Kenapa masyarakat kita monoculture? Kenapa tidak ada upaya lain dalam melakukan pertanian? Pertanyaan ini muncul diakibat oleh rendah harga komoditi karet saat ini. Memang diakui bahwa sebagian masyarakat sudah banyak yang bertani kelapa sawit, bila dibanding dengan petani karet, belumlah sebanding. Alasan masyarakat bertani karet klasik yaitu; pengurusannya tidak ruwet/susah, dua tahun dirawat secara rutin maka akan pasti kebon itu akan berhasil, pembersihan berikutnya cukup dilakukan 2 kali setahun hingga karet berumur 6 tahun. Karet-karet ini dikelola secara tradisional, banyak masyarakat memiliki kebon karet lebih 2 ha akan tetapi belum cukup mensejahterakan petani karena karet yang ditanam adalah dari bibit tidak unggul serta tidak dirawat secara telaten. Sekarang apa upaya pemerintah mensejahterakan masyarakat petani karet di kabupaten Merangin? Jika masyarakat diharapkan mengganti pokok karetnya dengan karet unggul atau diremajakan, lain tidak pohon karet sebelumnya harus ditumbangkan, akan menjadi dilema karena mereka memenuhi kehidupan dari betani karet tradisional. Solusi lain, adalah mengajak masyakat bertani hortikultura dan memberi kepercayaan kepada masyarakat bahwa bertani dengan pola ini akan menjanjikan karena hasil diperlukan oleh masyarakat sehari-hari. kabupaten Merangin tergolong dengan tanah yang subur dan cocok untuk ditanamkan dengan sayur-mayur serta buah-buahan. Tatkala pertanian ini sudah menghasilkan maka kebon-kebon karet diremajakan serta mereka dibimbing secara pertanian moderen, artinya; karet itu dirawat, dipupuk, dan dijaga dari hama-hama yang mengakibat produksi tidak berhasil. Tentulah hal ini sudah menjadi perencanaan pemerintah, akan tetapi sebatas perencanaan dan belum ada action. Kapankah dilaksanakan? Allahu ‘alam.