan pada fenomena alam. Di dalam Al Quran, disebutkan kata Langit 304 kali, Bumi 427 kali, Manusia 402 kali, Gunung 57 kali, Laut 49 kali, Siang 53 kali, dan Malam 99 kali. Sedangkan mengenai ibadah : Shalat 92 kali, Puasa 13 kali, Zakat 35 kali, Haji 21 kali. Ini membuktikan bahwa Allah menyuruhkan manusia untuk berpikir atau menggunakan akal. Kemudian, (Q.S. al-Mujadalah: 11) Allah berfirman “Allah meninggikan baeberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang berirman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan).dan ALLAH maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Kemampuan azasi yang dipunyai manusia adalah kemampuan beragama, sebagaimana firmanNya (Q.S. Ar-Rum: 30), menyebutkan bahwa “manusia memiliki kemampuan beragama yang diperintahkan oleh Allah, merupakan agama yang hanif dan tidak dapat disanggah bahwa itu merupakan ciptaan Allah.” Ternyata banyak manusia tidak mengikuti perintah Allah, hal ini membuktikan bahwa kompetensi atau kemampuan memerlukan konstruksi dari pengalaman, interaksi sosial, dan lingkungan (orang tua, keluarga, dan masyarakat).

Ramayulis (2006: 29) menyebutkan firman Allah …Bukankah Aku ini Tuhanmu?” (Mereka (roh) menjawab: “Betul (Engkau Tuhan Kami), kami menjadi saksi” (Q.S. al-A’raf: 7) dan Ramayulis menjelaskan lebih lanjut, bahwa fitrah manusia adalah mempercayai adanya Allah SWT sebagai Tuhan. Fitrah manusia percaya kepada Tuhan berarti manusia mempunyai potensi aktualisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri manusia yang harus dipertanggungjawabkan sebagai amanah Allah dalam bentuk ibadah. Ibadah juga merupakan tujuan manusia diciptakan.

Telah menceritakan kepada kami [Hajib bin Al Walid] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Harb] dari [Az Zubaidi] dari [Az Zuhri] telah mengabarkan kepadaku [Sa’id bin Al Musayyab] dari [Abu Hurairah], dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi. (Sumber: http://www.mutiarahadits.com/contact.htm)

Lebih lanjut, fiman Allah (Q.S. Ali Imran: 19) “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan Islam. Allah telah memberi potensi akal, agama, dan lain-lainnya kepada hambaNya, akan tetapi mengembangkan potensi itu sangat terkait dengan pengetahuan, pengalaman, dan interaksi sosial dan lingkungan individu itu sendiri.

  1. Konstruktivisme dan implikasi dalam pendidikan

Piaget (Gredler, 1991: 308-309) menyebutkan bahwa kecerdasan bukan sifat pribadi yang statis yang dapat dinilai secara kuantitatif. Kebalikannya, kecerdasan itu suatu proses yang terus berlangsung dan selalu berubah. Kecerdasan merupakan mekanisme dengannya individu berinteraksi dengan lingkungan pada suatu waktu tertentu dan suatu proses yang terus menerus membentu dirinya sendiri. Kecerdasan, sebagaimana halnya sistem biologi, mengambil hal-hal dasar tertentu dari lingkungan dan membentuk struktur yang diperlukannya agar bisa berfungsi. Seperti halnya, intelegensi selalu aktif dan dinamis, sebab ia mencari penjelasan dan pengertian agar bisa membentuk dirinya sendiri dan juga berfungsi secara efektif.

Hakikat pengetahuan menurut Piaget (1970; 1971) (dalam Suparno, 1997: 18) mengatakan cukup lama diterima bahwa pengetahuan harus merupakan representasi (gambaran atau ungkapan) kenyataan dunia yang terlepas dari pengamatan (objektivisme). Pengetahuan dianggap sebagai kumpulan fakta. Namun akhir-akhir ini, terlebih dalam bidang sains, diterima bahwa pengetahuan tidak lepas dari subjek yang sedang belajar mengerti. Pengetahuan lebih dianggap sebagai suatu proses pembentukan (konstruksi) yang terus menerus, terus berkembang dan berubah. Konsep-konsep yang dulu dianggap sudah tetap dan kuat, seperti Hukum Newton dalam ilmu fisika, ternyata harus diubah karena tidak dapat lagi memberikan penjelasan yang memadai. Sejarah revolusi sains menunjukkan perubahan konsep-konsep pengetahuan yang penting. Semua pengetahuan adalah suatu konstruksi (bentukan) dari kegiatan/tindakan seseorang. Pengetahuan ilmiah itu berevolusi, berubah dari waktu ke waktu. Pemikiran ilmiah adalah sementara, tidak statis dan merupakan proses. Pemikiran ilmiah merupakan proses konstruksi dan reorganisasi yang terus menerus. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang ada di luar tetapi ada dalam diri seseorang, Piaget (dalam Suparno, 1997: 38).

Selanjutnya, Lev Vygotsky (dalam Arends, 2008: 47) percaya bahwa intelek berkembang ketika individu menghadapi pengalaman baru dan membingungkan dan ketika mereka berusaha mengatasi diskrepansi yang timbul oleh pengalaman-pengalaman ini. Dalam usaha menemukan pemahaman ini, individu menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya dan mengkonstruksi makna baru.

Diperkuat oleh Wdsworth dan Althouse (dalam Suparno, 1997: 40) bahwa pengetahuan ini muncul dalam kebudayaan tertentu maka dapat berbeda antar kelompok yang satu dengan yang lain. Pengetahuan sosial tidak dapat dibentuk dari suatu tindakan seseorang terhadap suatu objek, tetapi dibentuk dari interaksi seseorang dengan orang lain.

Prinsip konstruktivisme adalah inti dari filsafat pendidikan William James dan John Dewey. Konstruktivisme menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun (to construct) pengetahuan dan pemahaman. Menurut pandangan konstruktivis, guru bukan sekedar memberi informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengekplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis Brooks & Brooks (dalam Santrock, 2007: 8).

Menurut I Nyoman Degeng (1998: 27) konstruktivistik berangkat dari pengakuan bahwa orang belajar harus bebas. Hanya di alam yang penuh dengan kebabasan si belajar dapat mengungkap makna yang berbeda darti hasil interpretasinya terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata. Kebebasan menjadi unsur esensial dalam lingkungan belajar.

Pengetahuan sebagai proses dinyatakan oleh Piaget (dalam Gredler, 1991: 309) bahwa dalam penciptaan pengetahuan, individu dan objek luluh menjadi satu dan tidak dapat dipisahkan. Pengetahuan juga mengandung banyak komponen subjektif; maka dari itu, pengetahuan itu suatu hubungan dan bukan ketentuan apriori.

Lev Vygotsky yang dikenal kontruktivisme sosial mengatakan bahwa belajar adalah mendapatkan pengetahuan melalui pengalaman, interaksi sosial dan lingkungan (dalam Martinis Yamin, 2013: 26). Arends (2008: 47) menyebutkan bahwa teori-teori konstruktivis tentang belajar, yang menekankan pada kebutuhan pelajar untuk menginvestigasi lingkungannya dan mengonstruksikan pengetahuan yang secara personal berarti, memberikan dasar teoretis untuk PBL.

Pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa konstruktivisme dan implikasi dalam pendidikan menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan pembentukan (konstruksi) yang terus menerus, terus berkembang dan berubah. Pengetahuan bukan bentukan dari luar diri seseorang tetapi merupakan bentukan (konstruksi) dalam diri sendiri. Kemudian, pengetahuan merupakan produk dari berpikir seseorang dan pengalaman nyata dalam kehidupan serta interaksi dengan masyarakat sekitar dan lingkungannya .

  • Kesimpulan
  1. Tujuan pendidikan Islam mengkonstruksikan (1) ilmu pengetahuan sebagai perwujudan ibadah kepada Allah, (2) berakhlak mulia, (3) kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
  2. Pendidikan Islam mendorongkan penggunaan akal dengan maksimal agar manusia mampu mengkonstruksi diri menjadi manusia yang sempurna di atas bumi serta mengkonstruksi dirinya dengan pengetahuan, dengan itu Allah berjanji mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan.
  3. Konstruktivisme dan implikasi dalam pendidikan menunjukkan bahwa pengetahuan adalah konstruksi dari kegiatan/tindakan seseorang yang terus menerus dan berevolusi, berubah dari waktu ke waktu. Pemikiran ilmiah adalah sementara, tidak statis dan merupakan proses. Pemikiran ilmiah merupakan proses konstruksi dan reorganisasi yang terus menerus. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang ada di luar tetapi ada dalam diri seseorang. Jadi pengetahuan merupakan produk dari pengalaman seseorang yang pada akhirnya menciptakan seseorang cerdas dan menjadi dirinya sendiri.
  4. Daftar Bacaan

 

al-Qur’an dan Terjemahannya, Surabaya: CV. Karya Utama Surabaya, 2000.

 

Al-Attas, Muhammad al-Naquib, Pendidikan Dalam Islam, Bandung: Mizan, 1988.

 

Amin, M. Mahsyur, Pengantar ke arah Metode Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Agama Islam, Yogyakarta, P3M IAIN Sunan Kalijaga, 1992.

 

Ali, Muhammad, Ali, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bandung: Pedagogiana Press, 2007.

 

Al-Syaibany, Omar Muhammad Al-Thoumy, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979).

 

Arends, Richard I, Learning To Teach  (terjemahan), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.

Bahries, Hussein, Ajaran-Ajaran Akhlak Imam al-Ghazali, Surabaya: 1981.

 

Degeng, I Nyoman, Pidato Pengukuhan Guru Besar IKIP Malang, Malang, IKIP Malang, 1998.

 

Gredler, Margaret E. Bell, Belajar dan Membelajarkan (terjemahan), Jakarta: CV. Rajawali, 1991.

Yamin, Martinis. Pradigma Baru Pembelajaran, Jakarta: Referensi, 2013.

Yamin, Martinis. Pradigma Pendidikan Konstruktivistik, Jakarta: Penerbit Gaung Persada Press, 2008.

Muhaimin, Mengembangkan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Rajawali Press, 2005.

 

Nizar, Samsul. Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Pers, 2002.

 

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2006.

 

 

Santrock, John W, Psikologi Pendidikan (terjemahan), Jakarta:Prenada, 2007.

Suparno, Paul, Filsafat Konstruktivisme dalam pendidikan, Yogyakarta: Penerbit Kanisius,  2001.

 

Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Jakarta: Prenada Media Kencana, 2005.
Yamin, Martinis, Pradigma Baru Pembelajaran, Jakarta: Referensi, 2013.

 

[1] Dosen FITK dan Pascasarjana IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi